Question

Question
Renungan



Sayup-sayup suara adzan mulai terdengar, gelap malam mulai sedikit memudar, pertanda fajar segera berpendar. Dino masih terjaga di teras depan, sedangkan Arinta sudah terlelap dalam posisi duduk, letih sehabis menumpahkan tangisnya. Dino sebenarnya sudah meminta Arinta untuk tidur di kamar, namun Arinta bersikukuh ingin tidur di kursi.


Mata Dino terlihat bening. Tatapannya tajam memandang cakrawala. Ia menyusup ke dalam hatinya dan berbicara dengan dirinya sendiri. Merenungi kejadian-kejadian buruk yang terus datang menimpanya. Sebelum kabar Pak Abdul ini, Dino sudah dibuat gelisah dengan berubahnya sikap Kania. Kania masih membalas pesan atau panggilannya, namun Dino tidak menemukan kehangatan di setiap balasan tersebut. Kania menjadi dingin kepadanya.


Dino memahami betapa kecewanya Kania setelah ia tidak bisa berjanji untuk dapat hadir di wisudanya. Dino memahami juga betapa inginnya Kania dirinya bisa hadir di wisudanya, sebuah momen membahagiakan dalam hidup Kania, dan Kania sangat ingin seorang yang ia cinta turut merayakannya. Untuk itu, Dino ingin segera membawa Pak Abdul kembali ke Jakarta agar bisa menghadiri wisuda Kania. Namun, cerita Arinta tadi telah membuatnya berpikir ulang terhadap segala hal.


Ia merasa kembali disudutkan oleh pilihan-pilihan yang rumit, di mana ketika ia memilih salah satunya, ia juga turut merelakan pilihan lain. Pilihan-pilihan yang semuanya penting dalam hidupnya. Pilihan-pilihan yang berkaitan dengan orang-orang yang ia cinta. Waktunya tinggal dua minggu lagi dan ia masih belum menemukan pilihan mana yang harus ia jalani. Siapa yang harus ia korbankan dan merasakan keegoisannya.


Tuhan, bantu aku, hati Dino bergumam lirih.


Cahaya matahari mulai memudarkan sang malam. Sinarnya berpendar membangunkan suara-suara jagad raya. Bau sejuk embun bertebaran di udara, melegakan setiap napas yang menghirupnya. Riuh kokok ayam dan cuitan burung terdengar bersahutan-sahutan, seakan menambah harmonisasi gerak semesta. Seandainya hidup manusia bisa sesederhana alam berjalan, batin Dino berbisik.


Suara kokok ayam dan cuitan burung membangunkan Arinta. Arinta meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidur dalam posisi duduk. Ia menoleh ke samping dan melihat Dino yang masih terpaku dalam diam. Wajahnya tampak tegang dan suram, membuat dirinya segan untuk menyapanya. Arinta tahu, Dino sedang berada dalam situasi dilematis. Namun, ia tidak bisa memberi pendapat. Setiap manusia mempunyai pilihan-pilihannya masing-masing yang sulit dimengerti oleh orang lain. Seperti dirinya, yang harus memilih bekerja ke kedalaman Kalimantan dan merelakan rindunya hangatnya suasana rumah dan sebuah keluarga. Yang tidak dapat Dino atau Pak Abdul mengerti.


Arinta masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Dino. Ia hendak membangunkan orang-orang, baru setelah itu meminta Dino bersiap. Teriakannya mulai menggema ruangan, memekikan telinga orang-orang yang mendengarnya. Orang-orang langsung bangun dan menyelesaikan berkemasnya, sembari menunggu antrian mandi.


“Udah bangun dia, malah belum tidur. Tuh ada di teras,” jawab Arinta sambil mendelikan matanya ke teras.


“Yaudah lo suruh berkemas deh,” pinta kembali rekan volunteer itu.


“Lo aja ah, gue mau mandi,” jawab Arinta ketus.


“Ah lo aja Rin, gue lagi rada segan sama Dino. Apa ya, lagi kayak ada pikiran dia. Lo aja ya please,” pinta kembali rekan volunteer tersebut sambil memelas.


“Emang. Dan emang lo aja yang segan, gue juga kali,” jawab Arinta dengan kembali ketus. Ia memang segan menyuruh Dino berkemas. Ada sebuah rasa bersalah dalam dirinya, karena ucapan dialah Dino semakin depresi.


Di tengah perdebatan tersebut, Dino tiba-tiba masuk ke kamar. Arinta dan rekan volunteer itu seketika terdiam.