
Jemari Kania mengetuk layar ponselnya dengan cepat. Kania seperti kesurupan, tidak henti-hentinya mengirim pesan. Si penerima pesan juga tidak kalah cepat merespon Kania. Dering tanda notifikasi pesan masuk terus berbunyi. Pengirimnya adalah Arman. Sesekali Kania tersenyum membaca pesan dari Arman.
Kamu belum tidur, nanti keriput loh, ledek Arman.
Ihh. Mas tuh yang seharusnya tidur, kan Mas udah tua, balas Kania.
Enggak, aku masih muda -_-
Masaa? Seleranya musiknya aja tua, Kania membalas ledekan Arman.
Mau bukti, aku ke rumah sekarang ya, tantang Arman.
Coba kalau berani, awas kalau bohong, aku gak mau ketemu lagi!, respon Kania membalas tantangan Arman. Kania tidak sungguh-sungguh berujar demikian.
Tunggu, balas Arman.
Omong kosong pikir Kania. Kania tidak yakin Arman akan benar-benar ke rumahnya. Sekarang sudah pukul 01.00 WIB dan besok adalah hari kerja. Sebagai seorang yang dewasa tentu Arman tidak akan bertingkah kekanakan.
Bercanda Mas, balas Kania. Kania menunggu balasan Arman.
Mas, serius, aku bercanda, Arman masih belum membalas. Keyakinan Kania mulai goyah. Terbesit dalam benaknya Arman benar-benar akan ke rumah. Jika itu benar, ia tidak tahu harus mengatakan apa ke orang tuanya yang tengah tidur. Bagaimana jika nanti mereka terbangun dan melihat anaknya dikunjungi pria yang tidak mereka kenal selarut ini. Jika itu Dino, mungkin mereka masih bisa mengerti.
Mungkin Mas Arman tidur atau tengah mengerjakan sesuatu, Kania mencoba berpikir positif. Ia kemudian bangkit dari kasur, lalu membuka laptopnya, menatap bab 4 yang sedikit lagi selesai.
Tepat satu jam percakapannya berakhir dengan Arman, ada suara mobil yang sepertinya berhenti di depan rumahnya. Jantung Kania berdegup cepat, kali ini ia benar-benar yakin jika Arman datang ke rumah. Muka Kania tampak panik, pikirannya seketika blank, ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi tak lama, suara mobil itu kembali berbunyi dan terdengar berjalan. Kania bernapas lega mendengar hal tersebut. Ia bersyukur bukan Arman yang datang.
Dering ponselnya berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk. Kania segera mengambil ponselnya. Ada pesan dari Arman. Dengan tergesa, ia membuka pesan tersebut.
Sekarang buka pintu kamu, aku udah buktikan. Dan kamu berhutang janji ketemu ya, tulis Arman dalam pesannya.
Kania seketika meletakan ponselnya dan mulai berlari ke pintu depan rumahnya. Kosong. Tidak ada Arman di sana, hanya ada kotak merah yang berisi cokelat tergeletak di lantai. Keringat menetes dari dahi Kania. Wajahnya berubah pucat. Pikirannya mencoba mencerna semua ini. Jadi mobil yang tadi ia dengar benar-benar mobil Arman. Dia benar-benar sudah ke sini.
Tangan Kania bersandar di dinding, berusaha menjaga keseimbangan setelah sebelumnya nyaris rubuh. Kejadian ini sudah pernah ia rasakan. Hadiah dan kejutannya benar-benar sama. Dino pernah diam-diam ke rumah Kania larut malam, meletakan sekotak cokelat berwarna merah lalu pergi. Kania baru mengetahuinya pagi hari ketika Kania bangun dan membaca pesan Dino. Saat itu, bukan main senangnya Kania melihat Dino yang pasif tiba-tiba melakukan sesuatu yang romantis. Ingatan tentang Dino seketika memenuhi diri Kania, ingatan yang sebelumnya terus ia tampik.
Rindu tidak bisa lagi ia tahan, rindu kembali datang menderanya. Rindu datang bersama rasa bersalah Kania karena telah mendiami Dino.