
Hujan baru berhenti ketika matahari perlahan menjelang tenggelam. Terdengar lantunan ayat suci yang berasal dari pengeras suara di beberapa masjid sekitar kos Kania. Kania menyusuri jalan perlahan menuju warung nasi langganan ia dan Saras jika sedang makan siang di kos Saras. Perutnya terasa perih sedari tadi, karena sedari siang ia belum makan. Tadi ia mencoba menanak nasi untuk pertama kalinya. Namun gagal, nasinya malah tampak seperti bubur. Lagipula ia baru sadar, untuk apa ia menanak nasi jika tidak memiliki lauk. Sayangnya Saras tidak mewarisi Kania kompor karena memang Saras tidak pernah memilikinya. Ia teringat dulu ia suka tertawa jika Saras merebus mie instan menggunakan penanak nasi dan menjadikan mie instan tersebut bertekstur sangat lembut dan mengembang. Kania berpikir sepertinya ia harus membeli kompor kecil supaya bisa lebih berhemat.
Tapi ia harus memutar otak, sebentar lagi saatnya ia membayar kos, dan uang saku bulanan yang diberikan kedua orang tuanya hanya cukup untuk membayar kos – mungkin menyisakan sisa sedikit, tetapi tidak mungkin jumlah tersebut dapat membeli kompor. Dahi Kania berkerut, kepalanya terasa pening memikirkan bagaimana ia memeroleh kerja agar mempunyai pemasukan.
Di sekitarnya, tampak beberapa mahasiswa lalu lalang yang kemungkinan besar hendak kembali ke kamar kosnya masing-masing. Ia bergidik geli, dulu sewaktu awal kuliah ia ingin sekali mengekos. Sayangnya orang tuanya tidak mengizinkan. Anehnya ketika sudah lulus sekarang ini baru mendapat kesempatan mengekos.
Kania sampai ke warung nasi. Di dalamnya tampak seorang wanita sedang asik menggoreng sesuatu dan beberapa mahasiswa dan pengendara ojek daring sedang asik menyantap hidangan di hadapannya. Begitu Kania masuk, mereka reflek berhenti dan menatap Kania. Heran melihat wajah secantik Kania mau makan di warung nasi biasa. Kania bersikap acuh, meski sebenarnya ia suka jengkel jika ditatap seperti sekarang.
“Ibu,” sapa Kania kepada Ibu pemilik warung yang tengah meletakan panganan ke etalase kaca bening. Perut Kania semakin bergejolak meminta untuk diisi setelah menghirup sedapnya pelbagai panganan yang terhidang.
“Eh Non Kania, apa kabar Non, udah lama enggak kelihatan,” balas Ibu pemilik warung dengan akrab.
“Baik Bu. Iya dong kan sekarang aku sudah lulus,” tanggap Kania dengan nada yang akrab.
“Oh bareng sama Saras ya berarti. Selamat ya Non,” ucap Ibu pemilik warung sumringah.
“Sekarang udah kerja dong, dimana?” lanjutnya dengan antusias.
“Masih nganggur Bu,” jawab Kania pelan.
Mahasiswa yang entah sengaja atau tidak menguping pembicaraan Kania seketika tersenyum hendak menahan tawanya. Kania menatap tajam sinis mereka, wajahnya berubah amat gusar. Yang ditatap menundukan wajah, mengalihkan mata mereka ke hidangan di hadapannya.
“Hmm,” Ibu pemilik warung berdeham. “Sabar ya Non, cari kerja sekarang memang susah. Tapi jangan sampai patah semangat,” lanjut Ibu pemilik warung menyemangati Kania.
“Iya Bu,” Kania tersenyum haru melihat Ibu pemilik warung yang sangat perhatian kepadanya. Miris juga sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, memang keadannya sekarang ya seperti ini.
“Ini Non pesan seperti biasa?” tanya Ibu pemilik warung mengalihkan topik tadi.
“Iya dong,” jawab Kania semangat. Ibu pemilik warung menaruh nasi, tumisan usus dan kerang, dan hati dan rempela yang dibalur dengan sambal.
Suatu kombinasi yang tidak sehat secara medis tapi Kania tidak peduli mengingat betapa enaknya semua jeroan tersebut.