
Arman menunjukkan ponselnya kepada Kania. Terpampang percakapan terakhir Arman dengan Larisa yang masih ia simpan.
*Man. Terima kasih banyak atas segala yang kau lakukan selama ini. Kau membuatku hidup, kau mewarnai hariku yang selalu tertutup kabut pekat seolah aku adalah manusia yang tidak pantas bahagia.
Maafkan aku yang hadir dalam hidupmu. Aku yang membuatmu di jalan penuh duri dan duka, padahal kau pantas menikmati cinta yang bahagia. Namun memang nasib suka sekali mempermainkan hidup manusia. Sekali lagi maaf. Maaf juga aku pergi tanpa pamit, aku tidak bisa pamit darimu, tidak bisa melihat air matamu. Kau adalah hal terindah yang pernah aku dapatkan.
Jangan mencari aku Man. Keinginanmu hanya akan membuatmu semakin terluka. Lupakan saja aku. Aku berdoa kamu mendapatkan wanita yang baik, tidak sepertiku. Sungguh beruntung wanita itu jika ia mendapatkan cintamu. Selamat tinggal, Arman. Kekasihku*.
Kania menutup mulutnya. Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir dari matanya yang sudah sangat mengembang.
***
Malam semakin larut, pengunjung sudah mulai pergi dari kafe Agape. Para karyawan mulai menyicil merapikan peralatan untuk digunakan kembali besok. Arman dan Kania masih belum beranjak dari posisinya. Arman menunggu tangis Kania yang baru selesai.
“Mas masih mencintainya?” tanya Kania pelan, ia mulai kelelahan sehabis menangis tadi.
“Selama tiga tahun, aku tidak pernah sekalipun berhenti memikirkannya. Bayangannya masih terasa memelukku. Ia seolah masih hadir dalam hidupku. Mungkin aku sudah nyaris gila dibuatnya. Beruntung ada Jessica yang selalu berusaha menemani dan menghibur diriku. Sehingga pelan-pelan aku mulai bangkit.”
Arman mengambil sekotak rokok dari kantung sakunya. Kania terkejut baru tahu kalau Arman seorang perokok. Arman mengambil satu batang rokok, “boleh ya?” izinnya kepada Kania. Kania menganggukan kepala.
“Aku masih tidak bisa melupakannya, tetapi bukan cinta. Entah, rasanya seperti aku ingin berterima kasih karena pernah ada untukku. Sekarang yang aku rasakan adalah sepi, merasa sendiri, apalagi usiaku juga sudah tua. Orang seusiaku seharusnya sudah menikah,” keluh Arman dengan nada yang terkesan seperti meratap. Kania menatap Arman dalam. Pria yang baginya dewasa dengan kesuksesan karirnya ini ternyata menyimpan beban yang membuatnya rapuh.
“Mas jangan sedih. Kan ada aku,” ucap Kania, tatapan matanya bening penuh kesungguhan. Arman terpana begitu menatap Kania. Bayangan Larisa yang seperti sedang tersenyum seperti ada di samping Kania. Membisikan sesuatu kepadanya, yang tidak bisa Arman dengar. Namun Arman tahu maknanya tanpa harus mendengar. Cinta.
***
Ketika waktu sudah hampir memasuki dini hari, Dino baru mendapat pesan balasan dari Kania. Pesan balasan itu berisi permohonan maaf karena sudah menghilang. Dengan tergesa, Dino menekan tombol panggilan.
“Maaf ya Dino, seharian ini Kania habis mendengar curhatan teman Kania,” suara Kania lirih terdengar di telinga Dino. Kania masih terselimuti sendu, kesedihan cerita cinta Arman masih membekas di dirinya.
Dino menarik napas, lega ternyata Kania baik-baik saja. “Kamu habis nangis ya Ni?” tanya Dino penuh perhatian.
“Iya Di, cerita cinta teman Kania sedih banget. Tapi, maaf Kania gak bisa cerita karena ia menyuruhku untuk merahasiakannya,” jawab Kania masih dengan kesenduan yang sama.
“Dino, kamu jangan tinggalin Kania ya,” pinta Kania dengan manjanya. Namun entah mengapa firasat buruknya masih belum sirna.