Question

Question
Rasa yang Tidak Bisa Kania Tampik



Pramusaji kedai membalik papan tanda menjadi tutup. Pengunjung terakhir pergi sekitar sepuluh menit lalu. Sepasang kekasih yang kedua wajahnya terlihat sedih. Sepertinya ada masalah dalam hubungan mereka. Di dalam kedai, steward dan barista tengah sibuk merapihkan peralatannya masing-masing. Beberapa pramusaji lain sibuk melipat kursi ke dalam meja. Hanya ada satu meja yang tidak berani mereka rapihkan, karena ada Kania di sana.


Kania baru selesai memposting foto creamy latte yang ia buat sendiri – tetap, pembuatannya dibantu oleh barista. Sudah diputuskan ia akan menunggu Arman, lalu pulang bersama dengannya. Tadi ia meminta maaf sekaligus ijin kepada Dino. Kania beralasan masih ada yang harus dibicarakan dengan rekan kerjanya dan nanti rekan kerjanya akan mengantarnya pulang.


Dino dengan berat hati mengiyakan, lalu ia menasihati Kania jangan terlalu larut pulangnya – “jaga kesehatan Ni,” tutup Dino.


Meski lega Dino mau mengerti dirinya, Kania masih dirundung rasa bersalah. Ia juga tidak habis pikir mengapa sewaktu itu ia tidak menjawab benar Arman yang memintanya bekerja. Rasanya sulit menceritakan Arman kepada Dino, padahal harusnya ia lebih jujur dan terbuka kepada pasangannya dan ia masih yakin bahwa perasaannya masih tertambat oleh Dino.


Namun, ada suatu ketakutan jika ia menceritakan Arman kepada Dino. Kania takut Dino memintanya untuk menjauhi dan menjaga jarak dengan Arman. Jika itu terjadi, rasanya berat untuk menurutinya. Kania tidak dapat menampik perasaannya, kehadiran Arman sekarang juga berarti dalam hidupnya.


Iya seperti ini dulu ya Ni. Supaya tidak menjadi masalah untuk semuanya, gumam Kania, meyakinkan pendiriannya. Pendirian yang memang mengesankan Kania lari dari masalah, namun saat ini ia tidak tahu bersikap bagaimana.


Sebuah suara mobil yang sudah Kania kenal terdengar terpakir di halaman kedai. Kania merapihkan perlengkapannya, lalu beranjak dari keluar. Arman keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Kania. Wajahnya terasa lelah, namun senyumnya mengembang indah ketika menatap Kania.


“Gimana hari ini?” ucap Arman.


“Capek Mas,” keluh Kania dengan nada yanh manja.


“Itulah kerja Ni, mau senikmat apapun kerjanya tetap saja capek,” tanggap Arman. Lalu mereka segera meninggalkan kedai.


Kania tersentak. Permintaan Arman ini memang sesuai dengan yang ia harapkan sebelumnya. Ia memang ingin, jika bisa ia punya andil dalam menentukan pegawai yang akan bekerja bersamanya. Namun, ia tidak menyangka Arman benar-benar mempercayakan semuanya kepada dirinya. Statusnya sekarang seakan bukan lagi menjadi karyawan kedai. Statusnya seakan ia adalah pemilik kedai itu sendiri.


“Mas,” ucap Kania terasa berat dan dalam.


“Apa Ni?” Arman dengan cepat merespon ucapan Kania.


“Mas jangan terlalu melibatkan perasaan Mas. Meski aku senang aku dikasih kesempatan mengelola kedai, aku juga takut Mas tidak bisa mengelola dengan benar.”


Arman henyak sejenak mendengar ucapan Kania. Ia memilih kata yang pas untuk menjawabnya.


“Ni, maaf kalau terasa aku menggunakan perasaan ya. Jujur aku senang melihat kamu semangat. Kamu terasa sangat hidup Ni. Kalau kamu takut rugi atau ada suatu masalah yang kamu tidak bisa handle, kamu kasih tahu aku saja, nanti biar aku yang tangani.”


“Jangan ragu dengan ide-idemu. Aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu Ni."


Hati Kania berdegup, dengan wajahnya yang memerah. Perlakuan-perlakuan Arman yang diterimanya membuat Kania yakin, ia tidak bisa menampik kehadiran Arman dalam hidupnya.