Question

Question
Jawaban yang Mulai Terlihat



Kania menyandarkan kepalanya di meja. Terseret alunan instrumen piano dari pengeras suara kafe Agape. Alunannya begitu lembut, begitu menyentuh. Alunan itu memberikan sedikit rasa tenang dalam kalutnya pikiran Kania.


Arman duduk di hadapannya. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia menyesap secangkir hot hazelnut latte dengan perlahan, menunggu Kania sibuk dalam kegundahan dalam dirinya.


“Mas aku salah apa ya,” Kania memulai bicara, masih tetap membenamkam wajahnya di meja.


“Aku perasaan tidak pernah berbuat sesuatu yang sangat jahat. Aku perasaan sebisa mungkin menjadi baik. Dan katanya kebaikan yang kita lakukan akan berbalik kepada kita,” keluh Kania. Arman melihat bahu Kania bergetar. Sepertinya Kania mulai menangis.


“Kok rasanya itu tidak berlaku kepadaku ya. Kok aku seakan tengah ditimpa sial ya. Sekian lamaran yang aku apply dan sekian interview yang aku datangi, masa iya satupun tidak ada yang berhasil,” keluh Kanja dengan terbata. Ucapannya berderu bersamaan dengan deru isak tangisnya.


Mereka kembali sunyi. Kania diam, larut dalam tangis yang menderanya.


“Ni sabar,” Arman menggeser duduknya di sebelah Kania. Iya mengusap bahu Kania perlahan. Kania terlihat tidak mempermasalahkan, membuat Arman semakin memberanikan diri.


“Sudah Mas, aku sudah lama sabar. Tapi aku bukan malaikat, kesabaranku lama-lama bisa habis juga Mas,” tangis Kania semakin menjadi.


“Aku putus asa Mas.”


Arman menarik napas panjang. Ia pernah diingatkan Jessica agar tidak membantu Kania mencari kerja. Namun melihat Kania seberduka ini, ia tidak peduli dengan peringatan Jessica. Bahkan ia juga tidak peduli jika orang tua Kania marah kepada karena membantu Kania.


Ia kembali mengambil napas. Membulatkan dirinya.


“Ni,” bisik Arman di telinga Kania.


“Kamu mau kerja di kafe Agape tidak?” Kania membuka matanya, tangisnya mulai mereda.


“Atau kalau mau, aku rekomendasikan di kantor aku,” sambung Arman.


“Maksudmya Mas?” ucap Kania mulai tenang.


“Hmm, kamu sekarang selesain tangisnya, cuci mukanya dulu, baru sehabis itu kita bicara pekerjaan kamu,” perintah Arman.


Kania menghela napas, dan dengan enggan beranjak dari duduknya.


***


Dino termenung di aula Basecamp. Aula yang ramai oleh canda tawa anak-anak dengan segala aneka permainan yang mereka lakukan itu tidak menggema di telinganya. Ucapan Mas Yon terus menari-nari di telinganya. Dino sibuk memikirkan makna perkataan Mas Yon.


Tempo hari, sehabis kembali dari kos Kania, Mas Didi memberi tahu jika Mas Yon sedang mencarinya. Dino mengangguk, lalu menghadap meja kerja Mas Yon.


Mas Yon menanyakan bagaimana Pak Abdul di saat terakhirnya. Dino terdiam sejenak, lalu mulai berbicara. Dino menceritakan segala yang ia ingat. Pak Abdul yang terasa berbeda, Pak Abdul yang ringan seolah beban yang selama ini menghantuinya telah ia damaikan. Matanya berkaca, kesedihan masih terselip di setiap katanya. Dino masih berduka dengan kematian Pak Abdul.


Mas Yon menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Dino. Ia memejamkan matanya, seakan memasuki alam pikiran yang garib dan penuh rahasia.


“Lalu apa pesan Pak Abdul kepada kamu Di?” tanggap Mas Yon. Dino tersentak. Dino seakan sedang dibaca oleh Mas Yon.


“Pak Abdul meminta saya untuk menemukan panggilan dalam dirinya. Panggilan yang sebenarnya. Panggilan yang pada puncaknya saya akan merasakan Tuhan. Seakan Tuhan tengah berbicara untuk alasan inilah Ia menciptakan saya,” cerita Dino.


“Lantas sudahkah kamu menemukannya?”


Dino menggeleng lemah. “Saya bingung bagaimana menemukannya. Bahkan saya juga belum mengerti maksud Pak Abdul,” keluh Dino.


Mas Yon mengangguk. Entah apa yang ada di pikirannya. Lalu ia mengucap terima kasih dan meminta Dino pergi. Dino beruluk salam dengan hormat hendak memohon pamit.


“Di, langkah pertama kamu menemukan itu. Kamu temukan dirimu sendiri. Kamu harus merasakan suatu keyakinan bahwa ini dirimu,” tutup Mas Yon.