
Halaman belakang rumah Kania disulap sedemikian rupa menyerupai acara pesta kebun dengan balon-balon dan hiasan dekorasi lainnya. Di tengah halaman menggantung sebuah banner yang bertuliskan selamat kepada Kania, Saras, dan Jessica semester depan nanti. Kania terharu dengan perbuatan orang tuanya. Saras juga terharu tidak menyangka begitu perhatian orang tua Kania kepadanya. Dan Jessica jengkel dengan ledekan kedua orang tua Kania, namun ia bersyukur bisa mengenal kedua orang tua yang seasik dan sehumble ini.
Papa Kania dan Dino sedang sibuk memanggang potongan daging dan beberapa yakitori - sebuah sate Jepang dengan isi campuran daging dan bawang, namun Papa Kania dan Dino mengganti bawang dengan pelbagai batang sayuran. Mama Kania tengah sibuk menata meja dan meletakan beberapa makanan dan minuman ringan. Sedangkan Kania, Jessica, dan Saras tengah sibuk dengan ponselnya, mengupload perayaan ini di sosial media mereka. Tidak lama, Papa Kania menyeru kepada semua yang hadir untuk berkumpul di meja. Bermacam hidangan ini membangkitkan rasa lapar Kania dan Saras yang letih sehabis bertempur tadi.
Papa Kania berdeham, meminta semua yang hadir untuk diam. “Kita berkumpul di sini untuk merayakan keberhasilan Kania dan Saras lulus dan meraih gelar sarjananya. Semoga ilmu mereka dapat bermanfaat baik untuk karir mereka sendiri, keluarga, maupun orang lain,” ucapan Papa Kania yang penuh khidmat ini diaminkan oleh semua yang mendengar.
“Dan untuk Jessica, Om tunggu keberhasilan kamu nanti, lalu kita kembali merayakannya di sini,” mata Jessica tampak berkaca mendengar ucapan penuh perhatian Papa Kania. Rasanya bersukurnya semakin berlipat. Ia sangat berterima kasih kepada Tuhan karena diberikan orang-orang yang tulus menyayanginya ini.
“Satu lagi, kita juga akan membuat perayaan kembali ketika Dino selesai bertugas di Kalimantan,” Kania tersentak mendengar ucapan Papanya. Matanya seketika menatap tajam ke arah Dino seolah meminta penjelasan. Dino yang sadar oleh tatapan tajam Kania mendelikan matanya mengisyaratkan ia akan menjelaskannya nanti.
“Baik. Selamat menikmati hidangan. Kalian juga bebas boleh berbicara selama makan. Bukan perayaan namanya jika tidak ada tawa bahagia,” ucap Papa Kania, Mama Kania langsung membalikan piring Papa Kania dan meletakan pelbagai hidangan di piring tersebut. Jessica dan Saras tersenyum menahan tawa mendengar ucapan terakhir Papa Kania. Mereka pernah beberapa kali ikut makan bersama keluarga Kania dan terpaksa ikut kebiasaan aneh keluarga Kania yang diam ketika makan. Mereka masih belum habis pikir bagaimana keluarga seasik dan sehumble ini bisa tenang ketika makan.
“Terima kasih tawarannya Ma. Tapi Saras mau pulang saja, mau bermanfaat di desa. Rasanya Saras tidak pernah berbuat apa-apa terhadap desa,” ucap Saras dengan penuh santun.
“Jika sudah pulang, tolong kabari Om. Om bisa minta rekan Om yang punya usaha di Yogya untuk merekrut kamu, kamu jangan sungkan,” ucap Papa Kania dengan tegas namun masih menyiratkan perhatian.
“Baik Om, terima kasih atas bantuannya selama ini Om, Ma,” balas Saras. Ia ingin menangis ketika mengucapkannya. Ia sangat berhutang budi pada kedua orang ini.
Sehabis itu, topik pembicaraan beralih ke Jessica, suasana menjadi cair dan penuh tawa. Namun Kania dan Dino sedari tadi diam saling bertatapan serius.