Question

Question
Masa Lalu Arman



Arman mulai henyak terbawa masa lalu. Bayangan seorang wanita cantik berkulit putih berambut sebahu dengan warna yang sedikit kecoklatan, mata yang bening, hidung kecil dan bibir yang tipis menari di lamunannya.


Aku pertama kali bertemu dengannya ketika di kelas Bahasa Indonesia sewaktu semester dua. Dia menempuh jurusa Ilmu Komunikasi, sedangkan aku menempuh Manajemen. Kelas Bahasa Indonesia di Universitasku digolongkan sebagai kelas umum, sehingga kami bisa bertemu teman-teman dari fakultas lain. Hari pertama kuliah, kami sama-sama dihukum keluar kelas karena terlambat. Aku dan dia melangkah ke kantin. Aku tidak berani menegurnya dan ia juga tampaknya acuh kepadaku.


Suasana kantin saat itu sangat sepi. Hanya ada satu dua mahasiswa dan dosen di sana. Karena sekarang memang jam sibuk. Aku duduk di salah satu bangku, lalu mulai membuka laptopku, lebih baik aku menyicil tugas sembari menunggu kelas selanjutnya.


“Serius banget lo,” sapanya menghentikan kesibukannku. Ucapannya sangat datar namun terkesan hangat. Seolah kita sudah berteman dengan lama.


“Larisa,” ia menjulurkan tangannya kepadaku.


“Arman,” ucapku merespon dirinya.


Perkenalan tadi membuat semuanya lebih cair. Kami bicara mengenai jurusan yang kami masing-masing kami tempuh, alasan kami menempuh jurusan tersebut, lalu bagaimana rasanya, obrolan mulai menjalar ke mana-mana seperti situasi kampus, relevansi situasi politik dengan kondisi masyarakat sekarang, hal yang viral di media sosial, pokoknya obrolan kami menjadi sangat random. Anehnya mengapa kita tidak berbicara pribadi kita layaknya orang yang pertama kali kenal. Tak terasa dua jam sudah berlalu, ia mohon pamit karena nanti ada kelas.


“Oh iyaa, jangan terlalu kaku oke. Kenalan gak harus ngomongin diri kita,” ucapnya sambil berlalu. Aku bergidik. Ia benar-benar bisa menangkap sepenuhnya yang aku pikirkan.


Hari-hari selanjutnya kami bertemu dalam kelas. Kami hanya saling melirik ketika berpapasan tanpa menegur sama sekali. Ingin aku menegurnya namun lirikannya kepadaku sangat cepat beralih ke teman-temannya, membuat keberanianku menjadi tumpul. Mengapa aku menjadi aneh seperti ini, seperti orang yang dipermainkan. Sehabis merenung, aku sudah berusaha menegurnya. Sampai ketika ia dengan santainya duduk di sebelahku.


“Susah ya ngomong hey,” ucapnya tanpa melirik kepadaku. Aku tersentak mendengarnya. Sekali lagi pikiranku terbaca olehnya. Perasaan jengkel karena dipermainkan olehnya kembali menderaku.


“Untuk apa, toh juga cuma melirik gue, terus buang muka,” balasku dengan dingin. Aku juga tidak melirik ke arahnya.


“Makannya jangan serius banget, pikiran lo kejauhan,” ucapnya kembali menangkal apa yang aku pikirkan.


“Lo cenayang ya?” tanyaku cukup terpukau dengan kemampuannya membaca pikiran.


Ia tertawa. Tawanya terasa sangat ceria di telingaku.


“Bukan karena gua paranormal. Mata sama tubuh lo saja yang terlalu jujur.”


“Tapi gua suka sih, udah lama gak ketemu orang sepolos lo,” sambungnya, entah ia sedang memuji atau menyindirku. Namun, ucapannya ini membuat hatiku berdetak.


Aku berusaha mengontrol diriku agar tidak terbaca oleh wanita yang tingkat sensitifnya tinggi ini.


“Jadi, masih gak mau bilang hey,” ucapnya sambil tetap tidak melirikku.


“Hey,” ucapku dengan rasa gusar sambil menghadap kepadanya.


“Hey juga,” ia baru melirik ke arahku. Senyumnya tersimpul sangat indah.