
Arinta menyapukan pandangannya. Teras depan Basecamp pagi ini tampak sepi dan lengang, seolah tidak ada kehidupan. Segera ia membayar ongkos ojek daring yang tampak sabar menunggunya, lalu masuk ke dalam.
Arinta memang jarang datang ke Basecamp pagi seperti sekarang ini. Jam kerjanya memang longgar dan cukup fleksibel, ia bisa datang sebebasnya yang penting jangan sampai lewat jam dua belas siang. Kecuali jika ada hal yang mendesak atau keperluan yang memaksanya harus tiba pagi, tetapi biasanya kedua urusan tersebut sudah jauh-jauh diinformasikan kepada dirinya.
Mata Arinta menjelajah sekitar, mencari sesosok orang yang sudah mempengaruhi hatinya untuk ke Basecamp pagi-pagi. Sehabis kegiatan di Kalimantan, Arinta meminta cuti cukup panjang, ia bermaksud mengistirahatkan sejenak jiwanya yang letih dengan segala peristiwa pahit di Kalimantan. Namun belum genap seminggu ia cuti, hatinya sudah berderu memaksanya bekerja. Di rumah, Arinta merasa gelisah, tubuhnya terasa kosong, semacam ada sesuatu yang lepas yang telah menyurutkan daya dan semangatnya.
Arinta menilik ke dalam dirinya, mencari sumber penyakit yang menyebabkan psikologisnya tidak karuan seperti ini. Dan setiap ia memejam mata, bayangan Dino hadir dalam benaknya. Bayangan Dino melegakan hatinya. Bayangan itu seakan mengikis penyakit yang membuatnya tidak berdaya.
Cukup Rin, dia udah ada yang punya, akal sehat Arinta memperingati supaya Arinta tidak jatuh terlalu dalam ke dalam bayangan Dino.
Beberapa kali ia menyetuji akal sehatnya dan membuka mata, namun setelah itu kekosongan hatinya terasa dua kali lebih sesak. Sampai-sampai ia tidak kuat dan kembali menyerah dalam balutan bayangan Dino.
Kini, bayangan Dinopun tidak sanggup mengobati kekosongan dalam dirinya. Hatinya terus memaksa bertemu Dino. Arinta menjengut rambutnya yang sekarang memanjang mencapai setengah lehernya. Belum genap seminggu ia tidak bertemu Dino, ia benci dirinya sudah hampir gila dibuatnya.
***
“Eleh eleh. Mimpi apa saya, pagi-pagi lihat cewek cantik,” goda Mas Didi – seorang volunteer senior yang juga biasanya merangkap membersihkan halaman setiap paginya. Sama halnya dengan Dino, Mas Didi juga tinggal di mess Basecamp. Namun, alasannya berbeda dengan Dino, Mas Didi ini sudah memiliki istri dan satu anak yang ada di Sragen, kampung halamannya.
Mas Didi tertawa melihat wajah Arinta yang berubah cemberut.
“Salah Dek Rinta sendiri. Tumben sekali datang pagi dan,” Mas Didi menahan ucapanya. Matanya menjelajar tubuh Arinta dari bawah ke atas. “Eleh eleh, cantik sekali lagi hari ini,” ungkapnya terpesona melihat Arinta yang ia kenal sangat jarang merias diri.
“Udah deh Mas, lama-lama saya kesal beneran ini,” ucap Arinta nada suara yang tegas.
“Baik baik,” tanggap Mas Didi sambil tertawa melihat Arinta jengkel.
“Mas kok tumben nyapu sendirian, biasanya ditemani Dino?” tanya Arinta dengan ketus yang ia paksakan sama seperti sikapnya biasa. Jangan sampai Mas Didi sadar dirinya memang penasaran tentang Dino.
Namun sepertinya upayanya gagal. Mata Mas Didi berbinar dan senyumnya mengembang. Seakan ia sudah tahu maksud pertanyaan Arinta.
“Pantes kamu dandan semanis ini Rin, beruntung sekali Dino ya. Sudah punya pacar cantik, disukai pula sama kamu,” ucap Mas Didi sambil berdecak.
Arinta tersentak, ia memalingkan wajahnya yang berubah merah.