
"Kaniaa,” terdengar suara mamanya meneriaki Kania. Lamunan Kania terpecah, ia memasang telinganya tajam, tidak percaya jika tadi memang suara mamanya. Sekarang adalah hari kerja dan tidak mungkin mamanya masih ada di rumah.
“Kaniaa disuruh Papa cepat ke bawah,” teriakan mamanya kembali menggema. Kali ini ia yakin jika itu memang suara mamanya. Segera ia beranjak dari ranjang, dengan wajah yang masih tampak berantakan sehabis tidur.
Di ruang tamu, kedua orang tuanya duduk bersisian. Wajahnya terlihat tegang dan serius. Dengan pelan ia menghampiri mereka, pikirannya menimbang apakah ia sudah berbuat kesalahan.
“Duduk Kania,” sapa Papa Kania dengan nada suara yang cukup tegas dan serius. Kania duduk menghadap kedua orang tuanya. Entah mengapa ia merasa suasana menjadi terasa kaku.
“Kania,” ucap Mama Kania pelan.
“Maaf kita baru memberitahumu,” wajah Mama Kania ditundukan, Kania merasa mamanya sangat lebay dan drama.
“Sebenarnya kamu bukan anak kandung kita,” lanjut Mama Kania dengan mata dibuat seperti orang memelas.
Kania tersentak, wajahnya memerah geram melihat mamanya terlihat drama seperti ini.
“Enggak lucu!”
Papa dan mama Kania tertawa melihat kejengkelan anaknya.
“Ya tidak mungkinlah, anak semenggemaskan ini bukan anak kita,” ucap Papa Kania sambil tertawa.
Kania masih memasang wajah geram. Ia masih menebak arah pembicaraan ini. Tidak biasanya mereka bertingkah seaneh hari ini.
“Ada apa sih Pa, Ma?” keluh Kania tidak sabar.
“Kania.”
“Kamu kan sekarang sudah dewasa, sudah waktunya kamu melangkahkan kaki ke dunia yang kamu inginkan. Kamu tidak bisa selamanya terus bergantung kepada Papa dan Mama. Nanti jika kita tidak ada, kamu bagaimana?” jelas Papa Kania serius.
“Jadi untuk melatih kamu bersikap dewasa, Papa dan Mama sepakat kalau mulai detik ini kamu harus keluar dari rumah. Kamu harus hidup sendiri dan belajar mandiri, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin sehabis ini, kamu lebih mempunyai sikap dan pandangan yang lebih matang.”
“Iya Ni. Mumpung di jaman ini, seorang perempuan bisa berkarir setinggi-tingginya. Tidak seperti jaman Mama yang mau belajar setinggi apapun ujung-ujungnya hanya mengurus dapur. Beruntung Mama memiliki Papa yang mendorong Mama untuk maju dibanding perempuan di zaman Mama,” Mama Kania turut juga menasihati Kania.
“Kamu kan nanti kita harapkan untuk mengelola usaha Mama kalau Mama sudah tidak kuat bekerja. Atau menangani bisnis-bisnis Papa. Tapi tidak dengan diri kamu sekarang. Kamu harus belajar sendiri di luar sana. Kamu harus memandang dunia dengan mata kepala kamu sendiri.”
Kania tergagap. Pikirannya terkecat, sulit mencerna maksud perkataan papanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ja-jadi aku diusir?” tanya Kania dengan keras.
“Bukan diusir Kania sayang, lebih tepatnya kamu diperbolehkan tinggal di mana saja selain di rumah, rumah nenek, saudara kita, maupun teman-teman kamu,” jawab Mama Kania dengan santai, sesekali ia tersenyum geli melihat Kania yang cemberut.
“Papa sama Mama kok semakin lama, semakin jahat ya sama anaknya. Benar kali ya aku bukan anak kandung,” ratap Kania. Ia mengeluarkan tangisnya supaya orang tuanya luluh dan menarik kembali niatannya.
“Sayang sini peluk,” Mama Kania menghampiri Kania dan memeluknya dengan erat dan hangat.
“Senjatamu tidak mempan sayang,” ucapnya lebih lanjut.
Amarah Kania memuncak, reflek ia mencubit keras tangan mamanya.