
Hening menyeruak di udara. membuat angin seketika berhenti riuh. Dedaunan pun turut berhenti begoyang, seakan takut gemerisiknya menganggu telinga. Dan puluhan napas menahan hembusannya. Dengan wajah menunduk sendu dan hati yang bergetar yang mereka coba tahan, mereka memasang telinga.
Kepala Suku datang ke perkemahan. Ia bersama beberapa orang yang mengangkat keranda kayu yang dibuat menyerupai rumah mini. Keranda tersebut tampak mewah, menunjukkan betapa hormat dan cinta mereka pada Pak Abdul. Para volunteer yang berdiri di depan pintu tenda menepikan diri, memberi ruang untuk Kepala Suku. Dino, Arinta, dan dua orang volunteer menoleh ke arahnya, kepalanya ditundukan penuh hormat. Senyum getir dan lelah tersimpul dari wajah-wajah mereka. Kepala Suku melirik Pak Abdul yang tersenyum lembut seolah menyambutnya. Matanya kemudian terbelalak menatap sebuah bulatan cahaya yang melayang di bawah kaki Pak Abdul. Kepala Suku kembali melirik Pak Abdul dengan mata yang masih terkejut, Pak Abdul mengangguk isyarat membenarkan apa yang dipikirkan Kepala Suku.
Detik melambat, memberi ruang Pak Abdul yang tengah memejamkan mata, mengulas balik hidupnya.
“Selama saya hidup,” ucap Pak Abdul dengan lemah.
“Saya merasa banyak sekali melakukan kebodohan. Kebodohan dalam memilih pilihan. Yang selalu saya sandarkan jawabannya pada keegoisan diri saya.”
“Selama saya hidup, saya sudah merasakan betapa pahitnya sepi dan sendiri. Betapa sunyinya udara yang saya hirup, dan betapa keringnya hati ini. Ini semua adalah konsekuensi dari jalan yang telah saya pilih. Ini semua saya anggap sebagai hukuman atau mungkin kutukan karena tanpa sadar jalan yang telah sata pilih telah banyak menyakiti orang di sekeliling saya.”
“Namun baru belakang ini saya mengerti. Ada sesuatu yang membuatku terikat di jalan ini. Sesuatu yang membuat saya tidak hendak beranjak atau pergi.”
“Sesuatu tersebut adalah cinta. Cinta yang bisa saya reguk dan salurkan kepada kalian, alam, dan semua hal yang terasa mengisi ruang di dalam hati saya. Bersama kalian dan semua yang saya cintai membuat saya mengerti makna dan fungsi hidupnya di dalam kehidupan ini.”
“Kalianlah yang membuat saya memiliki peran dalam kehidupan. Terasa ada sesuatu yang berbisik ke hati saya dan mengatakan ini adalah panggilan hidupmu. Seketika itu juga, hukuman atau kutukan yang membebani hidup ini lenyap. Langkah saya ringan dan bebas seperti burung di udara. Sampai suatu tingkat, ketika saya memejamkan mata, saya seolah menyaksikan Tuhan tengah tersenyum kepada saya.”
“Entah ini semua benar atau sebatas hiburan dari hati yang lelah ini. Kalian yang bebas memaknainya. Tidak ada tatapan yang sama, semua pengalaman dan makna akan selalu berbeda.”
“Dino, Arinta,” kedua orang yang disebut ini menoleh ke wajah Pak Abdul. “Dan untuk semua orang yang ingin mendengar saya. Sepanjang perjalanan kita, selalu ada tanya mengekor di belakang kita. Kita suatu waktu akan berada di sebuah persimpangan, di mana kita harus memilih salah satunya dan kehilangan salah satunya.