Question

Question
Bisakah Ini Menjadi Selamanya?



Embun masih menetes dari sela-sela dedaunan. Udara membawa kelembapan yang menyejukkan. Beberapa orang tampak bergidik ketika diterpan sejuknya pagi ini. Dino memakirkan sepeda motor Honda C70 di depan halaman rumah Kania. Ia turun dari sana, mengetuk pintu yang segera dibuka oleh Mama Kania.


“Eh Dino, mau jalan sama Dino ya?” sapa Mama Kania dengan begitu ceria. Lalu tangannya dijulurkan ke depan yang langsung dicium Dino dengan penuh hormat.


“Iya mama, Kanianya udah siap?” tanya Dino basa-basi karena ia sudah tahu kalau Kania pasti belum bangun.


“Hmm, kamu kayak baru kemarin saja kenal dengan Kania. Ya pasti masih tidur lah,” dengus mama Kania, lalu mereka tertawa.


“Sebentar mama bangunin dulu, kamu ke belakang gih, salam sama Om,” perintah Mama Kania yang segera dilaksanakan oleh Dino.


Di halaman belakang, tampak Papa Kania sedang berkebun. Papa Kania tengah mengaduk pupuk kandang agar tercampur dengan obat tanaman yang ia taburkan. Dino ssgera menghampiri Papa Kania.


“Pagi Om,” sapa Dino sambil meraih tangan Papa Kania, lalu menciumnya penuh hormat.


“Eh kotor Di,” cegah Papa Kania melihat tangannya yang kotor untuk dicium Dino, namun ia masih saja menjulurkan tangannya.


“Gapapa Om.”


Dino duduk di rumput tepat di samping papa Kania. Memperhatikan kegiatan papa Kania sambil berharap ada yang bisa dikerjakan olehnya. Harapan Dino terjawab, ia diminta tolong oleh Papa Kania untuk mengganti tanah baru untuk beberapa tanaman yang akarnya sudah menjalar keluar sudah tidak dapat ditampung oleh wadahnya. Dino segera melepas jaket jeans biru muda yang ia kenakan, lalu melipat long shirt bercorak garis horizontal dengan warna merah-hitam sampai selengan.


“Ahh, sakit mama,” raung Kania sambil tetap memejamkan mata. Tanganya meraba-raba mencari bantal yang hendak ia lempar ke mamanya sendiri.


“Ada Dino itu, kamu malah masih tidur. Ayuk kamu bangun, cuci muka atau terserah deh mau apa, yang penting bangun,” tegur mama Kania sambil menarik tubuh Kania agar keluar dari ranjang.


Kania keluar ruangan dengan enggan, ia mengambil segelas air mineral dari dapur, lalu melangkah ke halaman belakang. Kania melihat papanya dan Dino tengah sibuk memotong dan merapikan ranting yang terlihat berantakan.


Kania tersenyum menyaksikan suasana yang akrab antara kedua pria yang ia cintai. Ia berharap pemandangan ini bisa saksikan selamanya. Sampai ia tua, sampai tiba waktunya berpisah.


Papa Kania menoleh ke Kania yang masih termenung sambil tersenyum-senyum sendiri.


“Cuci muka dulu Ni, pakai pakaian yang pantas, masa ketemu Dino pakaiannya begitu,” tegur Papa Kania memecah lamunan Kania. Kania baru sadar ia sedari tadi masih mengenakan piyama dengan wajah dan rambut yang masih terlihat berantakan. Kania segera berlari menuju kamar mandi, meninggalkan papanya dan Dino yang tertawa melihat tingkahnya.


Matahari sudah merangkak naik ketika Papa Kania dan Dino selesai menata kebun. Mereka melepas lelah sambil menikmati orange juice dan kudapan ringan yang dihidangkan mama Kania.


“Om dengar tante sudah berbicara serius sama kamu,” Dino tersentak mendengar ucapan Papa Kania. “Jadi, kau sudah tahu mau melangkah kemana?”


Dino mengangguk. Hilangnya Kania kemarin membuat Dino semakin yakin memikirkan matang-matang hubungannya.