Question

Question
Masa Lalu Arman (2)



Selama semester itu, hubungan kami terjalin dengan baik. Beberapa kali kami mengerjakan tugas bersama karena kebetulan berada dala satu kelompok. Di semester selanjutnya ia juga tidak melupakan aku. Ia menyahut sapaanku ketika bertemu dengannya. Pesan yang aku kirim juga selalu ia balas, meski tidak dengan waktu yang cepat. Dari sini aku sedikit mengetahui kepribadiannya. Ia sangat gemar mengamati kehidupan orang lain. Ia berperan menjadi pendengar dan penasihat untuk teman-temannya. Entah mengapa apa yang ia sampaikan ke orang lain selalu berhasil. Kemampuannya dalam membaca dan memperbaiki psikologis orang rasanya sudah melampaui teori-teori psikologi itu sendiri. Terasa di luar nalar.


Satu hal yang mengganjal pikiranku. Mengapa ia sedikit sekali menceritakan dirinya kepada orang lain. Seolah menutup kehidupannya dari orang-orang. Larisa – gadis cantik yang misterius ini benar-benar menyita perhatianku. Aku mulai tertarik mengenalnya lebih jauh.


Beberapa kali aku memancingnya untuk menceritakan dirinya. Namun pesan-pesan pancinganku selalu berhasil dielak olehnya. Sampai akhirnya, mungkin karena jengah oleh pancinganku ia mengirim pesan kepadaku,


Gue gak mau cerita tentang diri gue sama hantu.


Hantu, gue lu bilang hantu? Tulisku kepadanya.


Selang beberapa menit ia membalas, iya. Lo tuh hantu, lo hanya hadir di sini. Enggak di kehidupan nyata gua.


Aku mengerti maksud pesannya. Mengenalnya membuat sensitifitas diriku meningkat?


Kesempatan tersebut tidak aku sia-siakan. Aku memberanikan diri duduk di mejanya ketika ia sedang ada di kantin. Atau berjalan di sisinya ketika ia tengah menyusuri lorong. Ia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku, meski tidak antusias juga, lain hal dengan teman-temannya yang jengkel seolah mereka terusik. Tetapi biarlah, yang penting aku bisa bersama dengannya.


Sampai suatu ketika, aku bertemu kekasihnya Larisa yang tiba-tiba menghampiri kami. Seorang pria berkulit coklat berambut panjang dan tatapan matanya yang sangat tajam. Terhias anting berukuran setutup botol air mineral di kedua telinganya. Perasaan gentar menyergap diriku. Namun rasa itu sirna berganti penasaran karena melihat Larisa yang seperti gemetar.


Kami berbincang-bincang dengan santai. Meski memang kekasih Larisa tampak menyeramkan, ia cukup ramah dan tidak sedikitpun aku merasa tertekan olehnya. Yang membuat aku penasaran adalah sikap Larisa yang biasanya frontal dan banyak bicara menjadi diam dan pasif. Larisa hanya menanggapi perbincangan sekenanya. Sikap Larisa mengesankan ia segan dengan kehadiran kekasihnya. Ada apa dengan Larisa, batinku bergumam. Cukup lama kami berbincang, Larisa dan kekasihnya mohon pamit, lebih tepatnya kekasihnya yang pamit dan mau-tidak mau Larisa ikut pamit juga.


Saat malamnya, dering ponselku berbunyi. Larisa tiba-tiba menelepon diriku. Aku segera menjawab teleponnya. Larisa tidak berbicara apa-apa, hanya ada rengekan kecil yang terdengar. Larisa seperti tengah menangis. Dahiku berkerut, khawatir tentang keadaan Larisa. Aku memburu Larisa dengan pertanyaan kenapa – kenapa.


“Aku lelah dengan hidupku,” ucapnya serak. Terdengar suara tangis yang pecah. Tangis yang membuat aku terdiam. Seorang yang aku kagumi, wanita hebat yang mampu membaca perasaan orang lain dengan tepat dan selalu santai menghadapi sesuatu, mengesankan kekuatan dalam dirinya. Seketika terasa begitu rapuh, begitu lemah, layaknya sesosok wanita yang butuh perlindungan.