Question

Question
Sudah terlalu Jauh Langkahku



Sepanjang perjalanan hati Kania tidak berhenti berdetak. Wajahnya dirundung cemas, sesekali ia menengok ke belakang – khawatir Arman mengikutinya. Pikirannya sibuk memikirkan Arman, sampai-sampai ia tidak mendengar Dino yang sedang bercerita. Kania sibuk menerka bagaimama sikap Arman nanti dan alasan apa yang harus ia berikan kepada Arman.


“Ni,” ucap Dino sambil menoleh ke Kania. Dino tersadar sedari tadi Kania tidak menanggapi obrolannya.


“Ada yang lagi kamu pikirkan ya?”


Kania masih henyak dalam lamunannya.


“Ni,” ucap Dino dengan suara sedikit lebih ditekan.


“Eh iya apa Di?” tanggap Kania terbata. Maaf tadi Kania enggak dengar cerita Dino, Kania masih ngantuk,” sambung Kania dengan cepat. Dino berdeham menanggapi alasan Kania, lalu fokus mengendari sepeda motornya.


Maaf ya Di, Kania bohong sama Dino, batin Kania bergumam.


Kania bukannya tidak mengenyahkan pikiran-pikiran mengenai Arman. Sebenarnya ia bisa cuek dan biasa saja. Kecewanya Arman adalah risikonya sendiri karena mencintainya. Mencintai orang yang sudah memiliki kekasih. Namun, ia tidak bisa membohongi hatinya. Kania tidak bisa menampik rasa bersalah. Rasa bersalah karena telah mengecewakan perasaan orang yang mencintainya.


Sampai di kedai Bicara Rasa, Kania belum menemukan alasan untuk berhadapan dengan Arman nanti. Kania hanya bisa berdoa semoga semua tidak berubah.


***


Tidak ada pesan dari Arman


Kania berkali-kali memeriksa kolom percakapannya dengan Arman. Pesan terakhir yang dikirim Arman kepadanya adalah semalam ketika Arman kembali bertanya bolehkah ia menjemput Kania nanti pagi dan ketika ia mengucapkan selamat tidur. Kedua pesan yang tidak Kania balas. Kania berniat memberikan pesan kepada Arman, sekadar basa-basi sambil melihat reaksi Arman dari balasannya nanti. Namun, rasanya itu salah. Rasanya ia seperti hendak mempermainkan perasaan Arman.


Kania meletakan ponselnya, lalu memijit-mijit dahinya yang terasa lebih kaku. Ia merasakan lelah dengan hidupnya sekarang. Lelah dengan kekeliruan-kekeliruan yang ia sudah jalani. Belakangan ini ia sudah banyak membohongi Dino – pria yang ia cintai, pria yang baginya adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuknya. Ia juga sudah mendiamkan perasaan Arman, - pria yang selalu bisa membuatnya tersenyum dengan segala perlakuan yang ia berikan. Benar ia sudah lama bermain api dan sekarang ia merasakan nyalanya.


Kania tidak tahu bagaimana memperbaiki semua ini. Sebelum api mulai bertambah luas, sebelum nyalanya juga mengenai Dino dan Arman. Kania tidak bisa terus menerus mendiami dan melukai perasaan Arman. Ia harus segera memutuskan. Menyambut atau menolak. Bertahan atau pergi. Namun siapkah hatinya untuk segala kemungkinan di depannya?


***


“Hey melamun saja,” ucap Arinta sambil menepuk bahu Dino, mengejutkan dirinya. Dan usahanya berhasil. Arinta tertawa lepas melihat ekpresi konyol Dino ketika terkejut.


“Awas ya Rin, nanti gue balas,” balas Dino sambil tertawa karena membayangkan wajah konyolnya tadi.


“Lagi kayaknya pusing banget, ada masalahkah?”


Dino berdeham. Firasat buruk yang tadi sempat lenyap kembali menepuk pikirannya.


“Gitu deh Rin,” ucap Dino parau. Terasa kesedihan dalam ucapannya.


Arinta menimbang ini pasti ada hubungannya dengan Kania. Hubungannya yang semakin dekat sedari di Kalimantan membuat Arinta tahu apa yang sedang Dino rasakan lewat ucapannya. Darahnya berdesir cepat, seakan bersorak untuknya.


Enggak boleh gitu Rin, jangan senang di atas masalah orang lain, Arinta berdebat dengan setan dalam hatinya.


“Kania, Di?” tanya memastikan, Arinta kalah oleh setan yang memaksanya bertanya.


Dino diam menatap mata Arinta. Lama ia terdiam, membuat Arinta menunduk kikuk. Sepertinya memang salah jika bertanya seperti ini. Hubungannya mungkin tidak sedekat itu sampai Dino mau terbuka untuknya, gumam Arinta.


“Iya Di,” jawab Dino. Hampir saja Arinta reflek tersenyum. Ternyata ia salah. Hubungannya mungkin memang sudah semakin dekat.


Mas Didi yang tengah menyapu halaman, lewat di depannya.


“Asik, cocok deh kalian berdua,” ucap Mas Didi sambil mengacungkan jempol.


“Apasih Mas,” tanggap Dino datar. Dino tidak melihat Arinta yang wajahnya memerah malu karena ucapan Mas Didi tadi.