Question

Question
Malam sebelum Wisuda (2)



Riuh derik jangkrik semakin nyaring berbunyi. Riuhnya melenyapkan sepi dan gundah Kania. Memberinya semacam semangat tersendiri. Kania diam sejenak sebelum menekan tombol panggilan – menghubungi Arman. Kania membulatkan tekadnya.


Pesan Arman yang dibacanya tadi berisi permohonan maaf Arman karena telah membuat Kania depresi. Ia menyatakan diri sebagai lelaki brengsek yang tidak tahu malu. Kemudian ia meminta Kania untuk pergi melupakan dirinya, anggap saja mereka tidak saling mengenal, jika itu bisa membuat Kania merasa lebih baik. Terakhir pesan tersebut berisi, pernyataan betapa Arman sangat mencintainya, ia tidak menyesal dengan cinta yang ia alami dan tidak mengharap cintanya terbalas.


“Halo Mas,” sapa Kania setelah panggilannya diterima Arman.


“Ha-halo Ni,” balas Arman terbata. Ia terkejut Kania tiba-tiba menghubunginya.


“Kamu enggak kenapa-napa?”


“Enggak sakit kan Ni?”


“Gimana, makan kamu teratur kan?” sergah Arman bertubi-tubi. Kania merasakan kekhawatiran yang Arman alami.


“Enggak Mas, aku enggak sakit. Makan aku juga teratur, malah aku ngemil mulu. Aku takut gendutan deh,” jawab Kania sambil bercanda untuk menenangkan Arman.


Kania mendengar Arman menghela napas panjang. Sepertinya kehawatirannya sudah mereda.


“Syukur, Ni,” tanggap Arman parau.


Mereka diam sejenak. Detik seolah berhenti, memberi kesempatan Kania meneguhkan kembali niatannya.


“Mas,” ucap Kania. Suaranya lemah namun terasa dalam. Terdengar Arman berdeham menanggapi ucapan Kania.


“Mas aku terima kasih Mas sudah cinta dan sayang sama aku. Tapi aku mau minta maaf, aku belum bisa membalas perasaan Mas,” Kania diam sejenak. Ia membayangkan betapa pedih ucapannya ini. Namun, ia harus mengatakannya.


“Tapi aku juga enggak mau Mas pergi. Aku nyaman dengan kehadiran Mas dan pasti akan sepi jika tidak ada Mas. Aku bingung harus bagaimana Mas?” keluh Kania.


Mereka kembali diam. Jantung Kania berdegup menanti tanggapan Arman.


“Ni,” ucap Arman. Suaranya sama lemah dan dalamnya seperti Kania.


Kania diam, henyak mendengar suara tersebut.


“Boleh aku datang ke wisuda kamu?” tanya Arman. Air mata Kania berlinangan. Kania merasakan kecewa dan lelah dari pertanyaan tersebut. Dan ia juga tahu bagaimana tanggapan Arman.


“Mas kita tetap seperti kemarin saja ya,” pinta Kania. Nada suaranya sedikit serak. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya.


“Boleh tidak aku datang ke wisuda kamu?” ulang Arman, masih dengan nada lelah dan kecewa yang sama.


“Iya Mas.”


***


Selang beberapa lama, Kania menyudahi panggilannya. Ia meletakan kembali ponselnya, lalu menarik napas panjang. Akhirnya ia sampai pada masalahnya yang terakhir dan terberat. Dino.


Percakapan terakhir mereka di teras depan rumah Kania membuat perasan Kania tidak karuan. Ia merasa kecewa. Dino biasanya dapat membuat dirinya merasa diprioritaskan, meski dengan segala kesibukan yang Dino jalani. Namun jawaban Dino yang ragu tidak bisa berjanji benar-benar menjatuhkan Kania.


Ini adalah alasan utama Kania ingin menyendiri. Ia ingin mengulas kembali hubungannya dengan Dino. Sebuah tanya seakan menggema di dalam hatinya. Pertanyaan untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungannya. Dan pernyataan cinta Arman benar-benar membuatnya yakin ia harus merenungi pertanyaan ini. Kania harus bersikap. Harus berubah. Sudah waktunya hubungan ini dibawa ke tingkat yang lebih dewasa.


Kania sudah menemukan jawabannya. Jawabannya sesederhana, iya aku mengerti. Apalagi jawaban tersebut semakin menguat ketika ia membaca pesan-pesan Dino. Namun, jawaban ini terasa sangat sulit diutarakan.


Keinginan Kania agar Dino dapat menghadiri wisudanya masih terasa sangat kuat.