Question

Question
Malam sebelum Wisuda (3)



Kania kembali membuka pesan Dino. Pesan tersebut berisi permohonan maaf Dino karena tidak bisa berjanji kepada dirinya. Dino mengakui dirinya juga bingung siapa yang harus diprioritaskan. Pak Abdul dan dirinya merupakan kedua orang berarti dalam hidupnya. Dengan sangat menyesal ia berharap Kania bisa mengerti. Lalu ia juga akan mengusahakan untuk segera kembali ke Jakarta.


Pesan yang lain berisi rasa sedih Dino setelah melihat kondisi Pak Abdul. Dino merasa Pak Abdul akan meninggalkan dunia. Ia merasa akan kehilangan salah satu orang yang ia cintai. Terakhir, Dino memohon untuk bisa berbicara dengan Kania. Ia sangat ingin mendengar suara Kania. Kania merasakan duka dan lemahnya Dino. Ia mengutuk kebodohannya. Harusnya ia ada. Harusnya ia bisa menguatkan Dino. Air mata Kania kembali mengalir dari matanya.


Lalu pesan lain berisi ratapan dan permohonan kembali Dino untuk berbicara dengan Kania. Dino menyatakan seberapa penting hidup Kania dan betapa jatuhnya ia jika Kania pergi.


Lalu terakhir, Dino mengirimkan pesan singkat.


Pak Abdul meninggal dunia.


Sesederhana itu, namun Kania merasakan kepiluan dan kesakitan yang dialami Dino. Dino sudah jatuh pada titik duka terendah. Dan tingkahnya yang kekakanakan semakin menjerembabkan Dino ke dalam lembah nestapa.


Selain perasaan menyesal, Kania juga mengalami duka. Kania merasakan harapannya akan jatuh. Kemungkinan besar Dino tidak dapat menghadiri wisudanya. Kania ingin menampik kenyataan ini. Ada satu harapan, entah dengan keajaiban semacam apa Dino datang ke wisudanya. Harapan ini yang membuatnya tidak dapat membalas Dino. Ia tidak sanggup menyatakan mengerti yang dapat memupuskan harapannya. Dan jujur, ia memang tidak bisa mengerti. Kania berkaca betapa egoisnya dirinya.


Kania menggigit bibirnya. Tekadnya untuk menghubungi Dino sudah sirna. Tadi ia bisa dengan mudah menyelesaikan persoalan dengan Arman. Tapi dengan Dino entah mengapa bisa menjadi sepelik ini.


Kania termenung cukup dalam, sampai-sampai ia tidak menyadari pintu halaman belakang sudah dibuka dan mamanya sudah duduk di sampingnya.


“Minum dulu Ni,” Mama Kania meletakan dua cangkir coklat hangat di meja. Kania terbangun dari lamunannya, lalu mengangguk dengan pelan sambil menyesap coklat hangat tersebut.


Mama Kania membaringkan Kania di pahanya. Ia mengelus pelan rambut Kania. Kania memeluk erat kaki mamanya. Rasa kasih mamanya mengalir menenangkan dirinya.


“Kania enggak bisa bilang mengerti ke Dino. Kania masih berharap Dino datang ke wisuda Kania,” ratap kembali Kania.


“Kania egois,” tangis Kania pecah di pangkuan mamanya.


Mata Mama Kania berkaca. Ia mulai larut dalam kesedihan anaknya. Sebenarnya ia juga sudah meminta Dino untuk pulang. Bahkan, ia sudah hendak menyiapkan tiket pesawat untuk Dino dengan penerbangan yang paling cepat – tidak peduli berapapun mahalnya yang penting Dino bisa datang ke wisuda Kania. Namun balasan Dino menyirnakan harapannya. Dino memberitahunya ia telah kehilangan orang yang ia anggap sebagai orang tuanya. Mama Kania diam. Mengerti keputusan Dino selanjutnya.


“Kania sayang. Kania jangan terus bersedih. Kania harus kuat. Harus terus memiliki semangat. Kania bukan anak yang lemah yang mudah jatuh. Besok kan hari penting dalam hidup Kania. Dengan ada atau tanpa Dino, tetap besok adalah hari penting dalam hidup Kania,” ucap Mama Kania dalam.


Ucapan mamanya menenangkan Kania. Gundahnya seolah terangkat membuatnya merasa lebih lega.


“Kania sayang. Tidak salah kita memiliki harapan, tapi jangan terlalu bergantung pada harapan.”


“Dan tidak ada cinta yang tidak menyisakan luka.”