Question

Question
Aku Lebih Mencintaimu



Ini salah Ni!


Ini akan membawa kehancuran untuk dirimu!


Hati Kania terus berteriak mengutuki dirinya. Di kepalanya seakan bertengger kalimat ‘bodoh' yang membuat kepalanya pening tak karuan.


Kania masih bisa merasakan aroma lidah mereka yang saling bertaut. Masih merasakan bulir keringat dan hembus napas berat yang menderu menerpa wajahnya. Masih merasakan degup jantung ia dan Arman yang berpacu cepat tak beraturan.


Hanya sekali berciuman!


Namun telah membuat darah Kania berdesir cepat bahkan terasa menggenang di kepala dan membuat Kania dimabuk olehnya. Ciuman ini sangat berbeda dengan yang ia rasakan bersama Dino, meski tidak bisa dibandingkan juga mana yang lebih baik. Dengan Dino, Kania dibuat merasakan manis dan hangatnya perasaan mereka saling mengalir seolah tersampaikan bibir mereka. Mereka seakan menyenandungkan lagu-lagu kisah dan nada cinta tanpa bahasa dan suara yang harus terdengar.


Dengan Arman barusan, Kania merasakan semacam adrenalin dan gairah yang membuncah memenuhi dirinya. Seakan sebagian dirinya yang asing, yang purba, yang entah sejak kapan ia kurung dan sembunyikan lepas. Membuatnya liar, lepas, bebas, dan rasa puas yang sanggup mengehempaskan segala beban dan membuat dirinya ringan.


Ini salah Ni!


Ini akan membawa kehancuran untuk dirimu!


Suara hati Kania semakin menggema, mengingatkan Kania agar segera membuka mata dan menyadari kekeliruannya. Kania mengerti apa yang dilakukannya salah, namun ia tidak bisa bohong ia menikmatinya.


Beruntung affair tadi tidak berlangsung lama. Beruntung ponselnya berdering dan membuat menyeret kesadaran mereka. Jika tidak, Kania tidak tahu lagi kenikmatan apa lagi yang ia rasakan bersamaan dengan sekeras apa lagi hatinya mengutuk dirinya.


Kania dan Arman menunduk. Tanpa suara, tanpa gerakan, seakan mereka onggokan daging tak bernyawa. Namun wajah mereka saling merona merah mengisyaratkan mereka masih hidup dan bahagia.


Kania membuka ponselnya, matanya membelalak melihat pesan dari Dino. Kesadarannya perlahan semakin penuh dan membuat wajahnya tampak cemas.


“Dino?” tembak Arman, wajah Arman juga berubah tegang melihat ekspresi Kania berubah. Kania mengangguk pelan, sambil membalas pesan Dino.


“Apa katanya?” tanya Arman dengan enggan.


Kania melirik keluar jendela dengan perasaan cemas. Kosong, tidak ada apa-apa. Ia menghembuskan napas lega.


“Dino tanya aku mau sudah pulang atau belum, terus dia tanya lagi mau dijemput atau tidak, mumpung dia ada di dekat kedai,” jawab Kania masih tetap mengetik membalas pesan Dino.


Arman mendengus pelan. Kenikmatan tadi mulai disangsikan oleh kejengkelan.


“Terus kamu mau?” tanya Arman semakin enggan. Arman yakin jawaban Kania tidak enak di telinganya.


Kania menatap mata Arman yang terasa sendu, seakan memohon kepada dirinya. Ia mengganguk perlahan, membuat mata yang tampak sendu itu menjadi lebih lelah.


“Maaf, tolong mengerti posisiku Man.”


***


Dino menatap senyum Kania. Senyum yang terasa janggal. Senyum yang seolah dipaksakan Kania agar membuatnya tenang. Air matanya nyaris menggenang, namun ia paksa sekuat diri untuk tidak menangis.


Kejadian tadi masih sangat jelas dalam ingatannya. Entah mengapa, Dino tadi seakan mendapat suatu intuisi. Seolah ada semacam kekuatan yang menyeretnya melakukan sesuatu yang janggal. Dino diseret memarkir kendaraan di pasar swalayan yabg terletak di seberang kedai, tidak seperti biasanya. Dino diseret melangkah perlahan seolah hendak mengintai Kania. Ini bukan dirinya. Dirinya yang asli selalu akan mempercayai Kania tidak peduli bagaimana Kania berusaha menipu dirinya. Dan ternyata kejanggalan tadi memberikan jawaban.


Jawaban yang menjawab segala tanya yang menggumpal di dalam dirinya kemarin. Jawaban yang memberikan kepastian hati Kania sekarang. Jawaban yang membuka lembaran baru dalam kisah cintanya yang entah akan terus berlanjut atau terhenti.


Ego seorang pria mendorongnya untuk mengucapkan kedua pilihan tersebut. Ia adalah pria, ialah yang harus memutuskan. Namun, lidahnya kelu. Mulutnya terkunci. Dan mata dan senyumnya tersimpul membalas senyum Kania.


Mata dan senyum yang hendak berbicara “keputusan ada di tanganmu Ni.”


“Dino kenapa?” tanya Kania curiga melihat senyum dan tatapan Dink yang terasa ganjal.


“Anehnya?” tanya Kania panik. Takut ada yang tertinggal dari ciumannya dengan Arman.


“Aku tidak mengerti kamu itu sedang lelah atau bahagia,” ucap Dino suaranya terdengar begitu dalam.


Jantung Kania terasa seperti ada yang menghujam. Kania menatap nanar Dino. Ingin ia menceritakan semuanya, namun apakah Dino bisa mengerti. Dan mengapa ia berharap Dino mengerti, padahal ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia terseret begitu dalam.


“Nanti aja kalau masih berat kamu ceritakan Ni,” sahut Dino, nada suaranya dipaksa terdengar menenangkan. Namun, ucapan Dino kali ini membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan Dino.


Kania mulai curiga Dino mengetahuinya. Ia menatap lekat mata Dino. menunggu Dino kembali berucap. Menunggu kecurigaannya terjawab.


Detik semakin berdetak, Dino tidak membuka mulutnya.


“Dino tahu ya?” Kania memecah hening. Ia menarik napas panjang, detik seakan berhenti di udara. Kania menunggu dengan cemas jawaban Dino.


Kali ini Dino yang menatapnya lekat, seakan banyak sekali kata yang hendak ia keluarkan. Namun, semakin banyak detik terhitung, mulut Dino tidak mengucap apa-apa.


“Aku enggak tahu. Dan aku mau dengar dari kamu saja suatu 'tahu' itu,” ucap Dino setelah terdiam beberapa saat, lalu menyeret tangan Kania ke pasar swalayan tempat ia memarkir sepeda motornya.


Nyaris air mata Kania jatuh mendengar ucapan Dino. Inilah Dino, pria yang selalu berusaha mengerti dirinya. Pria yang tidak pernah menyalahkan dirinya, dengan segala tingkah kekanakan atau cemburunya, Dino selalu mengerti Kania. Seingat Kania, selama mereka menjalin hubungan, Dino nyaris tidak pernah mempermasalahkan sesuatu. Ia menerima total apapun yang Kania lakukan. Bahkan di saat ini, Kania yakin Dino atau setidaknya ia curiga dirinya memiliki hubungan dengan Arman. Namun, Dino sekali lagi tidak berkata apa-apa. Dino menunggu.


Kenapa sih Di, kamu enggak marah. Aku cinta kamu!


Hati Kania berteriak lirih.


Awan hitam menggumpal pekat di langit malam. Sedetik kemudian, rintik menyapa tanah di bawahnya bersama hembus angin yang pelan namun menghantarkan kebekuan.


“Di,” ucap Kania serak.


“Apa Ni?”


“Aku ingin pulang.”


“Hujan Ni.”


“Enggak apa-apa.”


“Kamu yakin?”


“Iya.”


Dino menyalakan sepeda motornya, dan mereka melaju di bawah rintik dan dingin yang menyiksa.


“Di,” ucap Kania, suaranya hampir tak terdengar terbawa bunyi rintik.


“Aku cinta kamu.”


“Aku lebih mencintaimu Ni."


Kania merapatkan tubuhnya erat. Kuyup membalut tubuh sekujur tubuh mereka. Wajah merekapun tidak luput dari hempasan rintik.


Wajah mereka yang basah, menutup derai tangis yang keluar dari kedua mata mereka.