Question

Question
Pesan dari Arman



Malam semakin larut. Waktu telah menunjukkan dini hari. Suara kendaraan dan tawa sesekali terdengar di kejauhan. Kania masih membuka matanya. Denyut di kepalanya bertambah pening. Ia tidak merasakan pusing penyakit, ia merasakan semacam stres dan tekanan berlebih pada kepalanya.


Kania menoleh pada Dino di sampingnya. Tampak wajah lelah Dino terbaring dengan lelapnya. Ia teringat debatnya semalam dengan Dino. Dino terasa berubah. Dino terasa tidak mengerti dirinya. Dino biasanya selalu mengenyahkan kata seharusnya, realitanya, dan kata lain yang menyiratkan kita seakan tidak mempunyai pilihan. Dino biasanya bisa melihat dari sudut pandangnya.


Tapi semalam ia tidak merasakan itu.


Kania memeluk erat Dino. Mengenyahkan rasa kecewa dengan hangatnya kasih sayang. Kania meyakinkan dirinya, Dino masih ada di hatinya. Dino masih menjadi malaikat yang dikirim Tuhan untuk dirinya. Setitik air mata perlahan turun dari pelupuknya matanya.


Ponsel Kania berdering, terpampang nama Arman di layarnya. Arman menghubungi Kania. Kania tersadar ia sedari sore tidak membalas pesan Arman.


Kania membuka pintu dengan perlahan, khawatir menimbulkan suara berlebih dam membangunkan Dino. Begitu sampai teras, ia menjawab panggilan tersebut.


“Halo Mas,” sapa Kania dengan berbisik.


“Ni, kamu enggak kenapa-napa?” suara Arman terdengar sangat khawatir.


“Enggak Mas, aku enggak kenapa-napa. Sore tadi ada tamu Mas, jadi aku asik ngobrol sampai malam,” jawab Kania masih dengan berbisik.


“Hmm gitu,” Arman berdeham.


“Ni suara kamu pelan banget,” ucap Arman.


“Iya maaf Mas, enggak enak aku. Takut bangunin orang yang di kamar,” jelas Kania.


“Oh tamunya nginep Ni.”


“Iya Mas.”


“Tamunya temen angkatan kamu juga?”


Kania diam sejenak, menimbang jawaban yang akan diberikan kepada Arman. “Bukan Mas,” jawab Kania dengan jujur.


“Oh iya, tamunya dari mana?”


Napas Kania tertahan. Kania kembali diam, kembali menimbang jawaban.


Hening merayap di udara. Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Akhirnya kediaman ini pecah oleh suara helaan napas Arman.


“Oh iya Ni, ya udah Ni. Udah dulu ya,” ucap Arman dengan terbata.


“Mas,” sergah Kania agar Arman tidak segera mengakhiri panggilannya.


“Mas maaf ya, aku jadi buat perasaan Mas enggak enak,” ucap Kania dengan lemah dan pelan. Menyiratkan rasa bersalahnya pada Arman. Harusnya kamu enggak usah jujur-jujur amat Ni, batinnya mengumpat.


Arman tidak segera menjawab. Arman mengambil jeda untuk menenangkan perasaannya. Menekan emosinya yang telah menggumpal di dalam dada. Jangan sampai emosi itu terluapkan. Kania belum menjadi miliknya. Belum pantas ia menuruti kecemburuannya.


“Iya Ni, enggak apa-apa. Lagi juga kan wajar Ni kalau Dino menginap di sana. Dino kan pacar kamu,” tanggap Arman mencoba sediplomatis mungkin.


Kania tahu Arman sedang menutupi perasaan yang sebenarnya. Ia semakin didera rasa bersalah.


“Mas maaf,” ucap Kania dengan sangat lemah dan pelan.


“Iya Kania, aku maafin. Sudah dulu ya Ni, aku besok harus bangun pagi,” ucap Arman sama lemah dan pelannya, lalu mengakhiri panggilan.


***


Cahaya pagi menelusup wajah Dino dan Kania. Dino seketika bangun, ia lalu melihat arloji yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih cukup pagi. Ia rencana berangkat sedikit terlambat ke Basecamp. Ia ingin merapikan dan menyiapkan sarapan untuk Kania terlebih dahulu.


Dino bangun dan meregangkan badannya. Kemudian ia merapatkan selimut yang membalut tubuh Kania. Kania bergidik merasa nyaman. Dino tahu Kania tidur larut karena semalam samar-samar terdengar suara Kania sedang menelepon seseorang.


Kania berbalik, sehingga ponselnya terlihat. Dino mengambilnya agar tidak tertindih tubuh Kania.


Layar ponselnya tiba-tiba menyala, ada sebuah pesan masuk.


Terpampang nama Mas Arman di pesan tersebut.


Ni, akhir pekan kita ketemu yuk.


Isi pesan yang dibaca Dino.