Question

Question
Selamat ya, Kania!



Arman menghentikan mobilnya persis di seberang rumah Kania. Ia dapat melihat Kania yang tengah larut dalam lamunan sampai tidak mendengar suara mobilnya. Kania mengenakan dress selutut dengan corak garis horizontal berwarna hitam-putih dan sepatu snickers hitam. Kania seolah memancarkan kecantikan namun terasa gelap.


“Kania,” sapa Arman memecah lamunan Kania. Suaranya dilembutkan agar tidak terlalu mengejutkan Kania.


Kania tersadar dari lamunannya, reflek ia menoleh ke suara yang memanggil namanya tersebut. Kania tertawa melihat Arman mengenakan stelan jas hitam lengkap dengan celana dan sepatu pantofelnya yang berwarna hitam.


“Kita kok kayak mau melawat gini ya,” canda Kania sambil mengelilingi pakaian yang mereka kenakan.


“Iya ya. Tadi aku ada rapat di kantor, pulangnya langsung ke sini. Makannya tampilannya masih yahh, terlihat membosankan,” balas Arman sambil tertawa.


“Enggak kok, Mas pantas pakai itu. Jadi aura dewasa dan tuanya keluar,” puji Kania dengan nada meledek Arman. Arman mendengus, tidak terhibur dengan ledekan Kania.


“Nah kamu kenapa pakaiannya darkly seperti itu?” ucap Arman.


Kania menghela napas. Wajahnya tampak pucat tak bergairah. “Ya lagi ingin saja, kita jalan yuk,” ucap Kania, enggan meneruskan obrolan ini.


Arman mengerti, ada sesuatu yang sedang menimpa Kania. Gadis polos dan lugu seperti dirinya mudah sekali dibaca semudah kita membaca buku. Namun, Arman menahan diri untuk bertanya. Malam masih sangat panjang dan ia masih punya sejuta kesempatan.


“Kita pamit dulu sama Papa-Mama kamu,” ucap Arman.


“Tidak usah Mas, mereka sudah tidur. Tadi aku sudah ijin kok,” balas Kania datar, lalu beranjak menuju mobil Arman.


“Kita mau ke mana?” tanya Arman sambil menyusul Kania.


“Terserah Mas, kali ini aku mau Mas yang megang kendali.”


***


“Ini serius Mas?” tanya Kania dengan masih belum bisa menghentikan tawanya.


“Iya serius,” jawab Arman. Ia juga tersenyum geli dengan idenya sendiri.


“Dengan pakaian kita yang seperti ini?”


Arman membuka jas dan mencopot dasinya, memperlihatkan kemeja polos yang kancing atasnya sudah dibuka satu. “Iya serius Kania, kamu keberatan?”


“Ya enggak sih, cuma merasa aneh saja. Maksud aku, seorang Mas yang dewasa dan wah gini ternyata masih kekanakan juga ya,” ledek Kania yang tawanya mulai mereda karena perutnya mulai sakit kebanyakan tertawa.


“Hmm ketika aku kecil Ni, setiap aku mendapat penghargaan atau prestasi, orang tua aku pasti mengajak ke taman bermain atau pasar malam seperti ini. Katanya keriuhan dan kebahagiaan yang ada di sini sangat sesuai untuk merayakan sesuatu.”


“Dan karena kamu masih seperti anak kecil, tempat ini benar-benar sesuai untuk merayakan kelulusan sidang skripsi kamu,” ledek Arman.


"Selamat ya Kania," ucap Arman lembut sambil mengusap kepala Kania.


“Ihh,” Kania mendengus.


“Aku sudah dewasa tahu, buktinya sudah lulus kuliah,” balas Kania dengan memasang wajah cemberut.


Arman seketika diam menatap Kania dengan serius dan dalam. Kania menarik napas, bingung dengan makna tatapan Arman.


“Ni,” wajah Arman mendekat ke Kania. Kania tidak bereaksi, sejuta pikiran terbesit dalam pikirannya.