Question

Question
Quality Time?



Pantulan matahari menerpa kaca kafe Agape. Kania pindah posisi duduk, tidak kuat menahan pantulan cahaya yang berkilau-kilau memedihkan matanya. Kania mengenakan sweater hoddie berwarna merah gelap dengan rok span berbahan babbyterri yang berwarna selaras dan sepatu kets putih. Rambutnya yang dikuncir secara sembarang sehingga bagian yang dikuncir tampak berantakan menambah kesegaran penampilannya yang terkesan kasual namun santai.


Pramusaji datang membawa pesanan Kania, pramusaji meletakan piringan pillow cake with snow ice strawberry dan ice white chocolate mocha dengan perlahan, lalu menatanya sehingga bagus jika diupload di media sosial. Mata Kania membelalak, takjub dengan tampilan pillow cake yang manis dan menggemaskan.


“Silahkan Bu,” sapa pramusaji dengan sangat ramah, seolah ia adalah pemilik kafe. Atau kekasih pemilik kafe. Apasih Ni, Kania bergumam mengusir pikirannya tadi. Namun tatapan mata pramusaji yang penuh hormat ini membuat pikiran itu kembali terbayang.


Selang beberapa waktu, Arman tiba di kafe Agape. Arman membuka pintu dengan tergesa sehingga menimbulkan suara yang keras yang membuat semua mata memandangnya, termasuk Kania. Arman mengenakan kemeja putih polos tipis sehingga membentuk lekuk badannya yang bidang dengan celana bahan dan sepatu pantofel hitam mengesankan tampilan semi formal. Arman terpukau melihat tampilan Kania. Wajahnya yang cantik dengan perawakan Kania yang ceria seketika mengenyahkan kesedihannya kemarin. Sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial dengan yang dikenakan Kania. Tampilan ini sudah beberapa kali ia lihat, namun tetap saja Arman terkesima. Segala sesuatu yang dihadirkan Kania terasa segar, seolah Kania memang peri yang menjelma manusia.


“Maaf nunggu lama, ada berkas yang tertinggal di kantor. Aku kira akan waktu sebentar jika aku ambil dahulu, tapi ya kau tahu jalanan Jakarta, tidak bisa diprediksi,” keluh Arman dengan berbicara rada cepat.


Tawa Kania pecah melihat tingkah Arman. Ia tidak habis pikir mengapa Arman merasa sangat bersalah kepadanya. Arman terpaku, bingung merespon tawa Kania yang dianggapnya sangat random.


“Mas tuh, lebay banget. Ya enggak masalah Mas, baru telat 15 menit. Kecuali telat lima jam atau malah batal, baru aku marah dan gak akan mau lagi ketemu Kania,” balas Kania, sambil tertawa, lalu pipinya mengembung dan bibirnya menyungging mengancam Arman. Keringat menetes dari dahi Arman. Satu, keringat karena ia tadi setengah berlari dari lapangan parkir menuju kafe, dua, keringat karena menahan kesadarannya yang nyaris roboh hendak menyerang Kania yang sangat ekspresinya tampak menggemaskan.


“Aku malah jadi ingin sekali melakukannya Ni, kalau ekspresi kamu nanti seperti ini,” ucap Arman ringan sambil mengelap keringat di wajahnya.


“Kenapa?” tanya Kania dengan nada serius.


“Tapi manisnya kalau lagi seperti itu saja. Sisanya..,” Arman menahan ucapannya.


“Apa?” tanya Kania tidak sabar.


“Sisanya nyebelin kayak anak kecil,” ledek Arman sambil tertawa.


Kania yang jengkel jika disebut anak kecil reflek mencubit kencang tangan Arman.


“Mas tuh yang udah tua,” Kania mendengus, sambil tetap mencubit tangan Arman.


“Aduh” Arman meringis namun ia masih tetap tertawa.


“Rasain,” Balas Kania sengit karena ia merasa diledek tawa Arman.


Rasa gundah Arman benar-benar sudah lenyap. Ia berharap waktu berhenti selamanya.