
Jessica menyusuri lorong menuju ruang sidang. Langkah kakinya terasa lambat. Kedua tangannya penuh memegang dua tangkai bunga dan buket bunga mawar merah, putih, dan biru yang dihias sedemikian rupa sehingga terlihat indah. Di tengah bunga terselip sebuah kartu selamat yang terpampang nama Arman. Semalam, Arman menemui Jessica dan menitipkan buket bunga tersebut kepada Kania.
“Lo aja yang kasih Man, gue gak mau,” tolak Jessica dengan ketus. Jessica tidak berani mengantarkan buket bunga tersebut. Tidak ketika ada Dino di hadapannya.
“Lagi bukannya Kania minta lo datang,” sambung Jessica masih dengan nada yang ketus.
“Iya dia minta gue datang. Tapi gua enggak mau kesana. Gua belum mau melihat kekasihnya Kania,” ucap Arman tanpa menoleh ke Jessica.
“Gue mau kekasihnya Kania melihat gue sebagai saingannya bukan sebagai teman Kania.”
“Jadi tolong gue ya, gue titip buket bunga ini ke lo,” mohon Arman dengan penuh harap.
Jessica diam. Ia menghela napas panjang. Mengeluh kepada nasib yang memberikannya situasi buruk.
Jessica sudah tiba di depan ruang sidang. Tampak Dino dan Saras sedang berdiri menunggu Kania. Jessica langsung menghampiri Saras dan mengucapkan selamat kepadanya dengan penuh bahagia. Ia memberikan satu tangkai bunga kepada Saras. Dino melihat buket bunga yang dipegang Jessica dan kartu ucapan selamat yang ditujukan untuk Kania. Dari Arman. Siapa Arman? Batinnya bergumam. Jessica meletakan buket bunga dan satu tangkai bunga yang digenggamnya pada sebuah kursi. Ia dan Saras menyadari Dino tengah melirik buket bunga tersebut dengan curiga. Raut wajah Jessica dan Saras tegang, takut Dino bertanya buket bunga tersebut dari siapa.
Suasana menjadi kaku, Dino diam menunggu penjelasan Jessica, sedangkan Jessica terus berbicara dengan Saras mengalihkan Dino agar tidak bertanya.
“Aku gak lulus,” ringis Kania sambil terus menangis membasahi kemeja Dino.
“Sabar Ni,” Dino mengelus bahu Kania. Mencoba menenangkannya. Jessica, Saras, dan para peserta sidang lain diam, bingung harus bersikap apa.
“Kania, harap masuk kembali ke ruang sidang!” perintah seorang pegawai yang bertugas membuka dan menutup pintu sidang.
Kania masuk kembali ke ruang sidang dengan lemas. Wajahnya ia tundukan, menyembunyikam matanya yang mengembang karena menangis.
“Yang lain harap tenang,” tegur pegawai tersebut, lalu menutup pintu.
Para peserta berbisik-bisik membicarakan Kania. Dino, Jessica, dan Saras terpaku cemas menunggu Kania.
“Serius saya lulus Pak,” teriakan Kania menggema sampai kelular kelas. Semua telinga yang mendengar menghela napas lega karena Kania lulus, jadi tadi dia hanya dikerjai saja oleh dosen-dosen pengujinya. Dino membungkuk mendengar Kania lulus. Sebenarnya tadi ia sudah buntu bagaimana bisa menyemangati kembali Kania.
Pintu kembali dibuka, Kania langsung berdiri dan menubruk Dino yang masih lemas sampai terjerembab di lantai. Bibirnya langsung mencium Dino dengan buasnya. Semua mata bersorak riuh melihat mereka berciuman.