
Terik matahari berpendar membentuk bulatan kuning yang menyilaukan mata. Udara siang ini terasa panas dan kering. Kania membuka cardigan berwarna kuning pastel yang dikenakannya, lalu mengikatnya di pinggang. Mengharap angin yang jarang berhembus mendinginkan suhu tubuh. Tampak sekujur tubuh Kania telah bermandikan keringat. Namun peluh keringat ini terbayar oleh suka cita kegiatan yang sedang ia lakukan.
Tadi, Dino mengajaknya ke Basecamp. Dino hari ini bertugas mengecek sumbangan bulanan rutin yang diberikan Basecamp kepada warga sekitaran Basecamp. Kania menyetujuinya karena pertama ia bosan berada di kamar kos, kedua ia juga merindukan anak-anak yang ada di sekitaran Basecamp, dan ketiga ia ingin bertemu Dino. Kania ingin meminta pendapat Dino mengenai tawaran kerja yang diberikan Arman.
Dino dan Kania tiba di salah satu rumah. Tampak di depan mereka bangunan semi permanen dengan dinding campuran antara kayu dan papan kayu triplek yang terlihat mulai lapuk bil di beberapa bagian. Dino dan Kania beruluk salam, menyapa penghuni rumah. Sebuah suara anak perempuan menyahut membalas salam mereka, lalu tak lama anak perempuan itu menghampiri Dino dan Kania. Dino dan Kania tersenyum melihat anak perempuan berkulit hitam manis yang sedang dikuncir kuda di depannya ini. Mata Kania membelalak melihat anak perempuan yang sudah dikenalnya ini berjalan dengan disangga kedua tongkat kayu, terlihat kaki sebelah kanannya penuh dengan perban, dari mulai lutut sampai pergelangan kakinya.
“Layla kamu kenapa?” tanya Kania histeris.
“Kemarin waktu ngamen kena tabrak mobil dia Ni,” tanggap Dino.
“Hah, kok bisa?” Kania semakin bertambah khawatir mendengar ucapan Dino.
“Aku sedang bercanda sama teman-teman, enggak lihat jalan. Eh tahu-tahu sudah ditabrak,” jawab Layla sambil senyum menyengir dengan santainya.
“Ih kamu mah ada-ada saja, kamu tuh harus hati-hati kalau di jalanan,” omel Kania. Dino dan Layla tertawa melihat wajah panik dan sebal Kania yang menggemaskan.
“Ih kok diketawain,” gerutu Kania.
“Kak Kania cantik kalau lagi marah,” goda Layla.
Layla menyilakan masuk Dino dan Kania. Mereka duduk di atas tikar di ruang depan, di pojok ruangan tampak tumpukan bantal dan selimut yang sudah tersusun rapi, menandakan ruang depan ini juga digunakan sebagai kamar tidur. Rumah Layla memang hanya seluas dua petak berukuran sedang. Di belakang ruang depan ini, ada ruang dapur plus ruang makan yang terbagi juga dengan kamar mandi.
Dengan terseok-seok, Layla menuju dapur untuk menyediakan jamuan kepada Dino dan Kania. Kania ikut dengan Layla sekalian membantu Layla menyiapkan jamuan. Dino dan Kania menunggu orang tua Kania pulang bekerja mengais sampah.
Tidak perlu menunggu lama, terdengar decit roda gerobak terparkir di depan rumah Layla. Lalu, tak lama masuk Bapak dan Ibu Layla.
“Eh Den Dino sudah datang,” sapa Bapak Layla dengan hangatnya. Dino langsung berdiri dan bergantian menyalami Bapak dan Ibu Layla.
“Jangan Den, tangan saya kotor,” Bapak dan Ibu Layla menarik tangannya dengan pelan, agar Dino tidak tersinggung. Namun Dino tetap menarik dan mencium tangan mereka.
Kania dan Layla mendengar keributan di depan. Mereka dengan cepat membuat lagi dua cangkir teh manis hangat dan beranjak dari dapur.
“Eh ada Non Kania juga, duh sini Non biar Ibu saja,” sapa Ibu Layla dan dengan segera mengambil nampan yang dibawa Kania.
Mereka duduk melingkar. Dino mulai melakukan tugasnya. Kania menyimak Dino. Hatinya terhenyak melihat Dino begitu serius dengan pekerjaannya.
Mungkin seperti inilah kerja sesuai dengan hati.