Question

Question
Kejadian Pagi Ini



Kania sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia mengenakan long white shirt dengan panduan vest berwarna merah dan celana panjang monokrom motif garis hitam-putih – paduan busana yang mengesankan nuansa cerah.


Dino termangu menatap Kania yang asik merias diri. Sebenarnya sedari tadi ia berpikir, Kania memang tidak membalas pesannya karena memang tidak mau diantar atau lupa untuk membalas. Hanya nalurinya mengatakan lebih baik tidak usah ditanya dan Dino menurutinya.


“Udah yuk,” ucap Kania sambil mengecek kembali peralatan kerjanya.


“Jadi kamu mau aku antar?” tanya Dino menegaskan.


“Ya masa enggak Di. Dino kan juga sudah ada di sini,” tanggap Kania ringan. Padahal, tadi ketika mandi, ia mendadak gelisah, khawatir jika Arman datang tiba-tiba seperti Dino. Jika memang terjadi, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Beruntung ketika ia mengecek pesan, Arman tidak menghubunginya. Pelajaran untuknya, agar lebih responsif dan tidak memulurkan sesuatu.


Dino dan Kania beranjak dari kamar kos Kania. Dino menyerahkan helm kepada Kania, lalu menyalakan mesin motornya dan menunggunya panas. Ketika Kania sedang mengaitkan helm, Kania menoleh ke arah kiri. Hatinya terasa tertekan sesuatu, keringat mulai menetes membasahi lehernya. Dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil yang mirip dengan mobil Arman. Kania melihat samar, pengemudinya berada di dalam mobil. Namun Kania yakin sosok di belakang kemudi itu adalah Arman. Jantungnya berdetak cepat tak karuan.


“Kenapa Ni?” tanya Dino yang ikut penasaran dan melihat ke arah mobil itu. “Kamu kenal?”


“Engg-enggak Di. Udah jalan yuk,” jawab Kania terbata, lalu bergegas duduk di motor. Dino hanya mengangguk bingung sambil melajukan sepeda motornya.


***


Arman melihat dengan jelas Kania turun dari tangga bersama Dino. Senyum Kania mengembang dengan cerianya. Arman juga melihat Kania yang terkejut ketika menatap mobilnya. Ada harapan Kania mau menghampirinya sehingga ia yakin Kania adalah wanita yang pantas ia perjuangkan, namun rasanya harapan itu terlalu muluk. Arman kembali menelan kenyataan pahit, Kania masih jauh untuk digapai. Rasanya momen-momen indah kemarin ketika berdua lenyap tidak ada artinya.


Arman mengambil ponselnya, lalu menghubungi Jessica.


“Enggak tahu Man, enggak usah main teka-teki ya,” tanggap Jessica sinis, ia tahu jika suara saudaranya semenyedihkan ini berarti ada hubungannya dengan Kania.


“Gue ada di kos Kania,” ucap kembali Arman masih dengan suara yang sama.


“Hah?” sergah Jessica. Tidak percaya dengan yang ia dengar.


“Enggak di dalam kamar kosnya, ada di dekat sana. Tadinya gue mau inisiatif jemput Kania. Semalamnya udah gue tawari, Kanianya enggak jawab. Gue kira karena dia lelah, ternyata dia berangkat sama Dino.”


“Serius Man, terus lo ketemu Dino?” teriak Jessica. Pagi ini benar-benar sangat menghebohkan.


“Ya enggak, gue lihat mereka dari jauh. Tapi Kania sempat melihat mobil gue dan gue yakin kalau Kania tahu itu gue. Tapi,” Arman menelan ludah. Sulit sekali mengeluarkan kata yang menggoreskan luka di hatinya ini.


“Kania enggak menghampiri gue.”


Hening merambah di udara. Jessica memutar otak, mencerna kejadian yang tiba-tiba ini. Ia tidak tahu harus menanggapi apa.


“Jess, gue mau ngobrol. Kita ketemu yuk” pinta Arman, suaranya terasa semakin dalam dan serak.


“Duh nanti deh ya Man. Gue ada kuliah, gue juga lagi pusing sama hubungan gue. Lo juga sih berani main api, tanggung risikonya,” tanggap Jessica, lalu menutup panggilannya.