Question

Question
Dunia yang Terasa Asing



Yoga tiba di rumah Jessica. Mata Yoga membelalak, terpana melihat bangunan di depannya – sebuah rumah luas berwarna putih dengan tiga tingkat berdesain khas bangunan Belanda masa silam, di depannya terpampang sebidang luas halaman yang di kanannya berbaris lima mobil dan di kirinya terhampar miniatur taman dengan hamparan warna warni bunga tulip dengan pelbagai jenis. Tulip double late yang berwarna paduan merah mudah lembut dan putih, tulip griegi yang berwarna merah dan kuning pekat menyala, tulip darwin hybrid yang ungu legam, dan tulip triumph yang berwarna merah gelap. Tulip ini tengah bermekaran karena sekarang sudah memasuki bulan April.


Yoga menelan ludah. Wanita yang sekarang berdampingan dengannya ini memang memiliki kehidupan yang jauh berbeda. Kehidupan yang tidak pernah ia khayalkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun. Yoga memang tahu kalau Jessica berasal dari kekuarga kaya, namun ia baru tahu kalau keluarga Jessica sangat kaya. Jessica seperti seorang putri istana. Jauh sekali dibandingkan dengan dirinya.


Semakin lama, dorongan hati yang memintanya mundur semakin mendera. Yoga semakin tidak bisa melihat masa depan hubungannya dengan Jessica. Jika dipaksakan, sudah pasti akan berakibat buruk. Yoga menghela napas, lalu kembali melangkah dengan enggan.


Di teras depan Jessica, tampak Jessica sedang bersama seorang pria dewasa. Tubuh pria itu tampak tegap dengan hidung yang mancung, mata bulat yang tajam dan rambut hitam rapi. Lain sekali dengan dirinya yang kurus, rambut pendek dan lurus dengan kacamata bulat khas kutu buku.


“Man lo gila ya, kan udah gua bilang jangan,” ucap Jessica sambil meradang. Yoga masih berdiri dengan canggung. Ia kembali menatap pria itu yang sedari tadi menunduk. Jadi ini yang namanya Arman, karismanya sama kuat seperti Bang Dino tapi terasa sangat berbeda, gumam Yoga.


“Gue enggak tega Jess, gue kan sudah janji enggak mau melihat Kania menangis,” balas Arman membela diri.


Wajah Jessica memerah, tersentak dengan ucapan Arman. “Bukan cuma lo Man yang peduli sama Kania. Lo pikir gue enggak peduli sama dia. Tapi orang tuanya sudah melarang kita membantunya mencari kerja. Kita kan bisa membantu Kania dengan cara lain,” raung Jessica.


“Cara apa?”


“Ya kita bisa bantu memenuhin kebutuhan makannya atau bayar kosnya, atau apa saja selain tawarkan kerja,” jawab Jessica dengan ketus.


“Loh Kania ngekos?” Arman tersentak mendengar ucapam Jessica.


Kania tergagap. Ia mengutuki dirinya. Merasa bodoh tidak bisa menjaga rahasia.


“Jawab Jess!” pinta Arman dengan tegas.


“Jawab Jessica!” suara Arman semakin meninggi. Yoga yang sedari tadi mematung turut tersentak.


“Iya!” balas Jessica sama tingginya.


“Tapi lo diam saja pura-pura tidak tahu, Kania sendiri yang minta dirahasiakan,” perintah Jessica.


“Kalau gitu, gue semakin yakin keputusan gue benar. Persetan sama orang tua Kania. Gue sayang sama Kania, bukan orang tuanya,” ucap Arman dengan dalam dan tegas.


Mereka bertiga terdiam. Arman dan Jessica mengatur napasnya, menenangkan kembali emosinya. Yoga terdiam mematung tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ingin rasanya ia menghilang saja dari sini.


Jessica yang mulai tenang baru menyadari Yoga sedari tadi berdiri.


“Sayang, maapin ya,” ucap Jessica sambil menarik tangan Yoga, menyilakan dirinya duduk.


“I-iya,” balas Yoga terbata. Lalu duduk di samping Arman.


Yoga menjadi kaku. Sosok Arman terasa sangat besar dan menekan dirinya. Arman menjulurkan tangannya, hendak menyalami Yoga. Yoga menerima uluran tangan Arman. “Arman,” ucap Arman terasa sedikit tegas di telinga Yoga.


“Yoga,” jawab Yoga lemah.


Yoga semakin ingin berlari meninggalkan dunia yang asing dalam hidupnya ini.