Question

Question
Semoga Semua Baik-baik Saja



Dino memandang langit-langit kamarnya. Tatapannya terasa kosong, tatapannya terasa jauh di cakrawala. Ia masih mengenakan kemeja flanel bermotif biru dan kuning dan celana jeans, bahkan dengan sepatu converse yang masing mengikat di kakinya.


Dino tadi sudah siap akan menjemput Kania, namun Kania punya urusan mendesak dan akan pulang sendiri. Dengam berat hati, ia kembali melangkah ke dalam kamar. Lalu bingung sendiri hendak melakukan apa.


Dino merasakan kekosongan. Rindu yang tertahan ini terasa pilu dan menyedihkan. Dino berkaca kepada dirinya. Mungkin perasaan inilah yang diderita Kania, setiap ia larut dalam urusan volunteer. Memang berat untuk menyetujui permintaan Kania tadi, namun ia tidak bisa egois, ia pun sangat sering memilih pekerjaannya dibanding Kania.


Namun, Dino tidak bisa mengenyahkan bayang-bayang kekhawatiran masa depan. Langkah hubungannya terasa sangat samar. Langkah Dino dan Kania terasa semakin berjarak. Nanti, waktu-waktu bersama akan semakin sedikit. Sebagian besar hari Kania akan dihabiskan untuk bekerja, mungkin hanya weekend Kania bisa libur, sedangkan weekend belum tentu Dino tidak mempunyai urusan, karena memang kegiatan volunteering tidak mempunyai jadwal yang pasti.


Satu lagi, Mas Yon tadi memberi tahu bulan depan ia akan berangkat ke Kediri. Mas Yon kembali meminta dirinya ikut bersamanya. Dino diminta segera memutuskan ikut atau tidak. Ingin rasanya Dino menolak. Dino ingin memiliki waktu bersama Kania yang sekarang telah semakin sedikit. Namun, hatinya dengan keras mengetuk dirinya untuk ikut dengan Mas Yon.


Dari hari ke hari, ia semakin yakin bahwa jawaban dari pertanyaannya ada ketika ia ikut dengan Mas Yon.


Baru setelah ini selesai, setelah ia mengenal diri dan jalannya. Dino kembali memutuskan dirinya tetap berada di dunia volunteer atau tidak. Dengan segala risiko yang terdampak nanti.


Mas Didi terhenti di kamar Dino. Ia heran melihat Dino termenung.


“Sampeyan ribut Di sama pacar?” tanya Mas Didi dengan antusiasnya. Ia menyulut sebatang rokok, lalu tanpa diminta sudah duduk di dalam kamar Dino. Dino menelan ludah, sebenarnya ia tidak ingin diganggu. Namun tidak mungkin ia meminta Mas Didi pergi begitu saja.


“Enggak Mas,” balas Dino sekenanya. Mas Didi diam sejenak, menikmati isapan rokoknya. Dino semakin yakin Mas Didi akan lama berada di kamarnya.


“Di maaf ya sebelumnya, aku mau tanya ya. Pacar sampeyan itu orang ada ya?”


“Kenapa emang Mas?” tanya Dino dengan tatapan yang sinis.


“Ya enggak Di. Kalau emang iya kaya, kamu mending jangan terlalu larut,” jelas Mas Didi.


“Mas saya tidur duluan ya,” ucap Dino dengan jengkel. Lalu pura-pura terbaring tidur. Ucapan Mas Didi semakin menambah gelisah dalam dirinya.


Saat ini, ia hanya bisa berdoa. Berdoa agar hubungannya dengan Kania baik-baik saja.


***


Ni kamu ngekos, dari kapan?” tanya Arman dengan raut wajah yang dibuat penasaran.


“Iya Mas,’” ucap Kania. Kania lalu menceritakan keputusan aneh kedua orang tuamya. Arman memaksakan diri tertawa agar tampak seakan ia baru mendengar. Arman sudah tahu Kania mengekos dari percakapannya dengan Jessica tempo hari.


Kania yang tidak bisa membaca gelagat seseorang, reflek mencubit bahu Arman, sebal karena ditertawakan. Tidak lama ia menguap diiringi mata yang berair karena lelah.


“Ni, kamu istirahat ya,” ucap Arman dengan lembut, lalu mengiring Kania sampai pagar kos Kania.


“Iya Mas juga hati-hati ya. Jangan ngebut,” pinta Kania sambil.menggenggam tangan Arman. Jantung Arman seketika bedegup kencang.


Kania tidak lama segera masuk ke dalam kosnya.


“Ni,” ucap Arman menahan langkah Kania.


“Besok boleh aku jemput?”


Kania diam. Dua bulir keringat membasahi dahinya. Sulit sekali berkata iya dan sulit sekali berkata tidak.