
Dahi Arinta berkerut, ucapan Pak Abdul membuat moodnya bertambah buruk. Tidak seperti Dino dan rata-rata volunteer lain yang dapat dikatakan menghormati Pak Abdul dengan penuh kekaguman dan penghargaan, Arinta memang menanggapi Pak Abdul biasa saja – tidak terlalu akrab atau anti. Sebenarnya kesan biasa saja ini tidak hanya untuk ke Pak Abdul, kesan biasa saja ini ia sikapi juga ke semia rekan volunteer baik yang ada di Basecamp maupun rekan volunteer undangan.
Arinta memang tidak terlalu menjiwai dunia dan volunteering sebagaimana Dino dan Pak Abdul. Ia menganggap dirinya ada di sini hanya sebatas bekerja. Tidak lebih. Jika ia diberi pilihan, ia lebih tertarik bekerja di rumah sakit karena sudah pasti ia mendapat gaji dan tunjangan yang lebih besar dibanding ia bekerja di Basecamp. Ia akan bisa mengenakan pakaian perawat yang memiliki daya magis kecantikannya sendiri, tidak seperti sekarang digerayangi nyamuk dan dinginnya udara malam. Sayangnya, tingkat pendidikan Keperawatannya yang hanya sampai Sekolah Menengah Kejuruan membuat kesempatan itu sulit terwujud di jaman sekarang. Rumah sakit tentu lebih tertarik merekrut perawat yang berasal dari Akademi karena lebih berkualitas dan berkompeten dibanding dirinya. Arinta juga tidak bisa meneruskan pendidikannya ke Akademi, meski sebenarnya ia sangat ingin. Ia merupakan tulang punggung keluarga, menanggung kehidupan Ibu yang sudah tua dan Kedua adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Menengah Pertama, menggantikan Bapaknya yang sudah tiada.
Keadaan tersebut membuat dirinya harus mengesampingkan keinginan seperti melanjutkan kuliah dan yang lainnya. Keluarga harus selalu menjadi nomor satu. Arinta tidak bisa menyisihkan pendapatannya yang sudah minim dan hanya cukup sebatas membiayai keperluan sehari-hari untuk biaya kuliah. Sebenarnya Basecamp pernah menawari beasiswa kepada Arinta, tetapi ia menolak. Alasannya adalah Basecamp hanya membiayai uang semesternya saja, tidak dengan urusan lainnya dan ia akan kehilangan waktu membimbing adik-adiknya. Ia harus bisa menjadi seorang ayah untuk kedua adiknya.
Karena hal tersebutlah, Arinta benci ketika Pak Abdul mengucapkan dirinya tidak punya pilihan lain. Sikap pesimis Pak Abdul membuatnya lebih segan dan menjaga jarak dari Pak Abdul. Bagi Arinta, Pak Abdul seperti orang munafik, seorang yang secara sadar memilih jalan hidup yang seperti lalu merasa dirinya seakan hanya terbawa nasib. Pak Abdul sudah memilih, dengan penuh keegoisannya. Keegoisan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lakukan dalam hidupnya. Arinta yang lebih sadar bahwa dirinya yang tidak pernah memiliki pilihan.
“Kau mungkin tersinggung ya dengan ucapan saya,” ucap Pak Abdul memecah lamunan Arinta.
Arinta masih diam.
“Maksud saya, kamu sama seperti Dino. Kamu masih muda. Kamu masih bisa meningkatkan kehidupanmu sekarang kalian. Kalian masih akan menemukan sejuta makna baru dalam kehidupan yang akan membawa kalian pada sejuta kemungkinan untuk berubah.”
“Ya kalau begitu, Bapak juga masih punya pilihan kan,” balas Arinta dengan ketus.
“Bapak pernah mendengar adanya kesempatan kedua?”
Pak Abdul memejamkan mata, senyumnya mengembang mendengar ucapan Arinta yang ketus.
“Itu yang tidak saya miliki Rin.”
“Pernahkah kamu merasa waktumu sudah semakin dekat?”
Udara malam kembali berhembus menerpa mereka. Suaranya lirih dan sendu.