
Dedaunan pagi tampak basah dibalut embun. Setitik air menyusur ke ujung daun, hinggap sebentar lalu jatuh terhempas aspal jalan. Di rantingnya, sepasang burung pipit tengah mengibas bulu-bulu mereka, menghempas embun yang memandikan tubuhnya. Cuitan mereka terdengar bersahutan turut merayakan bangkitnya matahari.
Di bawahnya, terlihat lalu lalang manusia melangkah. Ada yang sedang memacu kendaraannya perlahan, ada yang berjalan kaki dengan enggan. Angin dingin berhembus menerpa wajah mereka yang menjadi semakin ngantuk, namun mau-tidak mau mereka harus melangkah menuju rutinitasnya masing-masing.
Kania bergidik merasakan udara dingin dari tengkuknya. Hidungnya terasa tersumbat seperti orang yang sedang flu. Penyakit orang yang bangun pagi jika sudah terbiasa bangun siang. Ia melirik kaca, mengecek kembali dirinya. Kemeja putih dengan blazer hitam dengan paduan celana kantor slim fit dan sepatu wanita formal. Rambutnya tergerai lurus dan berkilau dengan alis, bibir, pipi, dan tengkuk mata yang dirias tidak terlalu mencolok, namun memancarkan kesegaran. Penampilannya sempurna. Hanya ia tidak menampik air mukanya yang sembab karena masih mengantuk ini lumayan mencoreng tampilannya.
Selang berapa menit ia menatapi kaca, ponselnya berdering. Pengemudi ojek dari memberitahunya jika ia sudah ada di depan pintu kamar kos. Kania mengatakan tunggu, lalu segera beranjak dari kamar kos.
***
Arman terhenyak menatap tampilan Kania di depannya ini. Matanya menyusur dari bawah kaki Kania sampai ke wajahnya. Wanita yang biasanya berpenampilan santai dan cenderung childly ini ternyata cantik juga jika berpenampilan formal.
“Ni,” ucap Arman. Masih tidak percaya di depannya benar Kania.
“Kamu enggak jadi melamar di sini?”
“Hah jadi kok Mas, ngapain juga aku ke kafe pagi-pagi Mas kalau enggak jadi melamar,” jawab Kania bingung dengan maksud pertanyaan Arman.
“Aku kira enggak jadi. Aku kira kamu melamar jadi sekretaris di perusahaan mana gitu. Pakaian kamu itu loh, formal banget,” ucap Arman sambil tersenyum menggoda Kania.
“Hah iya apa Mas, salah pakaian ya aku? Jadi malu,” tanggap Kania membalas senyum Arman.
Kania menundukkan wajahnya. Wajahnya memerah mendengar ucapan Arman. Beruntung bloss on yang ia sapukan dapat menyembunyikan rona merah tersipu itu.
***
Arman baru selesai mengecek berkas Kania dan sekarang mereka sedang menyantap kudapan siang karena pukul dua belas nanti Arman harus ke kantor. Ketika mengecek berkas, tadi Arman sempat menanyai dirinya. Pertanyaan Arman benar-benar teknis layaknya seperti pelamar yang tengah diinterview. Kania sempat terbesit Arman memang tadi bersikap formal atau hanya dibuat-buat. Bagusnya Kania juga menyikapi pertanyaan Arman dengan serius. Rencana yang sudah ia susun kemarin untuk membangun jejaring media sosial yang efektif meningkatkan penjualan semuanya tersampaikan. Arman terpukau dengan ide Kania. Ternyata ia benar-benar antusias bekerja di kafe.
“Ide kamu brilian juga ya Ni,” puji Arman.
“Ya kan aku bilang Mas yang aku butuhkan itu kesempatan. Sayang tempat-tempat aku melamar kemarin lebih melihat pengalaman,” jelas Kania.
Kania tadi juga berpendapat, menurutnya Arman harus mengganti nama kedai kopinya mengikuti nama-nama kedai kopi sekarang untuk mengikuti trend.
“Nama Agape bagus, filosofis. Hanya Mas, kesannya tuh bapak-bapak banget, aku tahu karena kebetulan aku suka kopi. Coba misalnya aku awam, terus aku iseng lihat zomato, pasti aku enggak akan penasaran dengan nama kafe Agape,” sindir Kania.
“Terus mau diganti dengan nama apa?” ucap Arman serak, sedikit keberatan dengan ide ini.
“Bicara Rasa, sepertinya pas dengan desain interior kafe Agape,” jawab Kania sambil merentangkan tangannya.
Arman termenung. Jantungnya berdegup hangat. Sepertinya mimpinya dahulu bersama Laras dengan terwujud dengan dengan Kania.