Question

Question
Pasar Malam (2)



Bialala berayun dengan lambat, menenangkan Kania yang terhenyak menatap pemandangan kota sambil mengunyah gulalinya. Tatapan Kania terasa jauh, Kania seolah terseret jauh, bernostlagia dengan masa kecilnya. Masa di mana semua hal yang masih terasa mudah dan menyenangkan. Ia tidak pernah disibukan dengan gundah, dengan ketakutan akan ketidakpastian dan harapan yang membelenggu diri seperti sekarang. Sewaktu kecil, ketika ia berada di puncak ketinggian bianglala, ia selalu membayangkan ada bintang jatuh dan ia akan memejam mata lalu mengucapkan mimpi-mimpinya. Sekarang ketika ia berada di puncak ketinggian bianglala, ia memejamkan mata, berdoa persis seperti ketika ia kanak-kanak. Namun, hanya satu yang ia harapkan. Dino. Semoga Dino bisa hadir di wisudanya. Kehadirannya membawa suatu kepastian yang dapat menyirnakan kegelisahannya.


Dalam gumaman Kania, setitik air mata turun dari matanya.


Dorongan gairah Arman untuk mengungkapkan perasaannya ke Kania lenyap seketika ketika ia melihat Kania menangis. Dada Arman terasa seperti disayat. Amarah menggumpal di dadanya. Ia tahu tangis Kania untuk Dino. Ia kira segala keseruan dan kesenangan tadi dapat membuat Kania lupa, atau setidaknya memalingkan sejenak Dino dari pikirannya. Namun ternyata tidak bisa. Kehadiran Dino sangat besar membalut diri Kania. Arman merasa terpukul menyadari hal ini.


Dengan penuh gundah dan kalah, Arman mengumpulkan kembali semangatnya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kania.


“Ni,” sapa Arman lemah. Suaranya parau menumpahkan kesesakannya.


“Aku.."


“Mas,” potong Kania sambil memalingkan pandangannya ke samping, menatap pemandangan kota. Matanya masih tampak berkaca dan Kania seakan tidak peduli Arman melihatnya.


“Aku terima kasih sama Mas. Mas selalu bisa menghibur aku. Ketika aku jatuh, Mas seolah selalu ada di sana menarik lenganku. Mas selalu bisa melepaskan penatku, dan itu benar-benar membuatku nyaman.”


“Ni, aku..”


“Mas tahu enggak,” Kania kembali memotong ucapan Arman.


“Belakangan ini ada pertanyaan yang muncul di kepalaku. Dino itu lebih pilih aku atau dunianya ya. Bukannya aku keberatan dengan dunia Dino. Toh ia sudah dari dulu memimpikan dunia tersebut dan sekarang sudah kesampaian. Dan lagipula ia dan dunianya itu yang membuatku jatuh hati kepadanya. Aku masih merasa ia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk semua orang. Untuk diriku.”


“Ni, aku..”


“Tetapi belakangan ini pertanyaan tersebut benar-benar mengutuk pikirannku. Meski aku enyahkan ia tidak hendak pergi juga. Mungkin aku cemburu dengan dunia Dino.”


“Dan Mas tahu enggak,”


“Aku mencintaimu Ni.”


Kania terpaku mendengar pernyataan Arman. Bibirnya tidak bisa digerakan. Pikirannya pernah terbesit hal ini. Ketika Arman mengungkapkan perasaan kepadanya dan ia sangat takut itu terjadi.


Dan sekarang itu telah terjadi.


Udara malam menerpa mereka. Udaranya terasa begitu lirih dan sendu.


“Aku mencintaimu Ni. Dari pertama kita bertemu aku telah jatuh hati padamu. Keceriaan dan keluguan kamu sangat indah Ni. Kamu begitu hidup. Kamu mewarnai hidupku. Tetapi aku tahu, kau sudah memiliki seseorang di dalam hatimu. Seorang yang telah membentukmu menjadi sedemikian indah ini. Seorang yang benar-benar berarti untukmu.”


“Tetapi aku tidak bisa terus menahan perasaan ini. Aku mencintaimu Ni. Aku mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan arti Dino dalam hidupmu, namun aku berjanji tidak akan membuatmu mengeluarkan air mata. Aku akan selalu ada melenyapkan kesedihanmu.”


“Ni, aku mohon..”


“Mas, sudah cukup Mas,” potong Kania, matanya terlihat sangat sembab. Ia sedari tadi berusaha menahan tangisnya.


“Jangan membuat aku bersalah.”


“Aku tidak bisa menjawabnya.”