Question

Question
Jessica (3)



Jessica dan Yoga duduk di tepi taman kampus. Tempat mereka cukup jauh dari lalu lalang mahasiswa, sehingga Jessica aman dari segala macam gangguan. Keringat membahasi dahi Yoga yang tengah mencari kata yang sesuai untuk menghibur dan menguatkan Jessica. Lidahnya seakan tercekat, tidak sanggup mengeluarkan semua kata yang sudah terangkai manis di pikirannya. Bahunya bergetar, tengah meneriakinya untuk lebih bersikap jantan.


“Yoga,” sapa Jessica halus. Wajahnya menunduk, memang matanya sudah tidak berkaca, namun masih terlihat rona sedih di sana.


“I-iya Kak Jessica,” balas Yoga terbata.


“Terima kasih ya Yoga sudah menyelamatkan gue tadi. Terima kasih juga Yoga sudah selalu membantu tugas-tugas gue yang bodoh ini. Gue baru sadar, Yoga selama ini baik banget sama gue,” ucap Jessica penuh ketulusan. Jessica menyunggingkan sebuah senyum yang langsung menhenyakan Yoga, terpana oleh keindahannya.


“Gue mau membalas segala kebaikan yang sudah Yoga berikan ke gus,” Jessica diam sejenak, berpikir hadiah yang ingin ia berikan kepada Yoga. “Jessica akan menuruti satu permintaan Yoga, gimana?”


Yoga tersentak ketika mendengar tawaran Jessica. Dirinya bergejolak seakan habis tersengat listrik. Banyak sekali keinginan Yoga, teramat banyak dan semua seakan berdesakan ingin bersuara. Keringat Yoga semakin bercucuran, lidahnya semakin kelu, ia tidak bisa memilih yang paling ia inginkan dari Jessica.


“Yoga kok diam, Yoga keberatan?” tanya Jessica dengan nada mengeluh namun terdengar manja. Yoga reflek menggelengkan kepala, tawaran Jessica ini tidak mungkin tolak. Kesempatan ini sangat langka. Ia tidak pernah berpikir akan mendapatkannya, bahkan di mimpi terliarnya sekalipun.


“Kak Jess-Jessica serius?” tanya Yoga menegaskan. Ia mengutuk ucapannya yang terbata dan panik ini.


“Iya yoga,” Jessica mengangguk penuh kesungguhan. Matanya menatap Yoga dengan lembut, menanti jawaban Yoga.


Yoga memejam mata sejenak. Ia menghembuskan napas. Satu keinginan yang paling besar akan ia lontarkan. Meminta Jessica menjadi kekasihnya. Yang bisa saja membuat Jessica ilfeel kepadanya, namun setidaknya sudah menyatakan perasaan yang selama ini ia pendam.


“Saya mau,” wajah Jessica mendekat, tidak sabar mendengar permintaan Yoga.


“Mau,” Yoga diam sejenak, mengumpulkan segenap keberaniannya.


“Mau..,”


“Mau Kak Jessica menyapa saya setiap kita bertemu!"


“Hah?!” ucap Jessica dan wanita berkerudung serempak.


Jessica tidak percaya mengapa permintaan sesimpel itu sulit untuk diutarakan. Wanita berkerudung itu terdiam bingung dengan situasi Jessica dan Yoga.


Dan Yoga terdiam tidak percaya permintaan itu yang benar-benar ia inginkan. Seketika wajahnya pucat pasi.


Hening merayap di udara. Mereka bertiga terdiam. Masih tidak percaya dengan permintaan Yoga, terlebih Yoga sendiri.


“Kak Jessica sudah ada Kak Saras, saya pamit ya,” ucap Yoga dengan cepat, lalu dengan setengah berlari pergi meninggalkan Jessica dan Saras.


Jessica ingin menahan Yoga, namun langkah Yoga teramat cepat. Saras terpingkal melihat tingkah Yoga.


“Ada rasa itu anak sama sampeyan Jess,” ucap Saras masih dengan tawanya yang menggema.


“Apasih Sar,” balas Jessica yang tersnyum juga melihat tingkah konyol Yoga.


“Saya sama Kania bisa pergi dengan tenang deh, toh sampeyan sudah ada yang menemani,” goda Saras dengan dialek Jawanya yang masih suka muncul, meski ia sudah berada lama di Jakarta.


“Iya dan orangnya lebih bermanfaat lagi dibanding kalian, tugas gue bisa aman sampai skripsi” jawab Jessica sinis membalas Saras.


“cah gemblung,” ucal Saras sambil memukul pelan kepala Jessica.