Question

Question
Malam di Rumah Jessica



Yoga terpaku di meja belajar Jessica. Matanya sebisa mungkin menatap pada layar laptop, meski satu-dua kali setan mengontrol matanya untuk melirik Jessica yang sedari tadi terlentang asing mengutak-atik ponselnya. Jessica hanya mengenakan dress piyama sutra tipis sepaha berwarna putih yang jika kita menatapnya, kita bisa melihat bra hitam yang dikenakan Jessica menyembul menantang mata, cukup membuat dahi Yoga berkeringat dan tubuhnya bergidik gelisah.


Entah ini bisa dibilang anugerah atau malapetaka untuk Yoga, ia tidak menyangka cowok biasa sepertinya – yang setengah hidupnya hanya dihabiskan dengan belajar, baca buku, dan kegiatan membosankan lainnya bisa memiliki pengalaman seindah dan semenantang ini. Tadi seperti biasa Jessica meminta Yoga datang ke rumahnya untuk mengecek proposal skripsi yang sudah ia buat dan tugas-tugas kuliah lainnya. Ralat, sebagian besar proposal skripsi merupakan buat Yoga. Biasanya, mereka mengerjakan di teras depan rumah. Tetapi entah mengapa malam ini Jessica meminta mengerjakan di kamarnya – yang menurut manga seinen yang ia baca tempat itu merupakan surga terlarang sekaligus impian para lelaki.


Ia pun setuju dengan pendapat tersebut. Ia sudah membuktikan keindahan. Dengan mata berkilau terpana melihat isi kamar Jessica, ruangan yang dicat krem soft dengan beberapa tokoh kartun hamster hamtaro, bijou, oxnard, boss, dan teman-teman hamster lainnya. Di atas wallpaper, tergantung lampu tali berwarna merah dan biru. Aroma bubblegum memenuhi udara. Sayang, kamar yang cantik khas wanita tersebut ternoda oleh ketidakrapihan ruangan. Beberapa pakaian tergeletak di ranjang, dan sofa single size, bahkan ada juga sisa-sisa kotak makanan cepat saji dan gelas minuman plastik terhampar di karpetnya. Yoga bahkan sempat melihat pakaian dalam Jessica sebelum Jessica memungutnya dari ranjang.


Jessica meminta Yoga duduk di meja belajarnya, ia ingin merapihkan pakaian dan sisa makanan yang membuatnya malu dan jengkel, ketahuan dirinya malas. Setelah cukup rapi, Jessica pamit mandi. Yoga mengangguk kaku, tubuhnya sedari tadi menegang, ditambah keringat semakin mengucur deras membasahi wajahnya. Setan mulai menari di otaknya, gambaran-gambaran adegan komik yang ia baca tampak jelas di pikirannya. Sebuah adegan klise di mana pria canggung sepertinya masuk ke dalam kamar wanita, suasana berubah hangat, sang wanita tampak menggoda, dan akhirnya aktivitas semua terjadi. Bunyi shower terdengar samar dari balik pintu kamar mandi. Membuat tubuh Yoga semakin tegang. Apakah cerita-cerita fiksi itu akan terjadi dalam hidupnya. Apakah malam ini waktunya ia melepas keperjakaannya, menjadi lelaki utuh. Tapi apakah ia pantas dengan hubungan yang belum berjalan lama dan juga beberapa kali ia ingin mundur, ragu hubungan ini bisa terus berjalan dengan perbedaan kelas bak bumi dan langit antara dirinya dengan Jessica.


Selang setengah jam, Jessica keluar kamar mandi. Cukup kecewa Yoga, pikirnya Jessica akan keluar kamar hanya berbalut handuk, nyatanya Jessica sudah mengenakan piyama.


“Hayo Yoga pikiranmu ngeres ya?” goda Jessica sambil menghampiri Yoga dan menyalahkan laptop.


“Eng-enggak,” jawab Yoga gugup. Melihat Yoga gugup, membuat Jessica tertawa.


“Dasar lelaki,” ledek Jessica. Wajah Yoga memerah, malu hasratnya terlihat jelas di mata orang yang dicintainya. Namun ia tidak bisa membendungnya, bahkan getaran itu semakin kuat ketika Jessica di sebelahnya. Aroma harum Jessica semakin membuatnya gelisah. Bagaimana bisa sabun menghasilkan wangi seenak ini, batin Yoga meronta.


“Itu lihatin proposal Jessica ya. Kalau udah, bantu buat tugas minggu ini. Jessica mau ngeringin rambut dulu,” Jessica segera melompat ke ranjangnya.


“Oh iya. Yoga fokus. Jangan mikirin yang enggak-enggak,” ledek Jessica. Lidah Yoga kelu, seakan kata-kata tidak bisa terangkai untuk membalas ledekan tersebut. Jessica tertawa melihat Yoga kesulitan bicara, ditambah wajah gugupnya yang tampak bodoh dan mengucapkan.


***


Naas.


Tidak terjadi apa-apa.


Lebih dari satu jam posisi mereka tidak berubah – Yoga di meja belajar dan Jessica tergolek di ranjang.


Awalnya Yoga cukup kecewa dan lega. Kecewa karena khayalannya tidak terwujud. Realita memang tidak pernah seindah fiksi. Ia pun juga lega, ia masih bisa mengontrol tubuhnya untuk tidak berbuat buruk. Ia mengutuk kebodohannya, menyesal sempat berpikir Jessica tipikal wanita yang mudah diserang. Tidak. Jessica wanita baik. Ceroboh memang, terbukti dengan percaya diri mengundangnya ke kamar. Tapi, tidak mungkin ia berbuat demikian ke sembarang pria dan pasti Jessica sudah percaya jika dirinya tidak mungkin berbuat buruk.


Lama-kelamaan Yoga gusar juga. Pasalnya Jessica terlalu larut dengan ponselnya. Ucapan ia pun hanya dibalas sekenanya saja.


“Ini tugas Kakak loh,” ucap Yoga jengkel.


“Kalau tau begini, dichat aja. Gak perlu malem-malem ke rumah,” kejengkelan Yoga mulai terasa. Jessica melepas ponselnya dan dengan posisi yang tidak berubah ia menatap Jessica.


“Jadi Yoga gak suka ketemu Jessica?” balas Jessica sinis.


“Bukan gitu. Ini kan udah malem. Aku mau pulang jam berapa kalau aku ngerjain ini sendiri. Lagian gak enak sama papa-mama Kakak kalau aku masih di sini. Apalagi kita di kamar loh berdua,” ucap Yoga menenangkan Jessica yang moodnya mulai bete.


“Yaudah Yoga nginep aja, temenin Jessica. Papa sama Mama juga lagi di luar kota,” mendengar ucapan Jessica Yoga berhenti mengetik. Jantungnya tersentak, hasrat yang tadi terkubur rasa jengkelnya kembali menyala.


“Ja-jangan bercanda mulu Kak,” ucap Yoga terbata. Ia tidak habis pikir Jessica bisa mengucapkan ajakan serius itu dengan mudah.


“Jessica serius,” ucap Jessica dengan suara meninggi. Gusar karena dianggap main-main.


Yoga tidak membalas ucapan Jessica. Tubuhnya kembali menegang. Jessica pasti tidak serius, tapi semoga serius, hatinya meracau.


Melihat Yoga yang kembali gelisah, Jessica kembali tersenyum. Ia bangkit dari tidurnya dan memeluk Yoga dari belakang.


“Yoga bisa tidur di karpet atau sofa. Sebenarnya sih Jessica mau aja Yoga tidur di sebelah Yoga. Kalau sama Yoga Jessica enggak keberatan. Tapi Yoga harus memohon sama Jessica,” ucap Jessica di telinga Yoga. Darah Yoga berdesir merasakan udara yang menerpa telinganya, ditambahkan helaian rambut Jessica yang seakan menjalar di leher dan bahunya membuat hasratnya memuncak.


Yoga menoleh menghadap wajah Jessica yang tersandar di bahu kanannya. Wajah mereka begitu dekat. Keduanya saling merasakan aroma napasnya masing-masing. Malam ini bibir Jessica tampak memesona, berkilau layaknya porselen, indah sekaligus rapuh. Membuat Yoga ingin menjamahnya, memoles setiap lekuk di sana. Bertindaklah sebagaimana lelaki, setan terus berbisik dengan riangnya.


Nyaris, sedetik ia ingin bertindak, ponsel Jessica bergetar. Jessica melepas pelukannya dan menatap ponselnya. Terpampang nama Kania di panggilan tersebut. Segera ia menjawabnya.


Yoga mendengar suara tangis Kania.


“Kenapa sweety?” ucap Jessica panik.


“Gue mau cerita,” tangis Kania pecah.


Lenyap sudah kesempatan Yoga.