Question

Question
Saatnya Pulang



Malam semakin sepi. Suara jangkrik dan lolongan anjing sudah lenyap ditelan lelap. Namun para volunteer masih melingkar di halaman penginapan. Mereka masih larut bercerita pengalaman yang mereka rasakan selama di Kalimantan. Sekali terdengar mereka bercanda mengejek teman-temannya yang bertingkah memalukan selama kegiatan, sesekali mereka marah dan mengkritisi serakahnya manusia, sesekali mereka menangis haru apalagi jika mengingat Pak Abdul. Sesosok yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Arinta melihat Dino terbaring di atas hamock yang letaknya di pojok halaman – cukup jauh dari lingkaran. Arinta menepi dari lingkaran, lalu berjalan pelan menghampiri Dino. Darahnya berdesir seirama dengan hatinya yang kian berdetak. Semakin dekat dengan Dino, irama darah dan hati itu semakin kencang. Ia tidak tahan dengan kondisi tubuhnya. Ingin ia memutar balik, tapi kakinya sudah tidak bisa lagi ia kontrol. Kaki ini terus melangkah mendekati Dino.


Melihat Dino termenung seperti ini, ada semacam suara yang membisiki Arinta untuk menemaninya. Suara yang membawa rasa khawatir oleh kesedihan pria di depannya yang seolah menuntut Arinta untuk melenyapkan kesedihan itu. Tetapi mengapa dirinya, gumam Arinta. Pernah ia tampik suara ini, namun entah mengapa hatinya menjadi kosong. Arinta sulit mengakui jika dirinya mulai jatuh hati kepada Dino.


Dino masih menatapi gelapnya mega. Pikirannya sudah melayang seluas cakrawala. Mengumpulkan kepingan-kepingan jawaban untuk segala tanya dalam pikirannya. Panggilan hidup. Pesan terakhir Pak Abdul itu terus menggema di telinganya. Pesan terakhir itu seolah wasiat dan bimbingan yang penting untuk hidupnya.


Pikiran membawa Dino ke masa-masa silam. Dino terkenang bahagianya masa kecilnya. Hidup bersama saudara-saudara di panti asuhan. Ikatan saudara yang bukan dari darah, melainkan terjalin oleh takdir yang sama. Bagaimanakah kabar mereka ya, tanya Dino dalam hatinya. Lalu, dirinya yang merasa sangat hidup dan penuh cinta kasih dari bunda-bunda, terutama bunda Nunu yang ia sudah anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Sudah lama sekali aku tidak pulang, batinnya kembali berkata.


Lalu kenangan membawa Dino pada masa-masa sekolah. Di mana ia banyak menyaksikan kesedihan dan ratapan orang. Dan ketika itu juga hatinya tergerak untuk menjadikan hidupnya berguna bagi orang banyak. Sudahkah ini tercapai? tanya batinnya.


Sekelebat bayangan Kania merasuki dirinya. Dino terkenang keceriaan dan kemanjaan Kania. Kania wanita pertama setelah bunda-bunda panti yang membuat hatinya berdetak. Kania si perempuan berhati sebening embun, namun serapuh tembikar yang membuatnya terpanggil menjaga kebeningannya. Kania menjadikan Dino utuh sebagai lelaki. Semoga ini tidak berubah Ni, harapnya dalam hati.


Pelbagai kenangan lain terus hadir bagai potongan-potongan gambar yang bergerak di pandangannya. Beberapa kenangan menggetarkan hatinya. Ia merasa di sanalah panggilannya. Namun akalnya sulit mencerna bagaimana bisa ada banyak panggilan dalam dirinya. Dino masib belum tahu makna panggilan hidup ini.


“Di,” sapa Arinta lembut. Lamunan Dino terpecah. Dino terbangun dan meregangkan badannya yang terasa sedikit kaku karena berbaring cukup lama. Kemudian ia menggeser duduknya, menyilakan Arinta duduk di sampingnya.


“Tentang pesan Pak Abdul Rin,” ucap Dino pelan.


Arinta memegang tangan Dino. Dino melihat tatapan Arinta tampak bening penuh perhatian. Dino reflek membuang pandangnya, wajahnya memerah malu.


“Dino, menurut gue sih yang kayak begitu kita sadari sambil kita berjalan. Pak Abdul menemukannya juga di perjalanannya kan. Yang penting di setiap langkah kita, kita perbaiki sesuatu yang salah dan kalau bisa ditingkatkan sesuatu yang baik,” jelas Arinta.


Senyum Dino mengembang. Penjelasan Arinta mencerahkan dirinya. Bukan jawaban memuaskan memang, tapi setidaknya untuk sekarang jawaban itu bisa ia pegang.


“Hebat juga lo,” ucap Dino sambil tertawa. Arinta juga ikut tertawa, entah mengapa.


“Gue kira lo lagi mikirin Kania Di,” sergah Arinta basa-basi.


“Pasti Rin gue mikirin dia,” ucap Dino ringan.


Dada Arinta terasa seperti ditekan. Wajahnya berubah tegang. Aneh. Mendengar Dino memikirkan Kania, Arinta merasa geram.