
Matahari tengah berdiri pada puncaknya. Cahayanya berpendar di udara, menghangatkan ubuh-tubuh yang diterpanya. Kania yang tengah asik tergolek di kamarnya tidak luput dari pancaran cahaya matahari. Wajahnya tampak berkilau, kontras dengan keremangan di dalam kamarnya.
Kania membalikan tubuhnya, membelakangi cahaya matahari. Meski hari sudah siang, ia masih ingin berbaring di tempat tidur. Bukan karena lelah atau apa, alasannya adalah karena memang tidak ada urusan yang membuatnya harus bangun. Karena memang tidak sesuatu yang perlu ia kerjakan.
Sudah lewat sebulan, Kania terjebak dalam monotonnya hari yang ia lalui – bangun siang, main ponsel seharian, tidur sore, lalu begadang sampai larut dan berulang kembali. Kania dihantui rasa bosan. Ia merindukan suasana kuliah, di mana hari-harinya selalu dinamis dan penuh dengan keseruan. Jika ia tahu lulus kuliah merubah rutinitasnya menjadi datar seperti ini, ia lebih baik tidak lulus kuliah saja.
Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Pasti di jam ini, kondisi rumahnya sepi. Kedua orang tuanya pasti sudah berangkat kerja.
Enaknya mereka, batin Kania bergumam iri.
Kania bukannya tidak ingin mencari pekerjaan. Ia sudah banyak menaruh lamaran kerja, namun belum ada respon lagi. Kania hanya melamar pekerjaan pada bidang kurator dan editor buku, bidang kerja yang ia rasa relevan dengan ilmunya. Sayangnya lowongan pekerjaan pada dua bidang ini sangat sedikit. Sekalinya ada, lowongan menyaratkan pelamar harus memiliki pengalaman kerja di bidang tersebut.
Kania bukannya tidak melamar pada bidang pekerjaan lain. Ia juga banyak melamar pada bidang yang ia anggap masih sejalan dengan ilmunya, seperti halnya sekretaris, administrasi, maupun pekerjaan lain yang berhubungan dengan berkas dan tulisan. Dan dari semua lowongan yang lamar tersebut, ada dua yang mengundangnya untuk test dan wawancara kerja. Namun ia tidak datangi. Lowongan pertama tidak ia datangi karena ketika hari wawancara, ia bangun kesiangan. Sedangkan, lowongan kedua tidak ia datangi karena ia baru membuka pesan undangan wawancara kerja lewat lima hari dari jadwal yang ditetapkan perusahaan. Ia sudah meminta menjadwal ulang, namun pesannya tidak ditanggapi. Ia sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Dan lagipula, ia terlalu malu dan sungkan untuk meminta pekerjaan kepada kedua orang tuanya. Terlebih jika harus meminta lowongan ke papanya. Kecuali jika mereka yang menawari Kania, pasti dengan senang hati ia akan menerima tawaran tersebut. Terbesit dalam benaknya, mengapa kedua orang tuanya tidak pernah mengatakan sesuatu tentang ini. Mengapa mereka acuh dan tenang saja melihat nasib anaknya yang sekarang berstatus pengangguran.
Kerutan menggaris di dahinya. Kepalanya berdenyut sakit. Kepalanya itu terasa seperti ditusuk-tusuk oleh jarum. Masalah menjadi pengangguran ini sudah cukup rumit dan ditambah dengan masalah Dino, membuat kepalanya terasa ingin pecah.
Ya memang. Setelah wisudah kemarin, Kania merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal perasaannya kepada Dino. Mereka masih tetap berkomunikasi, namun Kania merasa rasanya hambar, tidak sehangat biasanya. Kania selalu ingin menyudahi segala percakapan dengan Dino. Entah mengapa. Ketika Dino mengatakan sebentar lagi tugasnya di Kalimantan akan selesai, hati Kania menjadi tidak karuan. Ia takut bertemu dengan Dino.
Takut ganjalan ini semakin mendera dirinya dan memudarkan rasa cintanya.