Question

Question
Quality Time? (2)



Arman menatap Kania yang sesekali tersenyum menatap layar ponselnya. Kania terlihat bahagia. Terlihat begitu hidup. Tidak seperti kemarin di mana Kania tampak pucat layaknya onggokan daging tanpa roh. Arman tahu, Dino sudah ada di Jakarta. Kehadirannya sekejap mampu menghidupkan kembali Kania. Arman merasa dipukul mundur, namun ia berniat tetap berdiri bertahan.


“Kamu terlihat beda Ni. Kamu terlihat lebih bahagia, enggak seperti kemarin yang pucat kayak zombie,” ucap Arman basa-basi, memecah keheningan. Sebenarnya ia tidak mau berbicara seperti ini, namun ia sudah tidak kuat menahan sepi dan jengkel melihat Kania sibuk dengan kekasihnya.


“Ihh,” Kania mendesis. Senyum tersimpul dari bibirnya. Sangat indah, bagaikan kilauan porselen yang disulam dengan begitu seksama oleh pengrajinnya.”Iya Mas, aku lagi bahagia banget. Dino udah pulang, jadi kita bisa sama-sama lagi. Kemarinan aku kira aku ditinggal sama Dino, habisnya dia gak ada kabar. Ternyata ponselnya sempat hilang. Aku lega banget mendengarnya,” ucap Kania. Mendengar Kania membicarakan Dino membuat panas telinganya. Sebisa mungkin ia menutup dan menulikan telinga, namun ia tidak dapat menampik ekspresi bahagia Kania yang saat ini ada di hadapannya. Benar-benar indah. Arman berharap suatu hari nanti Kania memberikan ekspresi bahagianya ini hanya untuknya.


“Eh iya, aku juga terima kasih banget sama Mas. Mas udah mau menghibur aku di saat aku jatuh. Bantuan Mas kemarin benar-benar berarti,” ucap Kania, terasa sangat tulus. Tanganya reflek menggenggam tangan Arman yang tengah terkulai di meja.


Darah Arman berdesir cepat. Tangannya terasa tidak punya daya untuk menampik genggaman Kania. Arman sudah tidak bisa lagi menahan kesadarannya, tangannya balas mengenggam tangan Kania. Tangan mereka berpengangan erat. Hening seketika merayapi waktu. Arman diam menumpahkan segala perasaannya dengan genggaman. Kania diam, bingung dengan tingkah Arman.


Nyaris Arman menyatakan perasaannya, namun kesadarannya masih memiliki daya untuk menghentikan ego yang sudah sampai puncak dan siap meledak itu. Arman mulai melepas genggamannya. Kania meresponnya dengan menarik tangannya secara cepat.


“Ih enggak Mas. Yang mas lakuin ke aku itu benar-benar berarti tau. Aku malah tidak enak sama Mas. Aku tidak bisa membalas kebaikan Mas,” keluh Kania sambil menundukan wajahnya.


“Yasudah, kamu ceritakan dong bagaimana hubungan kamu dengan Dino. Dari awal ketemu, sampai sekarang. Dino orangnya bagaimana dan seberapa besar rasa cintamu kepadanya,” pinta Arman dengan lemah. Ia tidak tahu iblis mana yang membuatnya berbicara seperti ini. Kau bodoh Man, kau suka sekali menyakiti dirimu sendiri, umpatnya kepada diri sendiri.


Mata Kania berbinar. Telunjuknya mengetuk-ngetuk kepala, tengah mereka-reka kenangan yang tersimpan indah di sana. Akhirnya Kania mulai bercerita pertemuan pertamanya dengan Dino yang ia lihat sangat pendiam dan misterius. Tentang hobi mereka yang sama yaitu menaiki atap sekolah dan mengamati manusia. Tentang Kania yang suka mengeluh dan meminta pendapat Dino dalam setiap masalahnya. Kata-kata Dino terasa begitu menenangkan sampai-sampai Kania sangat bergantung kepadanya. Dan terus berlanjut, sampai Arman tidak bisa menyerap semuanya.


Hati Arman tersayat mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kania.