Question

Question
Jawaban yang Mulai Terlihat (2)



“Oke Ni, kamu aku terima. Besok aku akan menyiapkan peralatan yang kamu butuhkan. Jadi mulai besok saja ya kamu kerjanya. Untuk ide-ide kamu, aku keep dulu ya. Aku mau meyakinkan diriku dulu untuk benar-benar berinvestasi di kafe. Kan kamu tahu sendiri, niat awal aku mendirikan kafe hanya agar aku mempunyai tempat istirahat.” jelas Arman. Kania mengangguk sambil menahan senyum geli melihat jarang sekali Arman bersikap formal.


“Tetapi kalau lihat ide kamu, kayaknya sih kemungkinan besar aku approve. Terlebih, untuk tim medsos. Aku pikir benar kamu tidak bisa mengerjakannya semua sendiri.”


“Ya iya Mas, kerja rodi aku kalau harus foto atau video, edit, buat caption, sama harus aktif juga di medsosnya,” gerutu Kania karena merasa suasana sudah kembali cair.


“Iya maaf, aku pikir tadinya tidak serumit ini,” Arman tersenyum. “Kalau aku setujui, berarti kamu langsung naik jabatan dong.”


“Dan gaji aku juga bertambah dong,” tanggap Kania antusias.


“Iya, tapi bertahap ya sesuai progress,” balas Arman sambil tertawa.


“Siap Mas,” Kania mengangkat tangannya, memberi hormat.


“Yaudah aku berangkat ke kantor dulu ya,” ucap Arman, lalu beranjak dari kursi.


“Take care ya bos,” goda Kania.


“Makasih ya pegawai,” tanggap Arman sambil tertawa.


***


Dering ponsel Dino berbunyi. Ada pesan masuk dari Kania. Kania memberitahu bahwa dirinya sudah diterima kerja. Dino segera mengetukan jemarinya pada layar ponsel, membalas pesan Kania. Dino mengucapkan selamat dan nanti malam ia akan ke kamar kosnya dan merayakan diterimanya Kania.


Namun, hatinya terasa kelu. Seperti ada yang mengganjal dirinya untuk turut berbahagia. Terbesit rasa heran dalam benaknya, mengapa Kania bisa dengan mudah diterima.


Sehabis ini semua akan berubah. Sehabis ini semua tidak akan menjelma seindah kemarin.


Segera ia menampik bisikan menyebalkan itu. Yang penting Kania senang sudah diterima kerja, batinnya bergumam.


Begitu ia sadar, Mas Yon tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Aneh sekali sikap Mas Yon. Mengapa ia tidak langsung menegur dirinya, mengapa ia harus diam dulu.


“Maaf Mas saya tidak sadar ada Mas. Saya tadi melamun,” sapa Dino merasa tidak enak karena tadi secara tidak langsung sudah mendiamkannya.


“Iya tidak apa-apa Di. Segala urusan jangan terlalu dibawa berpikir Di. Terkadang kita harus yakin dan percaya saja dengan suara hati kita. Hati bisa menyerap segala kemungkinan yang lebih luas dibanding pikiran. Meski memang banyak bertentangan dengan logika kita,” jelas Mas Yon tiba-tiba. Dino merasa Mas Yon mengetahui pergulatan yang sedang terjadi di dalam dirinya.


“Bagaimana dengan pencarian kamu Di?” tanya Mas Yon menutup penjelasannya yang masih menggantung di benak Dino.


“Mandeg Mas, saya masih tidak mengerti,” tanggap Dino. Dino sebenarnya ingin meminta Mas Yon menjelaskan maksud perkataanya tadi, namun ia urung bertanya karena merasa tidak sopan.


“Saya berencana ke Kediri, di sana ada teman yang mengeluh dengan perlakuan tengkulak yang sudah seperti preman. Sekalian mencari lokasi baru yang bisa diisi oleh kegiatan Basecamp nanti,” jelas Mas Yon. Dino menyimak perkataan Mas Yon. Memang, tugas utama Mas Yon di Basecamp adalah menyurvei lokasi dan mengurus keperluan kegiatan sosial Basecamp di daerah-daerah, terutama Pulau Jawa.


“Saya harap kamu bisa temani saya. Entah mengapa saya merasa sehabis perjalanan ini kamu menemukan yang sedang kau cari,” sambung Mas Yon sambil menepuk bahu Dino, lalu tak lama ia pamit ke meja kerjanya.


Dino kembali termenung. Sebenarnya ia sudah berniat tidak akan pergi ke manapun dalam waktu yang lama. Ia ingin menemani Kania sampai Kania merasa lebih siap jika harus kembali ditinggal. Tapi, ucapan Mas Yon mendetakan hatinya. Ia seperti didorong untuk mengiyakan permintaan Mas Yon.


Rasanya memang di sanalah ia akan menemukan panggilannya.