
“Dia enggak tahu Jess,” ucap Kania terbata. “Jess, gue mau minta pendapat lo deh,” Jessica memasang mata lekat, isyarat siap mendengar cerita Kania.
Kania mulai menceritakan percakapannya dengan Dino kemarin. Dino yang dengan tepat menebak Arman menyukainya dan rasanya Dino tidak terlalu kerasan dengan hadirnya Arman. Jessica terkejut mendengar cerita Kania. Namun ia memang sudah menebak Dino mengetahui Arman menyukai Kania. Ia masih mengingat pandangan selidik dan penuh tanya Dino ketika menatap buket bunga dari Arman saat sidang Kania.
“Terus lo enggak ceritain semua ke Dino?”
Kania menggeleng lemah. Matanya benar-benar terasa kosong.
“Gue takut Jess.”
Mata Jessica nanar menatap Kania. Bibirnya bergemeretak, bingung ingin mengucap apa. Jessica mengerti ketakutan yang dialami Kania. Arman memang sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya. Hanya, ia tidak tahu harus menyarankan apa kepada Kania.
“Jess!,” tegas Kania, memecah kebisuan Jessica. “Jangan diam, bantuin gue, gue harus gimana.”
“Yah lo nanya gue Ni. Gue aja lagi bingung Ni sama kisah cinta gue,” ratap Jessica.
“Loh kenapa, lo putus?” sergah Kania.
“Enggak putus, Cuma Yoga seperti jaga jarak sama gue.”
“Kok bisa?!”
Jessica menceritakan sikap Yoga yang mulai berubah. Semua berawal ketika Yoga menjemput dirinya dan bertemu kedua orang tua Jessica. Kedua orang tua Jessica menanyakan latar keluarga Yoga. Yoga menjawab ia berasal dari keluarga yang biasa saja. Bapaknya sebatas pegawai kantoran biasa, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Lalu, Papa Jessica menasihati Yoga bahwa dirinya harus bekerja lebih giat. Ucapan Papa Jessica memang terkesan meninggikan dirinya, membuat Yoga menunduk pucat pasi.
“Sepertinya dia minder sama gue,” ucap Jessica, suaranya terasa serak dan lemah.
“Gini nih Jess, kalau enggak ada Saras, enggak ada yang bisa kita minta saran,” keluh Kania.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang tadinya ingin diceritakan Kania. Malam ini, Arman mengajaknya pulang bersama, sekalian membicarakan progress kedai Bicara Rasa. Namun, Dino juga tadi mengabari, ia ingin menjemputnya nanti. Sudah lama mereka tidak bertemu.
Kania belum menjawab permintaan Dino dan Arman. Ia bingung mengiyakan permintaan Dino atau Arman. Di satu sisi, ia memang ingin bertemu Arman. Ada banyak ide dan rencana yang ia ingin segera sampaikan. Apalagi tidak pasti, besok ia bisa bertemu dengan Arman. Namun di sisi lain, ia juga rindu dengan Dino. Ia ingin menceritakan pekerjaannya yang membuatnya sekarang sangat bersemangat.
Ia teringat kutipan buku yang pernah ia baca. Semakin kau bermain dengan api, maka semakin kau terbakar oleh nyalanya.
***
Papa dan Mama Kania duduk bersisian di halaman belakang. Wajah Mama Kania tampak tegang dan letih. Di sebelahnya, Papa Kania masih diam sambil menatap langit malam yang lengang tanpa berhias bintang-bintang. Mereka tadi membaca pesan dari Kania yang mengatakan Kania sudah bekerja di kedai kopi milik Arman – saudara Jessica. Kania juga meminta mereka jangan protes karena ini semua adalah keputusannya.
“Pa,” ucap Mama Kania memecah keheningan. “Kita sepertinya salah Pa. Kita terlalu egois dengan keputusan kita.”
“Mama takut sehabis ini banyak yang berubah.”
Papa Kania mengambil cangkir teh, lalu menghirupnya perlahan. Mama Kania menunggu Papa Kania berbicara dengan wajah menunduk kelu.
Papa Kania menghela napas.
"Yang sudah biarlah berlalu Ma. Jika memang semua berubah, kita hanya bisa berharap perubahan itu baik untuk Kania,” Mama Kania mengangguk pelan mendengar tanggapan Papa Kania.