
Gugusan bintang berpendar menghias langit malam. Di tengahnya rembulan bersinar dengan kemilau. Langit terlihat bening. Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, menghantar angin malam yang tidak terasa dingin, tapi membawa kesejukkan.
Kania mengenakan hoddy untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tidur tipis. Dino masih berada di kamar kos Kania dan masih mengenakan pakaian yang sama. Sebenarnya ia sudah berniat pulang sedari tadi, namun Kania menahannya. Kania bahkan meminta Dino untuk menginap. Sudah sangat lama Kania memimpikan bisa tidur berdua dengan Dino. Berdekapan dalam lelap, saling memberi kehangatan dan kenyamanan. Lalu, saat fajar menyapa wajah Dinolah yang pertama kali ia pandang. Meski perasaannya kepada Dino tidak seterang dahulu, impian ini masih bersarang di hatinya. Dan sekarang mimpi itu sangat mungkin diwujudkan. Ia tidak berada di rumahnya, di mana ada mama dan papa yang tidak mungkin mengizinkan Dino tidur sekamar dengannya.
Dino tampak gugup. Pikirannya tengah menimbang apakah akan menuruti Kania atau tidak. Sangat tidak etis untuk sekarang ia dan Kania tidur berdua. Belum lagi Kania baru mengekos, takutnya nanti ia menjadi gunjingan anak kos lain dan orang sekitar ini. Namun, Dino juga sudah lama memimpikan hal yang sama seperti Kania. Sekarang kesempatan ini sangat terbuka lebar. Terlebih, jika menuruti permintaan ini, mungkin hubungannya dengan Kania bisa menjadi sehangat dulu.
Dino terpaku, sibuk dengan pelbagai pertimbangan dalan pikirannya. Kania menahan napas, menunggu Dino dengan mata yang berbinar. Berharap Dino mengucapkan kata “iya”.
Dan harapan Kania terwujud. Dino menganggukan kepala. Menyetujui permintaan Kania. Kania langsung memeluk tubuh Dino, membuat mereka terjerembab di lantai. Ia berteriak kegirangan yang langsung ditutup mulutnya oleh Dino. Memintanya untuk tidak berisik karena tidak enak dengan anak kos lain.
“Jadi sebelum tidur enaknya ngapain ya?” goda Kania dengan tatapan manja dan sangat nakal.
"Oke, ada yang perlu kita lakuin,” tanggap Dino serius, lalu mendudukan kembali Kania.
Kania bingung menerka tindakan Dino. Sepertinya lain dari yang ia harapkan.
“Kita harus bahas rencana kerja kamu,” ucap Dino dengan tegas dan serius.
Kania menghela napas. Ia melempar bantal ke arah Dino. Geram bukan main. Masa iya enggak peka juga, batinnya menggerutu.
Dino menuangkan air hangat yang dipanaskan lewat penanak nasi ke dalam cangkir yang sudah terisi teh dan gula, kemudian mengaduknya perlahan. Asap tipis mengepul dari dalam cangkir, seiring air di bawahnya berubah menjadi coklat keemasan dan membawa aroma sedap.
“Ni,” mulai Dino sambil meletakan satu cangkir di dekat Kania.
“Kamu bisa menebak aku tahu kamu di sini dari siapa?”
Kania menggeleng. Ia tersadar baru ingat ia tadi penasaran mengapa Dino bisa tahu ia mengekos.
“Aku tahu dari Mama. Tadi pagi aku ke rumah kamu, kebetulan Mama belum berangkat ke butiknya. Lalu aku diajak bicara sebentar. Bahas kamu,” jelas Dino.
Kania menyimak pembicaraan Dino dengan serius. Ia penasaran dengan pikiran mamanya kepadanya sekarang. Pasalnya, mamanya tidak pernah menggubris keluhan dan ratapannya. Ia sampai merasa ia benar-benar dibuang.
Dino menceritakan alasan Mama dan Papa Kania menyuruh Kania untuk hidup sendiri. Alasan yang sudah pernah ia dengar sebelumnya. Kania jadi yakin, ia memang tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini.
Dan Kania yakin, sekarang saatnya ia hidup mandiri.