Question

Question
Sudahkah Aku Melakukan Hal yang Benar?



“Yeay skripsi Kania sudah disetujui,” ucap Kania begitu senangnya. Reflek ia memeluk Dino. Dino segera menyembunyikan wajah khawatirnya. Ia tidak mau merusak kebahagiaan Kania.


“Bagus Ni, satu tahap lagi dan kamu akhirnya berhasil,” puji Dino dengan lembut. Tangannya mengusap pelan rambut Kania. Kania tersenyum, senang sekali diperlukan seperti ini oleh Dino. Ia merasa dimanja.


“Tadi Kania dikasih tahu, sidangnya sekitar dua minggu sehabis ujian akhir. Kira-kira siap tidak ya Kania,” keluh Kania, suaranya terasa semakin manja.


“Ni,” ucap Dino dengan lembut. “Kamu tidak perlu khawatir. Kamu pasti bisa. Kania yang aku kenal selalu menghadapi segala sesuatu dengan ceria. Jadi, ketika sidang nanti kamu hanya perlu tersenyum, maka semua akan baik-baik saja,” sambung Dino.


Dada Kania berdegup mendengar ucapan Dino. Ucapan klise yang diungkapkan Dino terasa begitu hidup dan mengisi dirinya dengan ketenangan.


“Oh iya, supaya Kania tidak takut, Kania mau Dino yang mengantar aku ketika sidang. Dino harus menemani aku dari rumah sampai kampus. Dino temani Kania menunggu giliran sidang dan Dino menunggu di depan pintu ketika Kania masuk ruangan,” pinta Kania dengan manjanya. Dino tersentak mendengar permintaan Kania. Bayangan Pak Abdul tergambar di benaknya. Membuatnya terdiam pucat.


Ekspresi Kania berubah ketika melihat Dino yang terdiam tidak mengiyakan permintaannya. Bayang-bayang akan kembali ditinggal oleh Dino menelusup meresahkan hatinya.


“Dino enggak bisa ya?” keluh Kania. Suaranya parau menghantarkan kesedihan kepada Dino.


“Ni,” ucap Dino sambil menundukan kepala. Ia ingin menceritakan kondisi Pak Abdul kepada Kania dan meminta Kania mengerti keputusannya untuk kembali ke Kalimantan. Namun, tenggorokannya seakan kering, sulit sekali untuk mengeluarkan suara. Dino sadar, ini merupakan fase penting dalam hidup Kania. Kehadirannya sangat dibutuhkan Kania. Dino tidak mau Kania depresi seperti kemarin saat ia tidak mengabarinya. Bisa-bisa sidangnya berantakan.


“Ni,” Dino menoleh ke Kania. Mata Kania tampak berkaca, raut wajahnya terlihat sedih. Suara itu masih berat juga untuk ia keluarkan.


“Jangan pergi, aku mohon,” Kania meminta dengan penuh kepasrahan dan kesedihan. Setitik air mata mengalir membasahi pipinya.


Dino mengambil napas panjang, membulatkan tekadnya.


“Iya Ni, aku tidak pergi,” ucap Dino. Suaranya terasa sangat berat dan lelah.


Kania seketika menangis dan tersenyum mendengar keputusan Dino. Ia memeluk Dino sampai mereka. Ingin ia mencium Dino, namun sayangnya mereka masih di kampus.


“Terima kasih Dino,” bisik Kania dengan penuh bahagia. Dino mengangguk, lalu tersenyum kepada Kania. Dalam hatinya ia berharap keputusannya ini sudah benar.


***


Hamparan bintang berpendar di langit malam. Menjadikan malam tampak cerah dan berkilau. Dino mengetuk tombol panggilan, ia menelepon Arinta.


“Arin, tolong berikan ke Pak Abdul. Gue mau bicara sama dia,” ucap Dino kepada Arinta. Dino terdiam sejenak, menunggu Arinta yang sedang menghampiri Pak Abdul.


“Halo,” suara Pak Abdul terdengar. Suaranya terasa lemah membuat Dino semakin khawatir.


Dino mulai berbicara dengan begitu emosional. Ia yang sangat khawatir akan kondisi Pak Abdul namun ia tidak bisa berangkat ke sana karena Kania membutuhkannya. Tak sadar, setitik air mata jatuh membasahi wajahnya.


Pak Abdul tersenyum mendengar ucapan Dino. “Dino kau sudah melakukan hal benar.”