
“Mama juga bilang ke aku, kalau aku bantu kamu secukupnya saja. Aku hanya boleh mendorong dan mendukung langkah kamu, bukannya menuntun.”
“Aku setuju sih dengan ide Papa dan Mama,” tutup Dino.
“Kok begitu?” sergah Kania sinis.
“Karena ini baik untuk kamu Ni,” ucap Dino dengan lembut.
Kania mendengus jengkel. Tampak rona merah di pipinya yang menggembung menahan geram.
“Aku tuh masih enggak ngerti ya Di, baiknya ini semua tuh di mana,” protes Kania.
“Emang aku orangnya manja apa, perasaan dari dulu aku mandiri deh,” desisnya jengkel.
“Kalau Papa merekomendasikan aku untuk kerja di kantornya atau Mama menyuruh aku kerja di butiknya, aku yakin aku bisa bertanggung jawab. Kamu sendiri tahu kan aku bukan orang yang gampang menyepelekan atau menganggap enteng sesuatu.”
“Ni jangan marah,” pinta Dino dengan pelan.
“Aku enggak marah,” Kania memalingkan wajahnya yang sudah penuh dengan rona merah.
“Kalau kamu sudah pakai “aku” kamu pasti lagi marah Ni,” Dino mengacak-acak rambut Kania. Ia tersenyum menggoda Kania.
“Kania tuh bete Di, kenapa Dino juga setuju sama Papa sama Mama. Dino tuh harusnya ada di pihak Kania,” keluh Kania dengan gusar.
“Setuju bukan berarti aku di pihak Papa dan Mama kamu Ni. Kalau iya ngapain aku sekarang ada di sini,” jelas Dino.
Dino menghela napas. Memberi waktu sejenak untuk Kania menenangkan diri.
“Ni, enggak begitu. Aku menyetujui permintaan Mama karena biar bagaimanapun aku juga enggak punya hak membantah keputusan Papa dan Mama kamu. Lagipula, aku tidak bisa merekomendasikan kamu karena aku tidak punya kenalan orang perusahaan. Kecuali kalau kamu mau kerja di Basecamp. Tapi kan kamu tahu sendiri kalau gaji di sana kecil. Dan untuk mengejar karir, Basecamp bukan pilihan yang tepat Ni. Kamu itu punyak banyak mimpi. Punya tujuan yang ingin kamu capai. Kamu kan selalu bilang ingin sekali menjadi wanita karir sekaligus novelis sukses,” jelas Dino.
“Menurut aku sih ya Ni, daripada kamu terus mengeluh dengan keputusan Papa dan Mama sehingga langkah kamu terhambat, lebih baik kamu mulai menyusun rencana dan mulai mencari pekerjaan,” saran Dino lebih lanjut.
“Di, aku tuh udah banyak melamar kerja. Sedari di rumah juga aku banyak melamar kerja. Aku enggak diam saja Ni, aku juga bosan kali begini,” protes Kania. Ia gusar merasa seperti disalahkan.
“Hmm iya, jangan marah Kania sayang. Nanti wajahnya keriput,” goda Dino sambil memberikan cangkir teh kepada Kania. Agar Kania lebih tenang.
Kania menghirup teh perlahan, aroma sedap teh dan rasa hangat yang mengalir di keronkongannya sedikit membawa ketenangan.
“Hmm, kalau melamar pekerjaan sudah, berarti sekarang kamu mulai menyiapkan diri untuk bekerja,” ucap Dino.
“Menyiapkan diri yang kayak bagaimana Di?” desis Kania. Ia sudah jengah dengan pembicaraan ini.
“Bangun pagi misalnya,” jelas Dino.
Kania menghela napas, lalu membaringkan badannya membelakangi Dino. Bukan karena ia menghindar atau berlari, ia hanya lelah membahas masalah menganggur ini. Lelah merasa disalahkan oleh orang-orang. Saat ini, ia lebih membutuhkan dukungan dan bantuan dibanding nasihat.
Dino bergeming, tidak beranjak. Sepertinya sikapnya kurang tepat sehingga Kania menjadi tersinggung. Ia teringat ucapan Pak Abdul. Benar tidak selamanya baik, di atas benar ada bijak. Dan ia merasa saat ini ia kurang bijak menyikapi keadaan Kania.
Dino menghampiri tubuh Kania, lalu mendekapnya. Kania menghela napas, memang kenyataan tak seindah mimpi.