
Sampai wajah mereka berjarak satu langkah, Arman behenti. Hembus napasnya menerpa wajah Kania yang sudah penuh dengan rona merah.
“Ni,” ucap kembali Arman. Suaranya terasa lembut dan dalam.
Kania menutup mata, ia sudah tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Mana ada orang dewasa yang matanya terpana ketika melihat pasar malam Ni,” sindir Arman, lalu membuka pintu mobil dan dengan santainya melangkah keluar. Kania terpaku, dengan sejuta pertanyaan yang menggumpal di batinnya.
Hah?
Cuma sampai situ doang?
Maksud Arman apa sih?
Gue kenapa sih?
Tiba-tiba Arman membuka pintu di sisi duduk Kania. “Nanti tutup ya,” ucap Arman dengan nada yang masih meledek Kania, lalu berjalan menuju pasar malam.
Kania membanting pintu mobil dengan keras. Dengan setengah berlari, Kania menghampiri Arman. Wajahnya terlihat marah.
Kania langsung mencubit perut Arman dengan kencang. Membuat Arman meringis kesakitan.
“Sakit Ni,” keluh Arman sambil tertawa melihat Kania marah.
“Biarin abisnya nyebelin, maksudnya apa tadi, aku udah mikir yang enggak-enggak tau,” keluh Kania meradang.
“Emang kamu mikirnya apa?” ledek Arman sambil memasang senyum yang manis.
“Gausah tanya!” protes Kania sambil kembali mencubit perut Arman.
“Iya Ni, ampun,” mohon Arman karena cubitan Kania sekarang benar-benar menyakitkan.
Kania mulai iba melihat Arman yang meringis kesakitan. Cubitannya tadi memang benar-benar serius. Pikirannya seketika tersentak, mengapa ia bisa menjadi sedemikian jengkel seperti ini. Dan jengkel ini menyenangkan karena sejenak tadi melenyapkan kegundahannya.
Ia melepas cubitannya, lalu melangkah meninggalkan Arman, wajahnya sengaja dipasang cemberut. Ia masih ingin menikmati kejengkelan yang menyenangkan seperti sekarang. Arman mengekor di belakang Kania sambil mengusap perutnya. Mereka terus berjalan menuju pintu masuk pasar malam. Kania menunggu Arman memohon-mohon maaf kepadanya. Namun sampai dekat pintu masuk, Arman masih sibuk mengusap perutnya. Rasa marah kembali menyeruak memanaskan kepalanya.
Kania menghentikan langkahnya, Arman reflek ikut berhenti.
“Hah?” Arman bingung mengapa Kania kembali marah kepadanya.
“Minta maaf kek apa kek, dari tadi malah diam saja,” rengek Kania dengan wajah cemberut namun suaranya terkesan seperti orang manja.
“Hmm, jadi begitu,” Arman berdeham. Ia menatap sekeliling, tampak pengunjung diam-diam melirik mereka sambil tersenyum-tersenyum. Arman tersenyum. Ia ingin melanjutkan drama yang menyenangkan seperti ini.
“Iya aku minta maaf Kania,” ucap Arman dengan lembut. Suaranya sengaja ditinggikan sehingga pengunjung yang melirik mereka mendengar ucapannya.
“Enggak mau, masa minta maaf doang,” Kania masih berbicara dengan ketus dan cemberut. Ia belum sadar kalau tengah menjadi pusat perhatian.
“Terus aku harus bagaimana?” tanya Arman masih dengan tatapan dan nada yang lembut.
“Pokoknya Mas nurutin aku. Aku mau gulali, popcorn, kembang api, terus gulali lagi,” pinta Kania dengan manja dan kekanakan.
“Oke.”
“Aku mau naik bianglala, komidi putar, ombak."
“Oke.”
“Mau nonton roda gila.”
“Enggak mau coba sekalian?”
“Enggaklah!” Kania memukul bahu Arman.
“Mau masuk ke rumah hantu.”
“siap.”
“Yang ini harusnya Mas tolak, kan aku takut,” Kania kembali memukul bahu Arman.
Pengunjung yang sedari tadi melirik mereka tersenyum. Mereka berharap pasangan mereka bisa sehangat Kania dan Arman. Yang lelaki berharap bisa pasangannya bisa semanja Kania dan yang perempuan berharap pasangannya bisa selembut dan sepengertian Arman.
Arman melihat penonton terhenyak menikmati mereka. Ia akan memberikan sentuhan terakhir yang indah untuk penonton tersebut. Tangannya direntangkan, meminta Kania menggenggamnya. Kania reflek menyambut uluran tangan Arman, lalu mereka berjalan menuju loket pintu masuk.