
“Bagus Di kamu teguh dengan prinsipmu,” ucap Mama Kania. “Orang yang teguh dengan prinsipnya sudah menjadi barang langka Di. Pegawai mama saja jika mama tanya seperti ini akan kebingunan, padahal mereka sarjana.”
“Kebanyakan mereka menyerah oleh keadaan. Dan nyatanya dunia ini sudah tidak memerlukan orang yang teguh dengan prinsipnya kok, yang dibutuhkan dunia sekarang adalah manusia-manusia yang terampil mengolah sistem yang sedang berjalan.”
Kania dan Dino khidmat mendengar uraian mama Kania, ralat hanya Dino yang khidmat, sedangkan Kania tampak mengantuk. Ada kalanya Mama Kania berbicara kritis seperti ini. Satu lagi kebiasaan Papa Kania yang tertular padanya. Selain itu, Mama Kania juga benar-benar merasakan perubahan yang drastis dalam hidupnya ketika menikah, dari yang dulu sebatas gadis desa yang polos dan lugu dengan sekumpul pengetahuan tentang keasrian menjadi gadis kota yang menuntut dirinya cerdas, kritis, dan kompetitif, perbedaan dua sisi kehidupan ini membuat mama Kania mempunyai perpekstif pribadi tentang dunia.
Dino sangat senang mendengar ucapan-ucapan Mama Kania, pengetahuan yang dicurahkannya lebih terasa karena berdasar juga pengalaman, tidak sebatas teori buku. Sedang Kania sudah merasa suntuk, Kania seperti sedang kuliah filsafat yang selalu berbelit-belit penjelasannya.
“Tapi kalau kalian nikah, jangan ajak Kania lama-lama keluar kota ya, nanti Mama tidak kuat kangennya,” ledek Mama Kania. Ledekannya ini membuat Kania dan Dino tersentak. Bagaimana bisa perbincangan berganti topik dengan cepat.
“Apasih Maaa,” sergah Kania yang wajahnya sudah memerah mendengar ucapan mamanya.
“Ya Mama kan jaga-jaga dari sekarang Ni, jadi kalau kejadian mama bisa menegur Dino,” ucap mama Kania membela diri dari sergahan Kania. Matanya sambil melirik ke arah Dino.
“Iya-iya ma,” ucap Dino terbata. Dino mengerti maksud lirikan mata mama Kania. Kania dan Dino memang sering membicarakan pernikahan, tetapi perbincangan mereka hanya sebatas impian dan andai-andai. Ucapan dan lirikan mata mama Kania seolah mengisyaratkan Dino harus merencanakan dengan matang jika ingin menikahi Kania. Kania yang sebentar lagi lulus kuliah. Kania yang lugu, polos, dan manja.
Dino sadar cepat atau lambat hubungannya akan melangkah ke tahap ini.
***
“Dino kamu menginap di sini aja ya, di rumah lagi enggak ada laki-laki, enggak ada yang jagain kita, Om masih di luar kota,” pinta Mama Kania yang lagi-lagi kembali membuat Kania dan Dino terkejut. Kania mendelik, berpikir hantu apa yang merasuki mamanya yang membuat tingkahnya menjadi seperti.
“Tapi tidurnya di sofa,” mata mama Kania melirik ke arah Kania yang tengah tersenyum-senyum sendiri. Kania menyadari lirikan mamanya, ia malu tertangkap basah sedang memikirkan sesuatu yang nakal. Dan mamanya seakan membocorkannya ke Dino.
Tangan Kania reflek mencubit mamanya, jengkel dengan godaan mamanya.
Dino terdiam sejenak. Darahnya berdesir cepat seolah bersorak menyuruhnya untuk segera mengiyakan. Tetapi, pikirannya masih berada di dalam kontrolnya yang membuat ia masih menahan gejolak dalam dirinya.
Tawaran Mama Kania sangat berani. Rasanya ia sampai sekarib ini dengan keluarga Kania sampai mereka sedemikian percayanya. Dino merasa ada yang janggal, sedari makan malam memang Dino sudah merasakan ada yang janggal dengan mama Kania malam ini. Seolah Mama Kania hendak memancing sesuatu, tetapi ia tidak menemukan tujuannya.
“Terima kasih banyak Ma. Tapi tidak ada Om justru membuat saya makin tidak enak untuk menginap. Saya pamit pulang saja,” raut wajah Kania berubah kecewa mendengar keputusan Dino.
“Tapi mama hubungi saya saja, jika ada apa-apa, saya standby,” lanjut Dino sambil beruluk salam lalu melangkah pulang.
Kania dan mamanya mengantar Dino sampai depan pintu rumah. Mereka masih sempat membalas lambaian Dino dari kejauhan.
“Lelaki yang teguh dengan prinsipnya,” ucap mama Kania. Ucapannya terasa dalam.
“Dan kamu, sudahkah teguh dengan pilihanmu?” tanyanya tiba-tiba ke Kania, lalu ia berlalu. Kania terdiam. Mencoba menerka maksud pilihan yang mamanya ucapkan.