
Malam ini, dapur Kania mendadak riuh. Mama Kania bersikeras ingin memasak merayakan kepulangan Dino dari Kalimantan. Melihat yang bisa diolah di kulkas tidak terlalu banyak, Mama Kania dan Dino berdiskusi sejenak. Akhirnya pilihannya membuat sup daging dengan menggunakan potongan daging yang sedikit, bumbu pasta yang akan dicampur tomat, cabai, dan bumbu dapur lainnya. Mama Kania dan Dino mulai sibuk mengiris atau memotong bahan olahan.
Kania duduk diam memperhatikan mereka. Sebenarnya ia sangat ingin membantu, apalagi memasak bersama Dino. Kegiatan masak ini pasti akan menjadi sangat romantis. Namun sayang, dengan tegas ibunya melarang Kania ikut campur. Takut Kania merusak sesuatu. Kania memang tidak bisa memasak, jangankan memasak mengiris sesuatu saja ia tidak bisa. Walhasil ia hanya menonton mamanya dan Dino yang tengah asik memasak sambil memasang wajah cemberut. Momen romantisnya telah direnggut mamanya sendiri.
“Sabar ya putri masakan akan segera siap,” goda Mama Kania sambil mencubit pelan pipi Kania yang menggembung jika sedang cemberut.
“Au,” balas Kania datar.
Tawa ibu Kania dan Dino pecah melihat tingkah Kania yang jengkel.
***
Mereka duduk mengitari meja makan. Mama Kania dengan sengaja memadamkan lampu, lalu mengganti penerangannya dengan lilin. Supaya lebih terlihat intim, tadi katanya. Kania menggeleng-gelengkan kepala melihat uniknya tingkah mamanya. Dalam hati ia sangat bersyukur memiliki mama yang asik dan fleksibel sepertinya, meski kadang terlalu over dan norak.
Beberapa waktu kemudian, acara santap malam yang waktunya sudah terlalu larut selesai. Piring-piring sisa makanan masih terhampar di meja, di mana pengisinya juga belum beranjak dari sana. Mama Kania mengambil kotak rokok dari tas jinjing kecilnya. Ia menyulut rokok yang berukuran slime tersebut, dan menghisapnya perlahan. Sedetik kemudian ia kembali hembuskan, asap menari di atas mereka lalu menguap bersama udara.
Mama Kania menanyakan Dino tentang kondisi Kalimantan, kegiatannya di sana, sampai tiba-tiba pertanyaannya di luar konteks.
“Jadi Dino, kamu mau sampai kapan menjadi volunteer?” tanya Mama Kania dengan tenang. Namun entah kenapa, nadanya terkesan serius. Kania menahan napas, pertanyaan mamanya membuat ia juga penasaran dengan rencana masa depan Dino.
Dino meneguk air sedikit. Lalu ia menjawab sambil tersenyum. “Sampai saya tidak bisa berbuat sesuatu lagi Ma, entah saya meninggal atau sakit kritis, di titik itulah saya akan berhenti. Karena saya merasa, kegiatan baik sudah seperti bernapas. Setiap saya melangkah jalan yang saya pijaki adala berbuat baik,” jawab Dino dengan serius. Matanya menyorot tajam namun tenang, seolah apa yang sudah ia sebutkan ini merupakan kesungguhan.
Mama Kania henyak mendengar jawaban Dino. Senyumnya mengembang dengan indah.