Question

Question
Haruskah Aku Pulang? (2)



Udara malam menelusup tenda Dino yang sengaja tidak ia tutup. Dingin menelusup, menguliti kulitnya, dalam kondisi normal orang mungkin akan segera menarik selimut mengusir hawa dingin yang terasa menyiksa, namun Dino tetap bergeming. Ia hanya tergeletak di posko penginapan. Seharian tadi ia tidak ikut membantu teman-temannya menanam pohon. Meski dalam hatinya ia merasa sedikit egois, namun ia merasa tubunya lemah - seakan hilang segala daya yang menggerakannya. Dino mendengar bisik-bisik para volunteer magang mencibir dirinya. Beruntung cibiran terdengar hilang begitu Pak Abdul dan teman-temannya menjelaskan ke para volunteer baru tersebut.


Pesan terakhir dari Kania nyaris membuatnya rubuh. Pikiran Dino menjadi tidak karuan. Rasa bersalah merayapi tubuhnya menghempaskan jiwanya.


Seharian ini Dino mengirim pesan ke Kania, namun pesannya hanya bercentang satu – yang biasanya dalam aplikasi Whatsapp menjadi tanda bahwa yang bersangkutan sedang offline atau memblokir kita. Sepertinya pilihan yang kedua mengingat keseharian Kania tidak terlepas dengan internet. Dino juga mencoba meneleponnya namun panggilannya selalu dialihkan. Seakan Kania tidak mau lagi berurusan dengan dirinya.


Tidak biasanya Kania seperti ini, selama bertahun-tahun mereka berhubungan. Belum pernah Kania marah sampai menjauhi dirinya seperti ini. Pernah satu-dua kali mereka bertengkar, tetapi pertengkaran itu hanya sebatas adu argumen dan selesai di hari itu juga. Masalah selalu diselesaikan dengan kepala bukan dengan emosi sehingga tidak pernah menjadi larut.


Dino tidak tahu letak kesalahannya. Ia merasa tidak membuat kesalahan yang fatal. Bukan maunya juga ia tidak memberi kabar ke Kania. Orang segila apa yang sengaja menghilangkan ponselnya tanpa alasan.


Apa yang membuatmu lelah Ni, hati Dino bergumam lirih.


Jika jalan hidupnya ini yang menjadikan Kania lelah, rasanya aneh, sudah dari sekolah Kania tahu bahwa ke depannya Dino akan menjadi seperti sekarang. Mengapa tidak dari dulu Kania permasalahkan. Pikirannya semakin kalut, usahanya mencari penyebab masalah justru menciptakan jawaban-jawaban buruk yang mengusik batinnya.


“Jangan mendengarkan suara-suara dalam pikiranmu Di. Mereka semua salah. Kalau kau ingin mengetahui kejelasannya, kau bisa langsung menemui Kania,” tegur Pak Abdul. Nadanya mengisyaratkan Dino untuk kembali ke Jakarta.


Dino mengerti isyarat tersebut. Sebelumnya terbesit dalam benaknya untik kembali ke Jakarta. Menemui Kania. Namun, ia kembali merasa tidak enak jika harus meninggalkan Pak Abdul dan teman-temannya. Ia merasa sangat egois jika menuruti keinginannya, padahal di depannya orang-orang sedang berjuang berbuat kebaikan.


“Cobalah menjadi Kania Di. Mungkin kau akan menemui sesuatu,” ucap Pak Abdul lebih lanjut.


“Tiket pulang masih berlaku. Temui saya jika kau ingin kembali,” Pak Abdul henyak henyak menatap Dino yang masih tetap terdiam. Tak lama ia beranjak keluar dari tenda.


Dino terpaku, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.