
“Maaf ya, Mas jadi nunggu lama,” ucap Kania. Arman yang sedari tadi tengah berkutat dengan laptopnya seketika berhenti. Wajahnya diangkat menghadap Kania. Ia tertegun melihat penampilan Kania. Kania terlihat segar dan ceria. Arman merasa sesosok peri tengah berdiri di hadapannya.
Sadar tampilannya tengah diperhatikan, Kania tertunduk malu. Benar dugaannya, tampilannya terbanting oleh Arman yang mengenakan Polo Shirt biru gelap dengan Cino hitam dan sepatu kets berwarna putih. Arman mengesankan tampilan santai namun casual.
“Hmm tampilan aku norak ya,” ucap Kania dengan memelas. Wajahnya masih menunduk, menahan rasa malu yang menderanya.
“Enggak kok, Ni. This is yours and seriously, aku tak pernah melihat wanita secantik dan seceria dirimu,” ucap Arman. Nada bicara tegas menandakan keseriusan. Kania sedikit tertawa, merasa aneh ada orang yang menggombal dengan sikap serius.
Kania duduk di hadapan Arman. Pramusaji menghampiri mereka berdua dan menyodorkan buku menu.
“Sekarang kita sarapan di waktu makan siang dulu, aku tahu kau pasti belum makan.”
Perut Kania berdenyut, dugaan Arman benar ia belum sarapan dan mendengar ucapan Arman membuatnya merasa lapar.
“Kok mas tau?”
“Wanita, persiapannya lama,” ledek Arman.
“Terus kenapa Mas juga belum sarapan?”
“Menunggumu.”
Detik seakan melambat. Wajah Kania memerah. Ia tersipu.
***
Mobil mulai melaju dengan kecepatan yang santai. Di dalamnya tengah mengalun lagu What a Wonderfull World karya maestro kawakan Louis Amstrong yang disetel dengan volume sedang sehingga percakapan mereka tidak terganggu. Kania sempat menahan tawa karena kuno sekali selera musik Arman.
“Mas, kita mau ke mana?” tanya Kania yang tadinya riang menjadi lebih serius.
“Enggak tahu,” jawab Arman santai.
“What?!” Kania tersentak. “Jadi dari tadi kita jalan enggak tahu mau ke mana,” ucapnya kembali dengan nada serius.
“Kamu saja yang memutuskan mau ke mana. Anggap hari ini aku supir kamu,” balas Arman dengan kembali dengan nada santai.
Kania mendengus, wajahnya berubah menjadi cemberut. Sebenarnya ia tidak jengkel, justru sebaliknya ia senang dengan perlakuan Arman yang seperti ini. Kania merasa dihargai. Kania membuka ponselnya lalu membuka aplikasi yang mengenalkan sejumlah kafe & resto lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia membuka menu book list pada aplikasi itu, lalu mulai sibuk menentukan tempat mana yang ingin ia kunjungi. Pilihannya jatuh pada sebuah kafe outdoor yang bertemakan kebun, lengkap dengan karpet flanel dan payung yang mengesankan pengunjung tengah berpiknik.
Kania menunjukkan layar ponselnya ke Arman dengan semangat. Ia memang sudah lama ingin ke sana. Arman memberi anggukan, lalu tanganya dilipat ke kepala, memberikan hormat dengan mantap ke Kania. Kania terpingkal melihat tingkah Arman yang kekanakan, tidak cocok dengan usia dan tampilannya.
“Yah cemberutnya hilang deh, padahal kamu cantik tadi pas lagi cemberut,” ledek Arman.
“Ihhh,” Kania berdesis. “Cantikan mana kalau lagi tertawa.”
“Dua-duanya.”
“Pilih salah satu.”
“Semua yang kau ekspresikan sangat cantik, Ni,” ucap Arman dengan nada serius.
Wajah Kania memerah. Ia kembali tersipu yang entah sudah berapa kalinya hari ini.