Question

Question
Kencan



Jessica sibuk memilih pakaian di sebuah brand internasional yang cukup terkenal. Matanya tajam, fokus memperhatikan setiap sebuah t-shirt putih lengan pendek, menimbang apakah cocok dengan tubuhnya. Sedetik kemudian, ia kembali meletakan pakaian tersebut, lalu berjalan menyisir pakaian yang lain.


Yoga sedari tadi mengekor di belakangnya, matanya menatap sekeliling, tempat ini terasa sangat asing dalam hidupnya, udara di sini terasa berat, terasa sangat menekan. Ini baru pertama kali ia mendatangi toko pakaian brand internasional dan melihat harga yang baginya gila untuk sebuah pakaian.


“Yoga,” sapa Jessica sambil tetap menatapi pakaian-pakaian yang menggantung di display. Yoga menyudahi melihat sekeliling, ia mendekat kepada Jessica. Wajahnya tampak gusar. Ia ingin Jessica segera membeli sesuatu dan pergi dari tempat ini.


“Menurut Yoga, Jessica bilang enggak ya ke Arman kalau Kania sekarang ngekos?”


“Terserah Kak Jessica,” jawab Yoga datar.


“Minimal kan kalau Arman tahu Kania ngekos, ia bisa bantu Kania,” balas Jessica masih tetap memperhatikan pakaian-pakaian.


“Iya,” tanggap Yoga kembali datar.


“Tapi Jessica enggak enak sama Dino, sama Kania juga. Kesannya Jessica menyuport Arman banget,” lanjut Jessica.


“Bisa jadi.”


“Menurut Yoga gimana?”


“Terserah Kak Jessica.”


Jessica meletakan pakaian yang ia pegang dengan geram.


“Yoga!” ucap Jessica meninggikan suaranya.


“Yoga kok ngebetein banget ih,” sergah Jessica dengan jengkel.


Melihat Jessica jengkel, wajah Yoga berubah pucat. Ia merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, sulit sekali bersikap biasa di dunia yang asing buat kita.


“Ngobrolnya di tempat lain aja ya. Aku canggung di sini, jadi bingung sendiri. Kakak cepetin ya belanjanya.”


“Tadi Yoga sendiri yang mau nemenin belanja. Sekarang ngomongnya malah begitu. Tenang aja Yoga, Jessica enggak minta Yoga bayarin belanjanya Jessica kok,” sindir Jessica masih bersama rasa jengkelnya.


“Kalau emang udah enggak mau nemenin, Yoga pulang saja. Jessica nanti bisa pulang sendiri.”


Yoga menunduk kelu. Kalimat Jessica menyentak hatinya. Ia seperti diingatkan kembali perbedaan kelas yang dulu membuatnya takut mendekati Jessica. Dunianya dengan dunia Jessica bagai langit dan bumi.


Sadar Yoga tidak membalas ucapannya, Jessica henyak. Ia merenungi kalimatnya tadi. Hatinya tertekan. Ia salah. Harusnya ia tidak sesuatu sekejam tadi.


“Yaudah sebentar lagi Jessica selesai. Maaf ya Yoga kalau omongan Jessica tadi enggak enak,” ucap Jessica dengan lembut. Tatapannya tampak bening dan penuh manja. Diserang dengan tatapan semenggemaskan ini membuat rasa minder Yoga lenyap entah ke mana.


“I-iya Kak. Kak Jessica enggak salah kok,” jawab Yoga masig terbata.


“Hmm Yoga, Jessica lapar. Yoga nanti ajak makan Jessica ya, tempatnya terserah Yoga,” pinta Jessica dengan raut wajah yang sangat manja.


“I-iya Kak,” tanggap Yoga terbata. Jessica mengangguk, lalu kembali sibuk dengan urusannya. Ucapan Jessica masih menggema di telinganya. Betapa pengertian dirinya, gumam Yoga.


“Kak kalau menurut aku, sebaiknya kakak diam dulu. Biar Kak Kania sendiri saja yang memberitahu,” jelas Yoga, ia mulai berusah bersikap seperti biasanya.


“Hmm, iya sih Ga. Tapi kalau Arman tahu, seenggaknya dia bisa kasih kerjaan ke Kania,” sergah Jessica.


“Iya sih, tapi tanpa Kakak kasih tahu, cepat atau lambat saudara Kakak juga akan tahu kok. Baru sehabis itu Kakak lihat bagaimana sikapnya,” jelas kembali Yoga.


Jessica diam sejenak. Lalu mengangguk, setuju dengan ide Yoga.