
Tiga minggu berlalu semenjak kejadian itu. Tiga minggu yang diisi Kania dengan khawatir Dino tiba-tiba pergi. Kania tahu permintaannya ini sangat egois dan kekanakan, namun ia sangat ingin Dino ada pada momen yang penting dalam hidupnya. Kekhawatiran Kania lenyap ketika pagi ini ia melihat Dino di teras rumahnya, bersiap mengantar dan menemani dirinya sidang skripsi.
Dino mengenakan kemeja putih dengan balutan kemeja flanel yang bercorak merah hitam sebagai luaran. Kania tersenyum melihat Dino berpenampilan rapi untuk dirinya. Ia merasa dihargai. Dino menyerahkan satu tangkai bunga matahari yang sudah dihias dengan indah.
“Aku mau jadi orang pertama yang mengucapkan selamat dan memberikan hadiah kepadamu.”
“Kan Kania belum pasti lulus Dino,” ucap Kania tersipu menerima bunga dari Dino.
“Jadi mau-tidak mau kamu harus lulus,” ucap Dino penuh semangat.
“Harus,” balas Kania sambil mengepalkan tangannya menghimpun semangatnya.
“Ayuk berangkat,” ajak Dino, lalu mereka menghampiri Mama dan Papa Kania untuk beruluk salam dan memohon doa restu. Mata Mama Kania tampak berkaca, ia terharu melihat sebentar lagi anaknya berhasil menjadi sarjana.
“Jangan pecat aku jadi anak ya Pa, kalau aku tidak lulus,” ucap Kania sambil mencium tangan Papanya.
“Dasar anak ngawur,” Papanya menjulurkan tangannya untuk dicium Kania. “Papa doakan yang terbaik,” bisiknya penuh ketulusan.
Kania menuju Mamanya. Ia mencium tangan Mamanya dengan penuh hormat. Mamanya mengusap kepala Kania, lalu berkata. “Jangan bunuh diri ya kalau tidak lulus,” ledek Mamanya sambil menatap Kania penuh keharuan.
***
Kania dan Dino tiba di depan ruang sidang. Di depan ruang tersebut duduk menghampar teman seangkatan Kania yang juga akan sidang. Suasana sangat hening, tidak ada yang bersuara. Mereka tengah sibuk membuka-buka buku, menyibukan diri dengan belajar. Sebagian mereka ada yang memejam mata, mulutnya merapal sesuatu seperti berdoa. Mereka berharap Tuhan mencahayai kepala mereka sehingga mereka bisa tenang menjawab pertanyaan Penguji. Wajah mereka tampak tegang. Ketegangan mereka seketika menular ke Kania, namun Dino langsung menepuk bahu Kania dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
“Sekarang giliran siapa?” tanya Kania basa-basi untuk memecah kehenginan. Kania tahu jika sekarang giliran Saras.
“Saras,” jawab seseorang dengan basa-basi juga.
Percakapan berhenti. Hening kembali memenuhi udara. Sampai akhirnya Saras membuka pintu ruang sidang. Raut wajahnya tampak lelah namun puas. Para peserta sidang – termasuk Kania mengelilingi Saras. Mereka bertanya bagaimana suasana sidang tadi dan masih banyak lagi. Belum selesai Saras menjawab semua pertanyaan, Saras sudah dipanggil kembali masuk ke ruang sidang, mendengar putusan ia lulus atau mengulang.
Beberapa menit kemudian Saras kembali keluar ruang sidang. Saras langsung memeluk Kania sambil diam menutup matanya, bahunya bergetar. Kania dan para peserta sidang lain mengelilingi Kania dan Saras. Mereka menduga Saras mengulang. Kania sudah mau menangis melihat keadaan Saras.
“Sar, lo gak lulus?” tanya Kania khawatir, suaranya sangat sedih.
Saras tertawa dengan puasnya melihat ekspresi khawatir Kania dan peserta sidang lain. “Ya luluslah, masa orang paling pintar di kelas tidak lulus,” ucapnya membanggakan diri. Wajah Kania dan para peserta sidang lain memerah, jengkel dengan tipuan Saras. Namun, sedetik kemudian mereka bersorak dan mengucapkan selamat kepada Saras.
Sorakan mereka berhenti ketika nama Kania dipanggil masuk ke ruang sidang.