
" Maaf karena kak kau jadi menderita karena aku, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu dan sok hebat, sok baik dengan sikap ku yang kurang dewasa. " Anne semakin mengeratkan pelukannya untuk memeluk James yang sepertinya sudah hampir ambruk.
Ayah Bien tentu saja bisa melihat betapa pucat nya wajah James jadi dia meminta Anne segera membaranya ke rumah sakit dengan menggunakan mobil yang mereka gunakan tadi, dan beruntung juga mereka datang bersama sopir jadi Anne tidak perlu repot mengemudi. Sedangkan Ayah Bien dan Istrinya akan menunggu sampai Angel benar-benar pergi untuk naik ke pesawat. Iya, meksipun sudah melihat keadaan James, Angel masih kekeh memilih untuk pergi ke luar negeri.
Begitu banyak alasan yang dia miliki, pertama dia ingin mengindari Gerry yang begitu gencar ingin menemuinya, meneror semua orang untuk mempertemukan dia dengan Angel, bahkan pelayan rumah mereka juga sampai ada yang mendapatkan pesan dari Angel, satpam rumah juga buka sekali dua kali saja sampai di bentak-bentak oleh Gerry demi untuk menemui Angel.
" Nak, jaga diri baik-baik ya? Kami akan menyelesaikan masalah disini, jadi kembalilah saat suasana hatimu sudah baik ya? " Pinta Ibu seraya menggenggam kedua tangan putrinya, yah Ibu mana yang tidak berat hatinya melepaskan putrinya untuk pergi jauh darinya?
Angel tersenyum meski melihat wajah sedih Ibunya, serta dianya Ayah Bien yang juga sedih membuat hatinya seperti tersayat. Jelas dia sadar betapa pengecutnya dia karena kabur dari masalah ini dan membiarkan orang tuanya untuk menyelesaikannya. Padahal dia tahu orang tuanya pasti merasakan sakit yang lebih besar dari pada yang ia rasakan.
" Aku akan menjaga diri baik-baik, tolong Ayah dan Ibu juga jaga diri baik-baik, aku akan menghubungi kalian berdua setiap hari supaya kalian tidak khawatir ya? "
Sebentar mereka saling memeluk sebelum Angel melangkahkan kaki.
Maaf, Ayah dan Ibu. Aku tahu kalian pasti sangat sedih, tapi aku mungkin tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat.
***
Di ruang sakit, James benar-benar tidak mau melepaskan tangannya dari tangan Anne. Dia terus menggenggam erat tangan Anne karena dia tidak ingin Anne meninggalkannya begitu dia melepaskannya. Mungkin sulit untuk di percaya, bahkan saat James berada di bawah pengaruh bius pun dia masih tidak melepaskan tangan Anne. Dokter tentu saja sudah mencoba untuk melepaskan tangan mereka agar bisa leluasa menangani dan mengobati luka di kepala, dan juga di kaki James, tapi pada akhirnya mereka menyerah karena James benar-benar sangat kuat memegang tangan Anne.
Beberapa saat kemudian, James sudah di pindahkan ke ruang rawat dan akhirnya Anne bisa leluasa karena hanya ada James dan juga Anne saja di sana.
" Kak, untung saja lukanya tidak parah, kalau saja lukanya parah dan kalau sampai kau kenapa-kenapa, aku tidak tahu harus bagiamana menghadapi keluargamu, menghadapimu, bahkan aku juga tidak tau bagiamana menghadapi diri sendiri. " Ucap Anne setelah cukup lama dia memperhatikan wajah James yang masih belum sadarkan diri.
Anne membuang nafasnya begitu melihat ponsel James yang tadi di berikan Dokter padanya, ponsel itu terus berdering tapi karena yang menghubungi adalah Ibunya James, Anne jadi membiarkan saja karena tidak tahu juga apa yang harus dia bicarakan mengenai kondisi James.
" Bagaimana ini kak? Orang tuamu berhak tahu kondisimu kan? Tapi aku masih belum siap kalau bicara dengan Ibumu. "
" Kalau begitu jangan bicara padanya, matikan saja ponselku. "
Anne tersentak karena dia tidak tahu kalau James sudah sadar entah sejak kapan, itu karena beberapa detik lalu saja Anne masih melihat mata James tertutup.
" Sejak kapan kak James bangun? "
" Sejak tadi, aku cuma ingin mendengar kau bicara jadi masih berpura-pura tidur. "
Anne menghembuskan nafas sebalnya, meletakkan kepalanya di dekat lengan James dan memeluk lengan yang bebas tanpa jarum suntik.
" Kak, tahu tidak kalau aku takut sekali melihat darah kak James tadi? Padahal aku tidak takut melihat darahku sendiri karena mungkin sudah terlalu terbiasa. "
James menggerakkan tangannya dan mengusap wajah Anne dan mencium kepalanya. Seandainya saja sekarang ini dia tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, James pasti benar-benar akan memeluk erat Anne dan menenangkannya lewat tindakan dan ucapan. Yah, tubuhnya benar-benar seperti habis dipukuli begitu dia sadar tadi, padahal beberapa saat lalu dia tak merasakan apapun saat di bandara lebih tepatnya.
" Kak James mengatakan ini apakah tidak tahu kalau aku jadi berdebar jantungnya? Kadang aku merasa begitu dicintai sampai aku tidak ingin memikirkan kebalikannya. Aku jadi semakin ingin terus bersamamu sampai ada di titik dimana aku ingin melihatmu bahagia dan siap melakukan apapun untukmu karena aku mencintaimu. "
James meraih tangan Anne dan menggenggamnya. Mungkin ini bukan momen yang tepat untuk menyatakan perasaannya yang sesungguhnya, tapi James terlaku takut kalau pada akhirnya dia akan kembali terpisah dan tidak memiliki kesempatan untuk mengatakannya secara langsung.
" Anne? "
" Hem? "
Anne mengubah posisi kepalanya untuk menatap kedua mata James yang sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu yang lumayan penting.
Greb!
James semakin mengeratkan genggaman tangannya.
" Aku, aku mencintaimu. "
" Ha? " Anne tentu saja terkejut meski dia selalu merasa seperti itu, tapi James kan tidak pernah mengatakan perasaannya, apalagi yang dia tahu cintanya kepada Angel dulu sangat besar jadi Anne benar-benar tidak pernah mau bertanya soal perasaan James karena takut jika tidak sesuai dengan harapannya.
" Aku mencintaimu, aku mencintaimu dan merindukanmu setiap waktu saat kau tidak ada di dekatku. Aku seperti orang linglung yang tidak tahu kemana arah hidupku, aku memang bisa menyibukkan diri dan sebentar lupa kalau kau meninggalkanku, tapi jika aku diam sebentar saja, aku benar-benar tersiksa saat kau tidak ada di dekatku. "
Anne menutup mulutnya, dia menangis karena dia benar-benar bahagia dan tidak menyangka kalau pada akhirnya James akan memiliki perasaan yang sama untuknya.
" Kenapa kau menangis? Apa karena situasi ini tidak cocok untuk menyatakan perasaan? Meskipun iya kau kan hanya tinggal bilang saja. "
Anne menggeleng cepat sembari menyeka air matanya.
" Bukan, bukan begitu! Aku cuma merasa sangat bahagia sampai tidak tahu harus apa, air mata ini juga jatuh sendiri. "
James tersenyum, ah! Seandainya saja dia tidak sedang merasakan sakit, dia pasti sudah akan membawa Anne masuk ke dalam pelukannya, lalu melakukan apa yang ingin dia lakukan tentunya.
" Ah, sebenarnya setelah menyatakan cinta seharunya kita berciuman kan? Tapi karena kondisiku begini- "
James tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Anne malah sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan ciuman.
" A Ayah, apa kita mau langsung masuk saja? " Tanya Ibunya Anne yang baru saja datang untuk melihat keadaan James bersama dengan suaminya.
" Terlalu memalukan, nanti saja. "
Bersambung.