
Pesta di mulai, ucapan selamat kepada kedua orang tua Anne dan Angel sudah banyak di dapatkan olehnya dari para tamu undangan. Tidak banyak orang yang datang memang, mungkin sekitar tiga puluh orang saja, tapi meksipun begitu rumah orang tua Anne dan Angel di dekorasi dengan mewah dan indah.
" Tersenyumlah, Angel. Jangan membuat orang memperhatikan ke arah kita, kau tahu benar aku bisa melakukan apa padamu kan? " Ucap Gerry, mimiknya tersenyum, tapi dengan nada bicara yang pelan dia mengancam Angel yang kini tengah ia rangkul agar terlihat mesra.
Angel tak bereaksi, dia benar-benar sangat lemas tak berenergi. Jika saja bukan acara penting orang tuanya, demi Tuhan dia akan lebih memilih tinggal di dalam kamar dan tidur selama mungkin.
Dari jauh James memperhatikan bagaimana ekspresi Angel yang memperlihatkan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik Sajam Make up yang di gunakan Angel saat itu memang cukup tebal, tapi sorot matanya yang sayu itu benar-benar menunjukan segalanya. James menghela nafas karena dia juga tidak bisa menghampiri Angel dan bertanya bagaimana keadaanya saat dia sedang bersama Gerry kan? Ngomong-ngomong soal Gerry, sepertinya James menyadari ada yang tidak beres, dia jelas bisa merasakan perubahan Gerry mulai dari tatapan matanya yang dingin, senyum yang menunjukan betapa tidak senangnya dia saat sekat dengan James tadi.
" Kak? "
Panggil Anne sembari memegang lengan James kuat menahan tubuhnya yang semakin lemas.
" Kenapa? "
" Tolong pegang aku, aku lemas. " Ucap Anne semakin mengeratkan pegangannya. James berpikir mungkin saja Anne cemburu karena di sana ada Angel, dia tidak menolak dan merangkul Anne seperti yang dia inginkan.
Angel bisa melihat adegan itu tapi tak bisa mendengar apa yang di katakan oleh Anne dan James. Dia tentulah merasa sedih, bagaimanapun di hatinya masih tersimpan nama James, meskipun dalam beberapa hal Gerry lebih baik dari pada James, tapi tetap saja matanya selalu tertuju kepada James seorang.
" Jangan begitu menyedihkan saat menatap pujaan hatimu, Angel. Aku muak, dan kau membuatku yang sudah menahan diri ini jadi ingin membunuh kalian berdua dengan sangat kejam. " Ucap Gerry, dia yang sedari tadi merangkul Angel jadi mencengkram kuat lengan Angel tapi wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun.
" Shhhh.... " Desis Angel tapi tak memberontak karena benar-benar sudah tidak sanggup melakukannya. Dia bisa berdiri dengan baik juga itu karena Gerry, jadi dia benar-benar sudah tidak sanggup melakukan apapun saat ini.
James mengeryit memperhatikan Angel, dia tau kalau Angel kesakitan, tapi begitu menatap Gerry yang terus memperhatikan kedua orang tua Angel dan Anne membuatnya keheranan, kenapa Gerry seperti bukan Gerry yang sebelumnya sangat lembut dan perhatian kepada Angel? Rasanya dia ingin menghampiri Angel, tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia juga sedang merangkul Anne yang sedang berasalan tengah lemas.
Dari kejauhan, seorang pria yang tak asing lagi ternyata baru saja sampai untuk memenuhi undangan dari Ayah Bien. Dia adalah Arthur, dia di undang karena kerja sama antara perusahaannya dan juga perusahaan orang tua Angel dan Anne sudah berjalan beberapa waktu, Arthur juga selalu menunjukan kesan baik sehingga membuat Ayah Bien mengundangnya untuk datang.
Sebenarnya Arthur sama sekali tidak menyukai pesta semacam ini, tapi karena tahu benar di sana dia akan bertemu Anne, dia jadi semangat untuk datang, padahal dia baru saja tiba di bandara setelah mengunjungi kakeknya yang menjalani perawatan di negara tetangga.
Anne memaksakan matanya untuk terbuka, sungguh pandanganya sangat gelap tapi dia tidak ingin absen dari acara penting orang tuanya, dia juga tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, tapi sungguh dia sudah tidak sanggup lagi berdiri lebih lama.
" Kak, tolong antar aku ke kamar ya? "
" Anne, sebentar lagi saja ya? Sebentar lagi kan acaranya selesai. " Ujar James yang sebenarnya ingin terus memperhatikan Angel dan mencari tahu ada apa dengan Angel sehingga dia terlihat sangat tidak baik seperti itu.
Benar saja, baru selesai James berbicara, rupanya Angel jatuh pingsan membuat James panik sehingga melepaskan rangkulannya dari tubuh Anne dan berlari menuju Angel dengan mimik panik.
" Angel! " Teriak James tanpa sadar, iya tanpa sadar juga dia telah menjatuhkan tubuh Anne yang sudah tidak sanggup lagi berdiri.
Sontak saja semua orang menatap kemana James berlari dan mengkhawatirkan Angel. Gerry melotot marah melihat James yang sudah berada di dekat Angel, tangannya hampir saja menyentuh lengan Angel sehingga Gerry menahan tangan James dan mencengkramnya dengan kuat, dia juga menatap marah.
" Aku hanya mengkhawatirkan sahabatku, apa salahnya?! " Protes James tak terima. Sebenarnya dia sangat kesal karena yakin benar sebab Angel pingsan adalah karena ulah Gerry.
" Angel! " Pekik Kedua orangtuanya Angel, mereka juga kompak mendekati Angel untuk melihat apa yang terjadi dengan putri mereka.
" Bagaimana kau menjaga Angel hah?! " Kesal James, menatap marah kepada Gerry.
" Istriku kelelahan beberapa akhir ini karena dia merasa agak gendut sehingga diet ketat, mungkin itu adalah alasannya. Aku akan segera membawanya ke rumah sakit. Tapi, dari pada mengkhawatirkan istri orang lain yang jelas ada suaminya yang akan mengurus, lalu bagaimana denganmu? Kau lihatlah kebelakang dan lihat keadaan istrimu. "
James dengan cepat menoleh ke belakang. Dia melihat Anne yang sudah sangat pucat kini berada di pelukan seseorang, Anne menatap James dengan mata yah begitu sayu sembari menitihkan air mata. Sontak James berlari menuju Anne ingin segera menolongnya, tapi pria yang tengah menahan tubuh Anne benar-benar membuatnya kesal luar biasa.
" Aku tidak menyangka akan melihat adegan ini, sepupuku. " Arthur tersenyum miring, dia benar-benar senang melihat bagaimana James begitu terperdaya oleh perasaannya hingga tanpa sadar terus melakukan hal bodoh, dengan begitu dia akan menunjukan kepada semua orang betapa tidak layaknya dia untuk menjadi menantu dari pengusaha sekelas Ayah Bien, terutama sebagai suaminya Anne.
" Berikan istriku padaku! " James dengan marah meraih tubuh Anne, dia mengangkatnya untuk segera di bawa kerumah sakit.
Di dalam perjalanan James terus memandangi wajah Anne, dia ingat benar sebelum Anne benar-benar menutup mata tadi dia melihat Anne menitihkan air mata. Dia pasti sedih sekali karena melihat James begitu mengkhawatirkan Angel sampai tak mengetahui jika Anne juga sedang tidak baik-baik saja.
" Maaf, maafkan aku Anne. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan, maafkan aku. " James memeluk Anne, juga mencium kepalanya dengan perasaan menyesal.
Bersambung.