Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 78 : Menggenggam Janji



James kembali ke rumahnya dengan wajah sedih yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Sekarang dia sudah berada di kamar yang dulu digunakan oleh James dan Anne. Dia mengingat banyak sekali momen mereka bersama meski memang belum lama mereka tinggal di sana. Dia melihat bagiamana Anne tengah bercermin, tersenyum saat mereka berpelukan, membangunkan James dengan terus mengecup bibir, dia juga sudah pandai memakaikan dasi saat James akan bekerja, juga bahkan mereka sering mandi bersama.


Rasanya benar-benar sangat hampa, seperti tubuh tanpa rasa, seperti keramaian yang malah memberikan kesunyian tak berujung. James, pria itu benar-benar hancur saat mengingat berapa saat lalu Anne sama sekali tak ingin menemuinya. Dia bahkan sudah memohon sampai bersujud di kaki Ayah mertuanya tapi tetap saja dia tidak mendapatkan restu untuk menemui istrinya sendiri. Sekarang masalahnya tidak sesederhana sebelumnya, tapi masih di dalam hati James untuk tidak akan menyetujui perpisahan.


" James! "


Ibunya James memanggil putranya beberapa kali, dan setelah membuka pintu kamar rumah James barulah dia bisa bernafas lega.


" James, Ibu memanggilmu terus menerus karena Ibu khawatir, ternyata kau diam di kamar sedari tadi ya? "


James masih terlihat lemas dan malas untuk berbicara, tapi setelah mengingat keadaan Ibunya yang sebelum dia tinggalkan tadi cukup serius, James jadi heran kenapa Ibunya malah bisa semakin ke rumahnya dengan semangat dan terlihat sehat sekali? James menggeleng dengan tatapan kelu.


" Ibu, bukanya Ibu sedang sakit? Kenapa Ibu bisa sampai disini? "


Ibunya James tersentak, dia benar-benar khawatir dengan James makanya dia lupa akan hal yang penting seperti itu. Jujur saja dia memang hanya berpura-pura sakit untuk membuat Anne merasa iba lalu menyetujui usulannya, tapi tidak tahunya malah dia mendengar kabar kalau Anne pergi dari rumah dengan tujuan untuk berpisah dengan James.


" Ibu hanya merasa khawatir padamu sampai Ibu mengabaikan kondisi Ibu sendiri. "


James menggeleng tidak percaya, sungguh dia bisa melihat wajah Ibunya yang sedang berbohong. Jadi Ibunya sengaja berbohong untuk melancarkan aksinya? Jadi apakah semua ini terjadi karena Ibunya?


" Ibu, kenapa Ibu melakukan ini? Kenapa? Ibu lihat sekarang Anne pergi meninggalkanku, ini keinginan Ibu kah? Ibu ingin semua jadi seperti ini? "


" Tidak, bukan seperti itu nak. Demi Tuhan bukan niat Ibu membuat Anne jadi meninggalkanmu. Tolong percaya Ibu, Ibu sama sekali tidak berniat seperti itu. Awalnya Ibu pikir Anne hanya akan merasa kasihan dan mengizinkanmu menikah lagi supaya bisa memiliki keturunan, hanya itu saja dan masalah ini Ibu sama sekali tidak merencanakannya. " Ibunya James mencoba meraih tangan James, tapi segera di tepis oleh James karena dia benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan bahwa rumah tangganya seperti ini karena ulah Ibunya sendiri.


" James, Ibu tahu ini berat untukmu karena kita juga selama ini bergantung dengan Ayahnya Anne, tapi dibanding apapun, semua harta kita tidak akan ada artinya kalau kau tidak memiliki keturunan dari darah dagingmu sendiri, nak. " Ucap Ibunya James dengan tatapan memohon yang begitu jelas terlihat dari kedua bola matanya.


" Ibu, aku ingin mempertahankan pernikahanku bukan karena aku takut dan segan kepada Ayahnya Anne yang selama ini membantu kita, tapi aku menginginkan Anne untuk bersamaku selamanya karena aku benar-benar menginginkannya. Aku, " James menghela nafasnya sebentar sembari merasakan betapa kacaunya perasaannya, dadanya bahkan sampai terasa sesak seperti di penuhi perasaan kecewa, sedih, marah menggumpal memenuhi dadanya.


" Aku mencintai, Anne. Aku mencintai Anne maka itu aku ingin bersama dia selamanya. Kenapa Ibu melakukan ini? Kenapa? Aku bahkan selalu tahu meskipun aku sadar hatiku tidak pernah siap kehilangan dia, aku belum mengatakan bahwa aku mencintai dia, tapi Ibu sudah membuatnya pergi dariku. "


James menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan posisi bersimpuh menatap lantai, dia benar-benar menangis karena begitu menyesal begitu santai dan ragu-ragu dalam meyakinkan dirinya sendiri padahal sudah jelas dia mencintai Anne.


Ibunya James terlihat merasa bersalah, tapi di dalam hati dan pikirannya masih saja egois dan mengatakan jika ini lebih baik dari pada tetap mempertahankan Anne sehingga mereka tidak akan pernah mendapatkan keturunan mereka nantinya. Memang wajar saja kalau James akan bersedih, tapi dia yakin sendiri jika James akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Suatu hari kalau sudah bertemu dengan wanita yang cocok dia juga akan kembali ceria seperti sebelumnya.


" Nak, perpisahan ini mungkin adalah pilihan yang terbaik untuk kalian berdua. Anne kan bisa menemukan kebahagiaanya dengan pria lain, dia bisa menikah dengan pria yang sudah memiliki anak jadi tidak menginginkan anak lagi dia pasti akan lebih baik kalau meni- "


" Berhenti! Demi Tuhan jangan pernah mengatakan kalimat seperti itu lagi, aku tidak akan pernah menerimanya! Aku tidak akan pernah membiarkan istriku menikahi pria lain, juga tidak akan menerima siapapun mengatur hidup istriku sesuka hati, termasuk juga Ibu salah satunya. " James menatap dingin Ibunya karena dia merasa sudah tidak tahan lagi memendam kekecewaan yang begitu besar terhadap Ibunya sendiri.


" James, kau sadar kau sedang bicara dengan siapa?! Berani-beraninya kau menatap Ibumu dengan tatapan seperti itu! Kau seharusnya lebih memilih Ibumu di banding Anne! Hanya karena membela Anne kau sampai dengan berani membentak itu, menatap penuh kemarahan dan kebencian seperti itu kepada sanita yang sudah melahirkanmu, membesarkanmu di tengah-tengah prahara besar yang menguras tenaga dan emosiku. "


James membuang nafas setelah mengusap kasar wajahnya agar air matanya menghilang dari sana. Sekarang dia benar-benar tidak memiliki apapun untuk membuatnya merasa perlu untuk menahan diri seperti sebelumnya.


" Ibu, terimakasih karena sudah melahirkan dan membesarkanku. Kalaupun Ibu ingin aku membalas Budi, tolong mintalah yang lain saja karena aku tidak akan sanggup mengikuti keinginan Ibu. "


James bangkit dari posisinya, dia meraih kunci mobilnya kembali dan meninggalkan Ibunya di sana tidak perduli betapa banyak Ibunya berteriak memanggil namanya.


Sebenarnya hari ini adalah hari yang seharusnya di gunakan James untuk bekerja, tapi kepergian Anne benar-benar membuatnya hilang akal hingga mengingat perusahaan saja tidak sama sekali. Setelah meninggalkan Ibunya di rumahnya, James mengendarai mobilnya untuk kembali datang ke rumah orang tua Anne. Sadar jika tidak akan bisa bertemu Anne, James hanya memarkirkan mobilnya dari arah yang memungkinkan dia melihat ke jendela kamar Anne. James benar-benar betah dalam posisi yang sama hanya demi melihat Anne, bahkan hingga tengah malam James juga masih betah di sana karena dia bahkan tidak merasakan lelah sama sekali selain ketakutan yang luar biasa.


Bersambung.