
Arthur menatap James dengan tatapan yang begitu tajam, dia mendiamkan saja segelas teh yang di sediakan di mejanya bersamaan dengan teh milik James yang sudah habis. Senyum tipis terbit di bibir James karena pada akhirnya Arthur berada di hadapannya tak bisa lagi menyombongkan diri seperti sebelumnya meski matanya masih menatap penuh dendam.
" Jadi, kau kesini untuk yang mana? Memohon, atau mengancam padaku? " James kembali tersenyum, kali ini dia benar-benar bisa dengan bangga menunjukan keberaniannya setelah bertahun-tahun hanya bisa menunduk dan menahan rasa sakit untuk semua yang terjadi kepadanya juga kedua orang tuanya.
Arthur menghela nafas, rasanya kesal sekali melihat wajah James yang begitu sok percaya diri sedangkan dia tidak bisa melakukan apapun yang dia inginkan seperti dulu. Dia menahan dirinya untuk tidak memperlihatkan benar kemarahannya, mengepal tangannya berharap hal itu bisa sedikit meredam emosinya.
" Katakan saja apa maumu, jangan bertele-tele dan jangan terus mengirimkan ancaman serta memeras ku tiada habisnya. Sudah lima persen saham kepemilikan keluarga aku berikan padamu apa itu nasib belum membuatmu puas? Kalau ingin bersaing denganku, ayo kita bersaing dengan sehat. "
James menahan tawanya, dia membuang nafas sebelum mulai berbicara karena masih merasa heran dengan Arthur yang kelihatan jelas tidak suka merendahkan dirinya untuk memohon padahal perusahaan keluarganya juga sedang dalam keadaan tidak baik, ditambah James sudah mengambil lima persen saham yang dimiliki keluarganya di dalam perusahaan itu.
" Mau ku? Aku ingin banyak sekali apa kau sanggup memberikannya padaku? "
Arthur mengeraskan rahangnya, gila dua benar-benar bisa gila kalau lama-lama berada di dekat James yang sok percaya diri sekali itu.
" Katakan saja dan jangan banyak bertele-tele. " Arthur semakin terlihat tak sabar.
" Oke! " James memundurkan tubuhnya, menyender dengan nyaman sembari menatap Arthur dengan bibir yang tersenyum puas.
" Pertama, aku ingin kau berhenti memiliki fantasi gila terhadap istriku. "
Arthur terlihat terkejut, dia sebentar menatap James menatap wajahnya mencari tahu apakah James menyadari benar bagaimana ketertarikannya terhadap Anne.
" Kedua, kau harus membuatku merasa tenang, yaitu dengan masuk ke penjara. Ketiga, aku ingin kau membuat surat permintaan maaf setiap hari kepada orang tuaku juga padaku. Ke empat, aku ingin kau dan juga anggota keluargamu me- "
" Cukup! " Arthur menatap marah, dia bangkit karena tidak tahan lagi mendengar keinginan James yang begitu di luar kesabarannya.
James tersenyum.
" Berat ya? Kalau begitu pulang saja sana, aku juga tidak menginginkan apapun darimu lagi, silahkan keluar dari ruanganku. "
" Don, semuanya sudah selesai. Kita akhiri saja. " Ucap James melalui sambungan telepon. Setelah Arthur meninggalkan ruangan, James langsung menghubungi Don untuk mengakhiri semua yang terjadi ini tanpa bertele-tele lagi. Bagaimanapun lima persen saham dari yang dimiliki keluarga Arthur sudah bisa di jadikan jembatan untuk menyusup lebih dalam ke sana.
Di tempat lain.
Arthur memukul badan mobilnya karena perasaan kesal yang luar biasa. Rasanya dia benar-benar marah karena James yang dia anggap sangat bodoh dan tidak kompeten itu malah membuatnya tak berdaya seperti ini. Belum lagi saat dia mengatakan untuk mengentikan fantasinya terhadap Anne, Arthur benar-benar merasa terhina yang amat luar biasa.
" Brengsek! Bagaimana bisa aku kesulitan menghadapi si bodoh itu? Padahal selama ini semua berjalan lancar dan selalu bisa aku handle dengan mudah. Sialan! Ini pasti salah Larisa yang tidak kompeten gara-gara memiliki perasaan untuk James bodoh itu. " Gerutu Arthur sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
James dan Don sebenarnya hanya menunggu saja waktu untuk Arthur meninggalkan ruang kerjanya, karena semenjak Arthur datang ke tempat di mana James bekerja, di waktu itulah Larisa datang kesana untuk mencari semua bukti yang di butuhkan untuk menjebloskan Arthur ke dalam penjara. Yah tentunya Larisa berbuat sejauh itu juga karena tekanan dari James dan juga insting untuk menyelamatkan diri yang begitu besar.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan oleh Don dan James, Larisa menyerahkan semua bukti itu dalam bentuk flashdisk kepada Don yang sudah menunggu di tempat mereka janjian. Selesai dengan itu, Don sebentar memeriksa isi flashdisk karena bisa saja Larisa membohonginya kan?
" Aku sudah bilang kalau itu adalah yang sebenarnya kan? Aku tidak mengkopinya karena aku tahu tidak akan ada gunanya lagi nanti. " Ucap Larisa lalu memasang wajah sebal, bagaimanapun dia sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan isi dari flashdisk itu, bukannya mendapatkan ucapan terimakasih, dia malah langsung di curigai begitu saja.
" Yah, bagaimanapun kau kan mantan bawahan Arthur, wajar saja kalau aku harus tetap berhati-hati. "
Beberapa hari kemudian, Arthur di jemput paksa oleh pihak berwenang karena terus mangkir dari panggilan polisi. Berkat semua bukti yang di serahkan pihak James kepada pihak berwenang, akhirnya semua proses berjalan dengan sangat lancar. Arthur yang dulunya sangat sombong dan suka menghina, bahkan tidak jarang memukul saat mereka tumbuh bersama, kini hanya tinggal Arthur yang berteriak marah tak terima sudah di perlakukan seperti penjahat. Tentu saja membagi dia penjahat, hanya saja sangat sedikit sekali kan penjahat yang mau mengakui dirinya benar sebagai penjahat?
" Dasar polisi bodoh! Bagaimana bisa kalian memaksaku begini?! Kalian seharusnya membawa James saja! Dia itu bodoh, tidak berguna, salahkan saja dia karena bisa di bodohi selama ini! " Begitulah secuil kalimat yang mampu di ingat James saat penangkapan itu di laksanakan. Puas, tapi tidak bahagia karena akhirnya dia benar-benar harus memenjarakan orang yang jelas adalah sepupunya. Tapi, setidaknya ini bisa menjadi bukti kepada kakek dan juga pamannya yang selama ini begitu merendahkan dirinya dan juga kedua orang tuanya.
" James, tolong cabut laporanmu ya? Arthur itu kan sepupumu, kalian memiliki darah yang sama, tolong sekali ini saja penuhi keinginan kakek. " Begitulah ucapan dari seorang pria tua yang tak lain adalah kakeknya James dan Arthur. Sebenarnya James merasa heran kenapa wajah tua yang melas itu ya membuatnya iba, tapi saat mengingat sumpah serapah dan juga bagaimana caranya sang kakek memperlakukan dirinya juga Arthur, rasanya bisa di bilang wajar saja jika rasa ibanya sudah habis tak tersisa meksipun wajah tua renta itu terlihat sangat menyedihkan bahkan mengeluarkan air mata pun masih tak bisa menggoyahkan perasaannya.
" Kalau begitu, tolong kembalikan kebahagiaanku sedari kecil yang kau rampas dariku. " Ucapan itulah yang James katakan dan tak ada lagi setelahnya. Sudah cukup, dia tidak ingin berurusan lagi dengan sekarang kakek kandung yang memperlakukan dirinya bagai sampah.
Bersambung.