Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 24 : Nama Yang Berpengaruh



Anne terdiam tak bicara sama sekali, bahkan sampai di restauran tempat mereka ingin makan malam bersama dan saling bertukar pengamanan dalam rumah tangga, Anne juga masih banyak diam. Sesekali dia tersenyum, mengangguk, menggeleng ketika kakaknya bercerita kesana kemari tak memiliki arah yang jelas. Ah entah tak memiliki arah yang jelas ataukah memang Anne yang sama sekali tak mau mendengarkannya dengan benar.


Angel sebenarnya paham benar mengapa Anne terus diam, dia juga ingat benar bagaimana ekspresi Anne ketika dia reflek memeluk James tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Saat melihat James dia benar-benar bahagia hingga tak sabaran dan berlari keluar untuk memeluknya. Untuk membuat Anne tak merasa ada yang aneh dengan mereka, Angel langsung memeluk Anne juga setelahnya. Sayang sekali Anne masih saja terlihat terganggu oleh apa yang dilakukan tadi.


" Anne, bagaimana hubungan mu dengan James setelah menikah? "


Anne yang tadinya tak fokus langsung saja bisa mendengar kalimat lengkap dari mulut Angel begitu nama James di sebut olehnya. Ah, apakah ini perasaan cemburu yang berlebihan? Apakah salah cemburu dengan kakaknya sendiri?


Anne memaksakan senyumnya, saat ini dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana berekspresi, tapi tidak mungkin juga mengabaikan pertanyaan dari Angel kan?


" Hubungan kami baik kak, meksipun tidak tinggal di tempat yang mewah seperti kakak dan kakak ipar tinggal, aku cukup bahagia kok. "


Angel mengangguk mencoba memahami ucapan Anne yang terasa begitu berbeda dengan pendapatnya.


" Aneh, apa James tidak mengajakmu tinggal di rumah yang ada di jalan teratai? "


Anne menatap Angel dengan dahi mengeryit, hal itu membuat Angel tersadar dan segera mengalihkan maksud ucapannya tadi.


" Ah, dulu James pernah bercerita bahwa ketika dia menikah nanti, dia ingin tinggal di jalan teratai karena di sana bangunannya sangat menyatu dengan alam, lumayan jauh juga dari jalan utama sehingga tidak terlalu banyak terkotori oleh polusi udaranya. "


Anne lagi-lagi hanya bisa memaksakan senyumnya. Entah sampai kapan kakaknya akan membuatnya merasa gundah melalui kata-kata nya, tapi percayalah Anne masih memiliki banyak kesabaran dan kekuatan untuk mendengarnya, juga untuk membuat hati James terarah padanya. Memang membutuhkan waktu, juga tida tahun berapa lama waktu yang di butuhkan, tapi keyakinan itu benar-benar begitu kukuh di dalam hati Anne sehingga sulit untuknya menyerah dari pada berjuang.


" Kak, bisa tidak jangan terus membahas James? Dari tadi kakak hanya sibuk menanyakan dan menceritakan tentang James saja, bagaimana kalau menceritakan tentang kak Gerry saja? "


Angel tersenyum kelu, sungguh dia merasa seperti tersenyum oleh ucapan Anne. Iya, dia memang membicarakan James terus menerus menanyakan ini itu sampai lupa kalau tujuannya bertemu Anne adalah untuk sharing tentang kehidupan rumah tangga mereka berdua agar bisa saling membenahi diri sebagai istri. Tapi setelah melihat James tadi dia benar-benar terus memikirkan James sampai lupa tujuan mereka bertemu sekarang ini.


" Gerry, yah dia pria yang baik. Dia memiliki kebiasaan yang aku suka juga ada yang tidak aku suka, sama lah seperti pasangan suami istri lainnya. Tidak ada yang spesial, jadi tidak banyak yang bisa di ceritakan. "


Anne mencengkram kain baju yang ia gunakan, apakah James masih spesial bahkan setelah Kakaknya sudah menjadi istri pria lain? Kenapa wajah Angel terlihat begitu malas saat mengungkit masalah suaminya? Padahal kaki pertama bertemu Gerry, pria itu benar-benar sangat ramah, cara bicaranya memang agak blak-blakan tapi Gerry adalah pria yang baik.


" Kau sendiri apa semuanya baik-baik saja? "


Anne mengangguk sembari tersenyum. Lagi? kenapa Anne seperti merasa kalau kalanya sedang mengharapkan jawaban lain dari pada jawaban yang dari awal sudah ia beritahu? Bukankah dia sudah menanyakan tentang itu tadi? Kenapa jawabannya di awal seperti tak ia terima? Mungkinkah kakaknya masih memiliki perasaan kepada Gerry? Anne sepertinya paham benar bagaimana rasanya menjadi Gerry.


" Kakak sudah menanyakan ini tadi, jawaban ku juga sama seperti di awal. Kami jelas memiliki perbedaan, tapi kami baik-baik saja, dan kami juga harus terus menyesuaikan diri satu sama lain serta menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. "


Angel memaksakan senyumnya, sial dia benar-benar lupa kalai sudah bertanya tadi. Yah, dia tidak bisa bohong dengan mengatakan kalau dia bahagia saat Anne mengatakan hubungannya baik-baik saja, karena bagaimanapun perasaan untuk James yang sudah ia rasakan selama bertahun-tahun itu tidak mudah untuk dia di hilangkan.


" Oh iya, bagaimana kalau akhir pekan besok kita pergi double date? "


Anne segera menggeleng dengan capat. Double date? Sepertinya itu bukan hal yang bagus, dia juga merasa yakin benar kalau James pasti ogah melakukannya.


" Ayolah, coba hubungi James dulu, aku yakin dia pasti mau kok. " Bujuk Angel sembari menghilangkan lengan Anne dengan tatapan memohon membuat Anne risih dan tidak tahan kalau harus terus menolaknya.


" Coba hubungi saja dulu, ya? "


Anne mengeluarkan ponselnya dengan mimik yang jelas ragu, dia tahu benar bagaimana James, jangankan pergi untuk double date, ke mini market berdua dengan Anne saja dia tidak pernah mau.


" Halo kak? Weekend besok ada acara? " Ucap Anne begitu sambungan telepon di ponsel mereka terhubung.


Terdengar James menghela nafas kasarnya seolah mewakili perasaan malas yang sudah pasti akan berujung penolakan.


Aku sibuk, selian harus pergi ke pabrik aku juga harus melihat apartemen baru yang akan kita tinggali nanti.


Anne terdiam karena tahu benar seperti inilah jawaban yang akan dia dapatkan kalau mengajak James bicara, apalagi tujuannya adalah untuk keluar dari apartemen untuk sebentar berlibur.


" Kalau begitu ya sudah, lain kali saja kita pergi double datenya. "


Belum sempat Anne menjauhkan teleponnya, Angel dengan cepat merebut ponsel Anne dan berbicara dengan James.


" Hei, kenapa kau menolak dengan begitu cepat? Kau harus ikut ya? Pokoknya lusa aku tunggu kau di tempat biasa, kau mengerti tidak? " Setelah mengatakan itu Angel tersenyum, yah mungkin saja dia senang karena pada akhirnya James tidak bisa menolak ajakannya.


" Oke, jangan sampai terlambat! "


Angel menutup ponselnya, kau menyerahkan ponsel itu kepada Anne.


" Sudah, jadi lusa kita bisa double date deh. "


Anne mencengkram ponsel yang kini berada di genggamannya. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? James kenapa begitu menuruti Angel sedangkan begitu cepat menolak ajakannya.


Setelah kegiatan itu selesai, Anne kembali ke apartemen di antar oleh Angel.


" Kenapa kau tidak bilang jika ingin double date bersama Angel juga? "


Anne mematung menatap James yang menyambutnya dengan pertanyaan yang hanya membuatnya terus teringat betapa tidak di hargainya dia sebagai seorang istri.


" Apakah kalau aku menyebut nama Angel kau akan langsung menyetujuinya dari awal? "


James terdiam.


" Sadarlah, kak James. Sadarlah kalau kakakku sudah menjadi milik pria lain sekarang. "


Bersambung.